Kalau biasanya cinta ditolak dukun pun bertindak, eits hal ini berbeda dengan kisah di novel satu ini. Punya jargon mantap dan versi halalan thoyyibah yakni: "Saat Cinta Ditolak, Doa Pun Bertindak", sudah terbayang dong betapa asik dan gokilnya novel satu ini!
Identitas Buku
- Judul Buku: Akad
- Penulis: Chanty Romans
- Penerbit: Akad Publishing
- Jumlah Halaman: 440 halaman
Novel Akad karya Chanty Romans, yang diterbitkan oleh Coconut Books, hadir sebagai angin segar dalam dunia literasi Islami. Kisahnya tidak hanya membalut pembaca dalam romansa yang hangat, tetapi juga menyajikan pendidikan agama dan nilai-nilai moral secara halus namun mengena.
Tidak heran jika novel ini telah dibaca lebih dari 3,5 juta kali di Wattpad, menjadikannya salah satu bacaan populer yang layak diapresiasi.
Kisah Illyana: Dari Penolakan hingga Cinta Tak Terduga
Menceritakan tentang Safira Illyana, seorang gadis berusia 18 tahun yang awalnya merasa kecewa karena harus meninggalkan rencananya untuk kuliah demi masuk pesantren, sesuai keinginan sang abi. Penolakan Illyana terhadap keputusan ini cukup bisa dimaklumi—ia ingin menjalani masa muda seperti teman-temannya. Namun hidup selalu punya kejutan.
Di pesantren itu, Illyana bertemu dengan Ustaz Ghaly Abdullah Zaid, seorang ustaz muda, tampan, dan berwibawa yang juga merupakan putra dari pengasuh pesantren, Abbah Zaid. Sosok Ghaly yang alim dan berkarisma, lambat laun menumbuhkan benih cinta di hati Illyana. Tak seperti gadis kebanyakan, Illyana tidak hanya menyimpan perasaannya diam-diam. Ia aktif mengejar cintanya, dengan segala keluguan dan kejenakaan khas anak muda.
Antara Doa dan Usaha: Cinta yang Diuji Nilai
Tagline “Saat cinta ditolak, doa pun bertindak!” menjadi benang merah dari perjalanan Illyana. Meski cintanya tidak langsung bersambut, ia tidak patah semangat. Akad menyajikan kisah cinta yang unik—antara rasa yang membuncah dan batas-batas nilai yang harus dijaga. Kisah ini tidak sekadar tentang jatuh cinta, tetapi juga soal bagaimana mengelola perasaan, menjaga kehormatan, dan menyelaraskan niat dengan takdir Ilahi.
Campuran Rasa: Bikin Baper, Tertawa, dan Tersentuh
Secara emosional, Akad mampu membuat pembaca tertawa oleh tingkah polos Illyana, baper dengan sikap cool-nya Ustaz Ghaly, bahkan menangis dalam beberapa bagian yang menyentuh. Alur ceritanya tidak klise. Chanty Romans cerdas membangun konflik dan kejutan, membuat pembaca betah mengikuti perkembangan kisah halaman demi halaman.
Bukan hanya itu, narasi Chanty juga disisipkan dengan ilmu agama yang membumi. Pembaca seperti diajak bertumbuh bersama Illyana: memahami arti sabar, ikhlas, dan mencintai dalam diam tanpa kehilangan martabat. Inilah kekuatan utama novel Akad—ia menghibur sekaligus mendidik, tanpa terkesan menggurui.
Nilai Plus: Representasi Cinta dalam Bingkai Pesantren
Yang membuat Akad berbeda adalah setting-nya yang Islami dan jarang diangkat secara ringan dalam fiksi populer. Banyak novel remaja membahas percintaan di sekolah atau kampus, tapi Akad memilih latar pesantren, yang selama ini kerap dianggap terlalu sakral untuk cerita cinta. Chanty membuktikan bahwa cinta juga bisa tumbuh di tempat yang agamis—asal dibalut dalam etika dan keimanan.
Bacaan yang Ringan Tapi Berisi
Akad adalah bacaan yang cocok untuk remaja dan dewasa muda yang sedang mencari novel cinta Islami yang tidak lebay, tapi juga tidak kaku. Chanty Romans berhasil menyuguhkan kisah ringan dengan isi yang berbobot. Novel ini memotivasi pembaca untuk tidak hanya mencintai seseorang, tetapi juga mencintai proses hijrah, belajar, dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Jika kamu mencari novel yang bisa membuatmu tersenyum, tertawa, sekaligus merenung, maka Akad adalah pilihan yang tepat. Karena di balik kejaran cinta Illyana, tersimpan pelajaran hidup yang manis dan penuh hikmah.
Baca Juga
-
Menyusuri Lorong Rindu dalam Antologi Puisi Bertemu di Temaram
-
Krisis 1998 dan Pentingnya Kepemimpinan di Masa Sulit
-
Rakyat Bukan Tim Sorak Kekuasaan, Pejabat Digaji Memang untuk Bekerja
-
Menemukan Pulang di Tengah Keramaian Jalan Margonda dalam Buku Zhitara
-
Ketika Kampus Negeri Tak Lagi Ramah bagi Kelas Menengah
Artikel Terkait
-
Pernah Bayangin Hidup Jadi Hewan? 3 Novel China Ini Bahas Reinkarnasi Unik
-
Membeli Buku karena Covernya: Antara Gaya Hidup dan Kebiasaan Membaca
-
Bakar Buku Kontes Kecantikan, Ivan Gunawan Fokus Bangun Masjid di Uganda Sebagai Warisan
-
Novel The Hen Who Dreamed She Could Fly: Arti Tujuan Hidup dari Seekor Ayam
-
Ulasan Buku How to Say Babylon: Membebaskan Diri dari Rantai Patriarkal
Ulasan
-
Review Drama Korea Your Honor: Ketika Keadilan Tak Lagi Hitam Putih
-
Novel Bandung Menjelang Pagi: Sisi Gelap Kota Kembang ala Brian Khrisna
-
Menyusuri Lorong Rindu dalam Antologi Puisi Bertemu di Temaram
-
Obsesi Viral: Bagaimana Film Baru Warkop DKI Menyentil Fenomena 'Haus Validasi' di Medsos?
-
Review The Wizard of Oz: Dongeng Klasik tentang Perjalanan Menemukan Diri
Terkini
-
Demam Piala Dunia Dimulai: Dari Stadion ke Kebahagiaan Hidup yang Bermakna
-
AI Memang Tidak Menghakimi, Tapi Apakah Curhat ke ChatGPT Benar-benar Menyehatkan?
-
Makeup Anti-Luntur! 4 Setting Spray Mulai Rp38 Ribu untuk Kulit Berminyak
-
6 Poin Kritis dr. Tirta di Tengah Carut-Marut Kebijakan: Dari Pertamax hingga Makan Bergizi Gratis
-
Ketika Masyarakat Apatis, Siapa yang Mengawasi Kebijakan Negara?