Sekar Anindyah Lamase | Athar Farha
Foto Series The East Palace (Netflix)
Athar Farha

Dinasti Joseon kembali menjadi latar drama Korea, tapi kali ini istana bukan sekadar tempat perebutan takhta atau kisah cinta para bangsawan. Di balik tembok megahnya, roh-roh gentayangan, kutukan turun-temurun, dan rahasia keluarga kerajaan menjadi ancaman yang jauh lebih mengerikan. 

Melalui Series The East Palace, Netflix menghadirkan drama horor fantasi berlatar sejarah yang memadukan aksi, misteri, dan mitologi Korea dalam delapan episode yang dirilis sekaligus pada 17 Juli 2026.

Series ini diproduksi Showrunners dan Imaginus untuk Netflix, disutradarai Choi Jung-kyu, serta skrip ditulis Kwon So-ra dan Seo Jae-won. Pemeran utamanya diisi Nam Joo-hyuk sebagai Gu-cheon, Roh Yoon-seo sebagai Saeng-gang, dan Cho Seung-woo sebagai sang raja. Jang Young-nam turut tampil sebagai Queen Dowager yang menjadi salah satu poros penting dalam konflik cerita.

Kisah bermula setelah kematian misterius Putra Mahkota yang dikaitkan dengan roh penghuni kolam istana. Tragedi itu memunculkan ramalan seluruh garis keturunan kerajaan akan segera berakhir. Demi menghentikan kutukan tersebut, sang raja memanggil Gu-cheon, si pembasmi roh yang mampu keluar masuk dunia arwah. 

Gu-cheon kemudian dipasangkan dengan Saeng-gang, dayang yang memiliki kemampuan mendengar suara orang mati. Bersama-sama mereka menyelidiki berbagai peristiwa ganjil di Istana Timur, hingga perlahan menemukan ancaman terbesar bukan hanya berasal dari makhluk gaib, melainkan rahasia yang selama bertahun-tahun disembunyikan keluarga kerajaan.

Menarik banget kisahnya, ya, Sobat Yoursay? Buruan cek Netflix, deh!

Saat Kutukan Hanyalah Akibat, Bukan Penyebab Teror

Foto Series The East Palace (Netflix)

Delapan episode dirilis sekaligus di Netflix memang sangat mungkin ditamatkan dalam sehari. Itulah yang kualami. Bukan karena setiap episodenya pendek, melainkan karena setiap akhir episode selalu meninggalkan teka-teki baru yang membuatku terus menekan tombol ‘episode berikutnya’. Rasa penasaran itulah yang membuat The East Palace seperti bacaan novel misteri yang sulit ditutup sebelum halaman terakhir.

Daya tarik pertama series ini tentu terletak pada visualnya. Choi Jung-kyu membangun dunia supranatural dengan pendekatan yang sangat sinematik. Adegan pertarungan melawan roh dibuat cepat, brutal, dan disertai koreografi yang mengingatkan pada anime aksi. Tata rias makhluk gaib, penggunaan efek praktis, hingga CGI yang menyatu dengan lingkungan membuat ancaman di layar kelihatan seru banget. 

Namun, semakin jauh cerita berjalan, aku merasa horor bukanlah poin utama dari Series The East Palace. Melainkan bagaimana series ini perlahan menggeser fokus dari sosok hantu menuju manusia. Roh-roh memang jadi ancaman yang terlihat, tapi akar persoalannya lahir dari keputusan manusia yang memilih menyembunyikan kebenaran. Kutukan terasa seperti akibat, bukan penyebab.

Series ini ibarat mempertanyakan bagaimana kekuasaan bekerja. Ketika musibah datang, yang lebih dulu dijaga bukan keselamatan semua orang, melainkan kehormatan istana. Kebenaran menjadi sesuatu yang bisa ditunda, bahkan dikorbankan, selama citra kerajaan tetap utuh.

Meski berlatar Dinasti Joseon, gagasan itu sangat dekat dengan kehidupan sekarang. Berkali-kali kita melihat bagaimana sebuah institusi lebih sibuk mengendalikan informasi daripada menyelesaikan akar persoalan. Series The East Palace memang nggak mengatakannya secara gamblang, tapi membiarkan penonton menyimpulkan sendiri kebohongan yang dibiarkan dan diwariskan turun-temurun seringkali jauh lebih berbahaya ketimbang ‘makhluk’ yang diburu.

Hubungan Gu-cheon dan Saeng-gang pun menjadi penyeimbang yang menyenangkan. Chemistry keduanya nggak dipaksa menjadi kisah romantis. Meski begitu, series ini bukan berarti tanpa celah, ya. Memasuki pertengahan, cerita mulai terlalu gemar melempar plot twist. Beberapa kejutan memang berhasil, tapi ada juga yang rasanya kayak cuma ngejar efek kaget ketimbang memperkuat logika cerita. Penambahan aturan-aturan baru dalam dunia supranatural juga sedikit mengganggu ritme sehingga bagian akhir nggak sekuat awalnya.

Meski demikian, kekurangan tersebut nggak sampai menghilangkan pesona Series The East Palace. Nuansa horornya tetap terjaga, aksi yang ditawarkan memuaskan, sementara misterinya cukup kuat untuk membuatku terus bertahan hingga episode terakhir.

Nah, kalau Sobat Yoursay penasaran dengan perpaduan horor, fantasi, dan misteri politik istana, The East Palace layak masuk daftar tontonan akhir pekan. Selamat menonton.