Hayuning Ratri Hapsari | Ruslan Abdul Munir
Tangkap layar film The Housemaid (YouTube/@moviefone)
Ruslan Abdul Munir

Film The Housemaid yang dirilis pada bulan Desember 2025 di bawah bendera Lionsgate menandai keberhasilan monumental dalam genre thriller psikologis yang berfokus pada audiens perempuan. Disutradarai oleh Paul Feig, film ini merupakan adaptasi dari novel terlaris karya Freida McFadden tahun 2022.

Proses adaptasi The Housemaid ke layar lebar tentunya melibatkan tim produksi yang memahami kekuatan dari novel aslinya. Rebecca Sonnenshine sebagai penulis skenario berhasil menerjemahkan plot yang penuh dengan kejutan (plot twists) dari novel McFadden menjadi narasi visual yang mencekam.

Meskipun Paul Feig lebih dikenal dengan film seperti Bridesmaids, keputusannya untuk terjun ke genre thriller psikologis melalui The Housemaid merupakan sebuah langkah berani yang cukup berhasil.

Cerita pada film The Housemaid berpusat pada Millie Calloway, seorang wanita muda yang baru saja dibebaskan dari penjara dan sedang menjalani masa bebas bersyarat.

Millie, yang diperankan oleh Sydney Sweeney, berada dalam posisi yang sangat rentan, di mana ia tidak memiliki rumah dan terpaksa tidur di dalam mobilnya sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga untuk keluarga Winchester yang sangat kaya raya.

Keluarga Winchester, yang tinggal di sebuah rumah mewah yang terisolasi di Long Island, tampak sebagai keluarga sempurna pada pandangan pertama.

Namun, dinamika di dalam rumah tersebut segera berubah menjadi medan pertempuran psikologis. Nina Winchester, sang nyonya rumah yang diperankan oleh Amanda Seyfried, ditampilkan sebagai karakter yang tidak stabil, sering mengalami ledakan kemarahan yang tidak terduga, dan memberikan instruksi yang membingungkan kepada Millie.

Di sisi lain, Andrew Winchester (Brandon Sklenar) digambarkan sebagai suami yang penyabar, menawan, dan sering kali membela Millie dari perlakuan kasar Nina.

Susana tegang dan mencekam dalam film ini dibangun melalui penggunaan ruang yang sangat mendukung. Loteng tempat Millie tinggal menjadi simbol penindasan, dengan jendela yang tidak bisa dibuka dan pintu yang hanya bisa dikunci dari luar.

Seiring berjalannya cerita, audiens dibawa untuk meragukan siapa pelaku sebenarnya dan siapa korbannya, sebuah kiasan klasik dari genre thriller yang dieksekusi dengan presisi oleh sang sutradara.

Hal ini yang membuat menarik dalam alur cerita film The Housemaid, audiens akan dikejutkan dengan plot twist yang tidak biasa.

Akting para pemain dalam hal ini patut diapresiasi karena sangat merepresentasikan sebuah thriller psikologis. Sydney Sweeney misalnya tampil sebagai Millie dengan karakter yang rapuh, tertahan, tapi perlahan menunjukkan lapisan emosi yang kompleks dalam dirinya.

Amanda Seyfried sangat mencuri perhatian dengan aktingnya sebagai Nina Winchester. Karakternya terlihat sangat ambigu, labil, emosional, kadang tampak sebagai korban, kadang justru terasa mengancam.

Akting yang dibangun oleh Brandon Sklenar sebagai Andrew Winchester juga memberikan plot twist yang tak terduga sebelumnya. Karakternya diawal yang terlihat berwibawa, penuh perhatian, ternyata menyimpan sisi lain dalam dirinya yang terlihat kejam, licik, dan sangat manifulatif.

Dari segi visual film ini juga sangat mendukung, rumah keluarga Winchester difilmkan seperti karakter itu sendiri, mewah, estetik, namun penuh dengan teka-teki. 

Film The Housemaid ini sangat cocok untuk kamu yang menyukai genre thriller psikologis dengan ketegangan yang cukup intens dan konsisten. Film ini bukan yang mengandalkan aksi atau jumpscare dalam memberikan kesan yang mencekam.

Film ini sangat cocok untuk kamu yang tertarik untuk menikmati cerita tentang manipulasi, dengan karakter-karakter yang sulit di tebak, serta suka menganalisis detail kecil dan perubahan setelah plot twistnya terungkap.