Aku pernah bersumpah kepada Allah. Ikrar itu masih utuh, tak pernah pudar dari ingatan: menjaga keutuhan rumah tangga, apa pun yang terjadi.
Waktu berjalan. Luka-luka perlahan belajar diam. Pelupuk mata tak lagi basah oleh air mata. Namun, puasa tahun ini terasa lain. Ada yang hilang dari rutinitas sahur dan berbuka, sebuah ruang kosong yang tak bisa diisi doa semata. Rinduku tumbuh pelan, berakar. Penyesalan datang bukan sebagai tangis, melainkan robekan halus di batin yang sulit dijahit kembali.
Menjelang azan magrib, aku masih terperangkap di lautan kendaraan ibukota. Klakson bersahutan, lampu rem menyala seperti barisan doa yang tertahan. Pekerjaanku sebagai pegawai kantor sekaligus penyiar radio malam seringkali mencuri waktu, membuat pertemuanku dengan Nun terjeda oleh jarak dan jadwal.
Nun. Perempuan berkerudung itu begitu lembut wajahnya dan tenang sorot matanya. Dialah yang selama ini menata hari-hari empat anak laki-lakiku di rumah, tanpa banyak bicara, tanpa meminta pengakuan.
Ponselku bergetar. Pesan singkat masuk darinya: menanyakan apakah aku bisa berbuka bersama. Dia menambahkan, tak perlu mampir membeli apa pun karena hidangan sudah disiapkan terlalu banyak.
Aku menelepon. “Sebentar lagi, Nun,” kataku.
Setelah sambungan terputus, napasku terasa lebih panjang dari biasanya. Jantung berdebar tanpa sebab yang jelas. Saat kendaraan mulai mendekati rumah, tanganku gemetar di atas setir. Ada gugup yang tak bisa kusembunyikan.
Inilah pertemuan kami, setelah lama terpisah oleh ruang, jarak, dan waktu.
***
Aku membuka pintu rumah.
“Papaaaaah ....” Jibril, anakku paling kecil berlari seraya merekahkan bibir. “Ril kangen, jangan keseringan pergi lagi.” Dia mendekapku dengan sangat girang di ambang pintu masuk.
Aku menekuk lutut, meraba wajahnya yang polos, lalu memeluk balik. “Papah juga kangen.”
Setelah itu, sesaat aku mengedarkan mata ke arah meja makan. Tidak ada ketiga anakku yang lain. Lantas aku mengangkat tubuh Jibril. Jibril melengkungkan kedua lengannya ke sekitar tengkukkuseperti bergayutlenganku menopang berat tubuhnya.
Aku merasakan hati mulai mendung. Namun, pada detik selanjutnya, aku terpukau melihat kedua sudut bibir yang ditarik menciptakan panorama separuh bulan dari paras Nun. Cantik. Sungguh.
“Ridwan dan Mikail sekarang merantau,” katanya, "bahkan si sulung juga demikian. Aku yakin pernah mengabarkan hal ini, tapi tak ada balasan darimu. Mungkin bukan kau yang membaca pesan yang kukirim padamu. "
Aku tertunduk.
Tidak lama berselang, kumandang azan magrib terdengar. Alhamdulillah, puasa hari pertama lancar. Di ruang makan, Nun menyajikan semangkuk bubur kacang merah, serta secangkir teh manis hangat sebagai pembatal utama. Kami bercengkrama seperti biasa layaknya suami istri.
Aku memuji masakan di atas meja. Satu per satu, seperlunya. Rasa hangatnya tinggal di lidah, tak sampai ke dada. Tanganku ingin bergerak, ingin menarik kursi lebih dekat, tapi tubuhku memilih tetap di tempatnya.
Meja kayu jati berbentuk persegi ini menjadi batas yang tak kami sepakati, tapi sama-sama kami patuhi.
Nun duduk di seberang. Punggungnya tegak. Jarak kami dekat, tapi terasa sejauh keputusan yang pernah kamu ambil.
Nun menata piring anak-anak dengan telaten, menyodorkannya tanpa menyentuh tanganku. Semua yang dia lakukan selalu punya alasan: anak-anak.
Nun tersenyum ketika aku berbicara, senyum yang rapi dan terjaga. Namun di baliknya, matanya redup, seperti langit yang menahan hujan. Aku menangkapnya sesaat sebelum dia menunduk kembali, pura-pura sibuk mengisi gelas.
Aku tak mengatakan apa-apa. Nun pun tidak.
Dan di antara bunyi sendok, doa berbuka, serta aroma makanan yang kian mendingin, aku paham ada kesedihan yang sengaja kami simpan rapi, agar tak tumpah di hadapan anak-anak.
Penyesalan kini datang tanpa aba-aba.
Tubuhku mendadak ringan, bukan karena lega, melainkan seperti kehilangan pijakan. Bahuku merosot, napas tertahan lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu yang merambat dari dada ke lengan, mencengkeram pelan, lalu mengencang. Panas. Kering. Seolah-olah ada bara kecil yang ditiup pelan-pelan di dalam hatiku.
Aku menunduk. Bagaimana bisa aku setega ini meninggalkan perempuan yang menerima hidupku apa adanya? Nun tak pernah menuntut kehadiranku utuh. Dia paham pekerjaanku, jarakku, ketidakmampuanku menjaga mereka setiap saat. Bahkan amarah pun tampak tak menetap di wajahnya.
“Puasaku hari ini kuat, Pah,” ujar Jibril tiba-tiba.
Aku menoleh.
“Alhamdulillah. Hebat kamu, Nak.”
Nun tak menimpali. Dia hanya terkekeh pelan, tangannya mengusap rambut Jibril yang keriting kecokelatan.
***
Dan di momen inilah, kenangan seperti bandul jam yang ditarik paksa ke belakang. Iya, ingatanku jatuh pada satu malam, saat rumah sunyi dan anak-anak terlelap. Lampu kamar redup. Nun duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak, matanya menatap lantai. Dia membicarakan hal-hal yang tak pernah kami berani sentuh di siang hari, yakni noda-noda pernikahan yang telah berusia sewindu, jauh sebelum kata talak menemukan bentuknya.
“Anak-anak itu cerminan perilaku kita,” kata Nun pelan. “Aku cuma ingin mereka bahagia, meski harapan kita sudah tak sama.” dia menarik napas, lama. “Kalau kau memilih jalan itu, aku memilih bertahan menunggumu. Tapi bukan untuk dimadu.” dia pun tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip perpisahan. “Meski halal dan diperbolehkan, hati perempuan tidak sekuat baja. Aku manusia biasa. Aku tak mampu berbagi.” Tangannya kemudian mengepal di atas sprei. “Kau berbahagialah nanti di sana. Tak perlu menyesal. Ketika mereka dewasa, ketimbang kau berbuat diam-diam dan berujung dosa, menikahlah lagi saja. Dan… ceraikan aku.”
Kata-katanya itu jatuh begitu saja. Dan aku tak pernah benar-benar bersiap menanggung akibatnya.
***
Buka bersama selesai. Aku bersiap pergi menuju kantor radio sebagai bentuk tanggung jawab penyiar malam yang tidak dapat digantikan penyiar lain begitu saja. Sebelum enyah, Nun dan Jibril memberikan semacam kotak yang dibungkus kertas oranye, warna kesukaanku. Mereka ternyata ingat hari ulang tahun diriku yang lebih sering meninggalkan rasa sakit. Nun mewanti-wanti supaya bingkisan tidak dibuka sekarang. Aku menurut.
Ketika kaki melangkah menuju teras. Yusuf, anak yang begitu mirip denganku pulang seraya menenteng tas. Aku segera memeluknya. Dia si sulung berhidung mancung dengan sepasang mata bening, tinggi, kurus, dan berkulit sawo matang.
Yusuf mendekapku. “Ibu tadi malam menelepon. Papah sepertinya bakal ke sini, jadi saya pulang izin libur sehari dari kerjaan di Bandung. Yusuf kangen ...,” dan meneteskan air mata lalu segera diusap. ‘Jika sekarang mau pulang, papah hati-hati, ya. Saya bisa memaklumi istri baru papah yang tidak bisa ditinggal jauh apalagi lama.”
Nun mendekat, kami saling berpelukan. Aku pulang.
***
Di tengah perjalanan, aku penasaran isi di dalam bingkisan itu. Sembari menyetir, sebelah tanganku berusaha merobek kertas pembungkus, lalu mengambil sesuatu di dalamnya berupa sarung dan baju muslim disertai selembar kertas bertuliskan pesan: Jadilah imam yang baik bagi istri dan anak-anakmu.
Aku terus membaca berulang kali, sampai-sampai aku tidak memperhatikan rambu lalulintas. Lampu merah diterobos begitu saja, hingga cahaya terang dari samping menerjang, menghantam, dan memelantingkan mobilku. []
Purbalingga, 31 Des 2025
Baca Juga
-
Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan, Seberapa Nyesek Film Ini?
-
Aksi Domba Memecahkan Kasus Pembunuhan Dalam Film The Sheep Detectives
-
Film Semua Akan Baik-Baik Saja dan Lelahnya Jadi Dewasa yang Harus Kuat
-
Menilik Kukungan Mama Atas Nama Kasih Sayang Film Crocodile Tears
-
Remarkably Bright Creatures, Nggak Semua Luka Butuh Ditangisi
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Drama Spring Fever, Drama Romcom yang Memberikan Banyak Pelajaran Kehidupan
-
Stylish buat Traveling, Intip 4 Ide OOTD Warna Hitam ala Kazuha LE SSERAFIM
-
Tayang 2027, Anime GATE 2 Rilis Key Visual Baru dan Proyek Lagu Penutup
-
4 Tone Up Cream SPF 50 untuk Wajah Glowing dan Terproteksi ala Eonni Korea
-
iPad Mini Killer? OPPO Pad Mini Bawa Spek Gahar dan Layar AMOLED 144 Hz!