Dalam deretan film horor komedi Indonesia terbaru, film Pesugihan Sate Gagak muncul sebagai tontonan yang ringan tapi absurd.
Yup, film ini mengocok perut lewat trio konyol yang siap menantang batas logika. Film ini membawa suasana yang segar di tengah ramainya film bergenre horor-komedi tahun ini lho.
Seriusan deh. Film yang disutradarai Etienne Caesar dan Dono Pradana, diproduksi Cahaya Pictures ini mengisahkan tiga sahabat: Anto (diperankan Ardit Erwandha), Dimas (Yono Bakrie), dan Indra (Benedictus Siregar), yang hidupnya serba pas-pasan tiba-tiba tergoda melakukan ritual pesugihan dengan sesajen nggak biasa, yakni sate gagak!
Terdengar gila? Tunggu dulu, karena dari kegilaan itulah tawa demi tawa bermunculan tanpa henti.
Yakin Nggak Mau Nonton?
Sini deh merapat. Aku bakal kasih tahu daya tarik film ini secara tuntas. Yang menarik pertama jelas ada pada chemistry antara tiga pemeran utamanya: Ardit, Beni, dan Yono. Ketiganya seperti sudah terlahir untuk saling menimpali kekonyolan masing-masing.
Beni dengan wajah pasrah dan nasib apes-nya sukses jadi ‘korban abadi’ dalam setiap adegan. Dia seolah-olah magnet yang menarik semua masalah, tapi juga jadi sumber tawa paling besar.
Ardit tampil sebagai sosok paling percaya diri. Gaya bicaranya cepat, gestur meyakinkan, tapi ujung-ujungnya malah bikin runyam. Sementara Yono adalah tipe teman yang licik tapi kocak; selalu punya ide nyeleneh yang malah menjerumuskan mereka bertiga.
Ketiganya seperti versi baru dari grup komedi yang natural, alias nggak dibuat-buat, dan tahu betul kapan harus menahan dan melepaskan punchline.
Makin Kepo, Kan? Harus Dong!
Kalau dilihat dari segi naskah, film Pesugihan Sate Gagak sebenarnya punya formula sederhana. Tiga sekawan miskin yang nekat mencari jalan pintas demi uang. Namun, yang membuatnya menarik tuh improvisasi para aktor. Banyak momen terasa spontan. Dialog mereka seperti percakapan nyata di tongkrongan yang kemudian berubah jadi kekacauan lucu.
Beni, misalnya, kerap jadi ‘punching bag’ dari dua temannya. Nah, reaksi tulusnya, yang mulai dari ekspresi panik, wajah polos, dan gestur gugup, semua tawa mengalir natural deh. Beberapa adegan terasa seperti hasil improvisasi langsung di lokasi dan itulah pesonanya.
Nggak hanya trio utama, film ini juga diperkuat Nunung dan Arief Didu yang bikin film makin hidup. Setiap kali muncul, tawa langsung pecah deh.
Ritualnya Itu Lho Nggak Bisa Nggak Nahan Tawa
Komedi gokilnya terjadi saat trio ini akhirnya melakukan ritual pesugihan yang konon bisa memberi kekayaan instan. Dari sinilah film berubah jadi parade kegilaan.
Ada unsur mistik, tapi dikemas dengan gaya satir dan parodi yang cerdas, juga ketelanjangan. Serius, deh, mereka telanjang! Gokil banget!
Salah satu adegan yang paling memorable adalah ketika mereka kebingungan harus menyiapkan sate gagak sungguhan. Adegan ini diisi dengan dialog spontan dan situasi konyol yang bikin diriku nggak berhenti tertawa.
Memang sih, momen-momen seperti ini mengingatkan pada film Agak Laen, tapi kali ini versi Pesugihan Sate Gagak yang jauh lebih nekat tapi juga down to earth. Yang benar-benar menggambarkan orang biasa, terlalu berani main-main dengan hal gaib.
Meski bukan film dengan visual megah, film Pesugihan Sate Gagak cukup berhasil menciptakan atmosfer urban yang hidup dan relevan. Hanya saja, beberapa bagian sinematografinya terasa butuh perhatian lebih, terutama pada adegan malam hari yang agak gelap dan kurang tajam.
Buat keseluruhannya, bagiku film Pesugihan Sate Gagak adalah komedi segar yang berhasil memadukan absurditas, kritik sosial, dan improvisasi organik dalam satu sajian ringan. Nggak perlu berharap plot yang rumit, cukup nikmati kekonyolan mereka bertiga yang dengan jujur mencerminkan kehidupan banyak orang yang rela melakukan apa saja demi uang.
Kalau Sobat Yoursay suka film Agak Laen atau film Srimulat: Hil yang Mustahal, film ini wajib kamu tonton. Bukan hanya karena lucu, tapi juga karena punya hati dan kejujuran dalam komedinya. Selamat nonton ya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Foufo Membuktikan Sci-Fi dari Indonesia Nggak Perlu Mengekor Hollywood
-
Pencarian Identitas yang Menyayat Hati: Mengapa Abandoned di Disney+ Lebih dari Sekadar Dokumenter
-
Review Film Moana: Saat Disney Kembali Berlayar dalam Balutan Live-Action
-
Review Color Book: Meramu Duka Menjadi Perjalanan Cinta yang Begitu Tulus
-
Film Shelter Membuktikan Jason Statham Bisa Berhenti Menjadi Mesin Pembunuh
Artikel Terkait
-
Noah Centineo Diincar Main Film Gundam Live-Action Bareng Sydney Sweeney
-
Poster Toy Story 5 Dirilis, Woody dan Buzz Hadapi Tantangan Era Digital
-
4 Fakta Menarik dari Teaser Film Alas Roban, Janjikan Teror dari Kawasan Paling Angker di Pantura
-
Perjalanan Kelam Hanung Bramantyo Bikin Film Kritik Sosial: Mobil Dipecah hingga BAP di Mabes Polri
-
4 Fakta Menarik Film Esok Tanpa Ibu, Ketika Teknologi Digunakan untuk Menghapus Duka
Ulasan
-
Layak Tonton atau Lewatkan? Kupas Tuntas Film Moana Live Action 2026
-
Lebih dari Sekadar Kungfu: Mengapa Tai Chi Master adalah Film Jet Li yang Paling Ngenes?
-
Ulasan "Limited Time", Novel Korea dengan Kisah Remaja yang Menyentuh
-
Drama Study Group, Ketika Hierarki Sekolah Ditentukan oleh Kekuatan Fisik
-
Review Dokumenter The Man Will Burn: Ketika Eksperimen Sosial Berbenturan dengan Ambisi Miliarder
Terkini
-
Mudah Dipakai Pemula! 5 Liquid Eyeliner untuk Hasil Garis Tajam dan Presisi
-
BabyMonster Rilis MV 'I Like It': Cara Jenius Taklukkan Musim Panas dengan Keberanian!
-
Dari Istana ke Paspor: Mengapa Politik Menentukan Kesempatan Kerja?
-
FH UNY Berdayakan UMKM Desa Galuhtimur Lewat Legalitas Hukum & Inovasi Produk
-
Tim FIP UNY Bekali Guru PCM Tonjong Modul Ajar Berbasis Deep Learning