Film The Conjuring: Last Rites muncul dengan membawa beban berat, yakni jadi penutup perjalanan panjang Ed dan Lorraine Warren. Namun, Sobat Yoursay perlu tahu, ini bukan tentang setan gentayangan, tapi perihal takut kehilangan.
Masih disutradarai Michael Chaves, di bawah naungan Warner Bros. Pictures dan New Line Cinema, film ini kembali mempercayakan peran ikoniknya pada Ed Warren (Patrick Wilson) dan Lorraine (Vera Farmiga). Kasus yang mereka hadapi kali ini adalah Smurl Haunting di Pennsylvania tahun 1986, teror rumah tangga yang konon menghantui keluarga hingga ke akar kesehariannya.
Sekilas klise, kisahnya sebatas rumah berhantu. Bedanya kali ini film nggak lagi bicara tentang benturan manusia dengan makhluk gaib semata. Ada sesuatu yang lebih senyap, lebih menusuk, dan jauh lebih manusiawi, yakni rasa takut kehilangan orang tercinta.
Ed Warren dalam film ini digambarkan semakin rapuh (jantungnya lemah dan tubuhnya nggak lagi sekuat dulu). Lorraine pun semakin dibebani penglihatan yang terus menggerogoti tenaga dan jiwanya terkait usia yang ibaratnya menuntut harga.
Letak horor sesungguhnya tuh bukan pada pintu yang terbuka sendiri, bukan pada suara seretan rantai dari loteng, tapi pada kenyataan kalau Ed bisa saja tumbang kapan saja. Lorraine bisa saja kehabisan tenaga. Keduanya, yang dulu nggak tergoyahkan, kini digambarkan sebagai manusia yang mulai kalah sama waktu dan usia.
Sampai detik ini aku selalu percaya, horor terbaik adalah yang dekat dengan hidup kita. Dan ‘Last Rites’ menghadirkan itu. Film ini menyingkap cinta sejati bukan tentang berdiri gagah di depan setan atau iblis, melainkan tentang bertahan di sisi pasangan ketika tubuh nggak lagi setangguh dulu. Dan tentang penerimaan takdir, bahwa suatu hari, entah kapan, ‘salah satu’ akan lebih dulu pergi.
Bukankah itu ketakutan yang paling horor melebihi penampakan setan?
Sebagian besar penonton film horor (tentunya) datang untuk satu hal, jumpscare. Kita menunggu lampu padam, kursi berderit, bayangan yang tiba-tiba melintas. Eh, tapi, kalau dipikir-pikir, kehidupan sehari-hari juga sudah banyak jumpscare-nya. Bedanya, nggak dibubuhi efek suara mencekam.
Orang tua kita yang tiba-tiba terlihat renta. Pasangan yang mulai sering ke dokter. Sahabat yang dulu kuat, kini berbicara dengan suara lebih pelan. Semua itu adalah jumpscare yang nggak butuh sinematografi rumit. Di titik satu inilah, ‘The Conjuring: Last Rites’ terasa menohok.
Betewe, film ini menegaskan satu hal lho. Doa, salib, atau ritual pengusiran setan memang bisa jadi senjata melawan iblis. Hanya saja, bagaimana dengan waktu? Nggak ada doa yang cukup ampuh untuk menghentikan usia. Nggak ada eksorsisme yang bisa mengusir takutnya ‘rasa kehilangan’.
Ed dan Lorraine tahu itu. Dan kita pun tahu itu. Hanya saja, apa yang bisa kita lakukan? Hanya satu: Mencintai lebih erat, bahkan ketika tahu cinta nggak bisa menghentikan waktu dan usia.
Sebagai penutup saga, Film The Conjuring: Last Rites mungkin nggak sempurna secara formula horor. Namun, secara emosional, film ini menutup kisah Ed dan Lorraine dengan cara yang jauh lebih dalam ketimbang sebatas menampilkan setan.
Film ini bikin diriku pulang dengan satu pertanyaan, “Apakah aku siap kehilangan orang yang paling kucintai? Dan mungkin, inilah horor sejati terkait ‘kehilangan yang nggak pernah bisa dihindari’, hanya bisa dihadapi dengan cinta yang tulus sampai akhir.
Di tengah situasi politik saat ini, coba deh tetap sempatkan nonton. Film ini sudah tayang di bioskop (lebih awal dari tanggal rilis resmi). Sudahkah Sobat Yoursay nonton Film The Conjuring: Last Rites?
Baca Juga
-
Teror Tanpa Jumpscare Berlebihan, 'Kucing Hitam' Buktikan Horor Atmosferik Lebih Mengerikan
-
Ulasan Propeller One-Way Night Coach: Film yang Asyik Curhat Sendiri
-
Review Film Renoir: Ketika Kita Terlalu Remehkan Perasaan Anak
-
Monster Sesungguhnya Adalah Trauma: Mengulas Sisi Gelap Film 'Badut Gendong'
-
Writing with Fire Bukan Film, Mengulik Orang-Orang yang Menolak Dibungkam
Artikel Terkait
Ulasan
-
Menyusuri Jejak Peradaban Islam di Baghdad Lewat Catatan Hamka
-
Ulasan Drama Unnatural Fire, Tiga Detektif Kebakaran Penyingkap Tabir Kelam
-
Antidot Budaya Konsumtif: Mengapa Mahakarya Tolstoy Tahun 1886 Semakin Relevan Sekarang?
-
Teror Tanpa Jumpscare Berlebihan, 'Kucing Hitam' Buktikan Horor Atmosferik Lebih Mengerikan
-
Guru Juga Bisa Kecewa: Membaca Aib dan Martabat Karya Dag Solstad
Terkini
-
Film Crayon Shin-chan ke-33 Rilis Trailer Baru, Ungkap Lagu Tema oleh TOMOO
-
Simak! Ini Modus Baru Penipuan Digital yang Sedang Marak di Indonesia dan Dunia
-
Siap-siap Tertawa! Ge Pamungkas Bakal Rilis Stand-up Spesial GOAT di Netflix
-
Tak Hanya iPhone, OPPO Find X9 Ultra Bisa Upload Story Instagram Lebih HD!
-
MEOVV Tampilkan Pesona Elegan Tapi Garang di Lagu Terbaru, Ddi Ro Ri