Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya karya Reda Gaudiamo adalah kumpulan cerpen yang merayakan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Buku ini tidak berbicara tentang tokoh luar biasa, konflik besar, atau peristiwa heroik.
Sebaliknya, Reda mengajak pembaca menengok kehidupan orang-orang yang sering kita temui, sapa, bahkan abaikan dan menyadari bahwa di balik kebiasaan yang tampak biasa, selalu ada cerita yang layak didengar.
Buku ini berisi tiga puluh cerita pendek yang berdiri sendiri, tetapi terhubung oleh satu benang merah: kehidupan orang-orang biasa.
Reda Gaudiamo menghadirkan kisah tentang pedagang kecil, pembeli pasar, pekerja, keluarga, dan individu-individu dengan rutinitas sederhana.
Salah satunya tergambar lewat “kios pasar sore”, sebuah ruang kecil yang menjadi saksi berbagai pertemuan, percakapan, harapan, dan kelelahan hidup.
Dalam setiap cerita, Reda mengangkat fragmen kehidupan yang sering luput dari perhatian. Ada cerita yang hangat dan lucu, ada pula yang pahit dan menyayat.
Pembaca diajak melihat bahwa hidup tidak pernah benar-benar datar. Setiap orang menyimpan perjuangan, kerinduan, ketakutan, dan kebahagiaan kecil yang jarang terucap.
Tanpa menggurui, buku ini membuat kita bercermin dan bertanya: jangan-jangan kita juga adalah “orang biasa” yang ceritanya layak dituliskan.
Sebagai kumpulan cerpen, buku ini tidak memiliki satu alur besar. Setiap cerita memiliki alur masing-masing, umumnya alur maju dengan potongan peristiwa yang ringkas.
Beberapa cerita berakhir terbuka, seolah menyerahkan kelanjutan kisah kepada imajinasi pembaca. Alur yang sederhana ini justru menjadi kekuatan karena memberi ruang bagi emosi dan pesan untuk bekerja perlahan, tanpa paksaan.
Gaya bahasa Reda Gaudiamo adalah sederhana, liris, dan intim. Kalimat-kalimatnya tidak rumit, tetapi penuh rasa.
Reda piawai menangkap detail kecil, gerak tubuh, nada bicara, kebiasaan sepele, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang bermakna.
Humornya tipis dan natural, muncul dari situasi sehari-hari, bukan dari lelucon yang dibuat-buat. Di beberapa cerita, bahasanya terasa melankolis, sunyi, dan mengendap lama di kepala pembaca.
Kelebihan utama buku ini terletak pada kepekaan pengarang dalam membaca kehidupan. Reda Gaudiamo mampu membuat cerita tentang orang-orang biasa terasa dekat dan jujur.
Pembaca tidak merasa sedang membaca fiksi yang jauh dari realitas, melainkan potongan hidup yang mungkin pernah dialami sendiri.
Variasi emosi dalam cerpen juga menjadi nilai tambah. Dalam satu cerita pembaca bisa tersenyum, lalu di cerita berikutnya terdiam karena rasa perih yang tiba-tiba muncul.
Selain itu, format cerita pendek membuat buku ini fleksibel untuk dibaca kapan saja tanpa harus menuntaskan semuanya sekaligus.
Bagi pembaca yang menyukai konflik besar atau plot yang kuat dan dramatis, buku ini mungkin terasa terlalu tenang. Beberapa cerita berakhir sangat cepat dan meninggalkan kesan “menggantung”, yang bisa terasa kurang memuaskan bagi sebagian pembaca.
Selain itu, karena temanya serupa, kehidupan orang bias ada risiko pembaca merasa nuansanya berulang jika dibaca sekaligus dalam waktu singkat.
Buku ini sangat cocok untuk pembaca yang menyukai cerita realis, humanis, dan slice of life. Pembaca dewasa, penikmat sastra reflektif, atau mereka yang senang mengamati manusia dan keseharian akan menemukan banyak hal yang relevan di sini.
Buku ini juga pas bagi pembaca yang ingin jeda dari bacaan berat dan penuh konflik.
Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya paling nikmat dibaca perlahan di sore hari, saat jeda kerja, atau sebelum tidur.
Buku ini cocok menemani waktu-waktu hening ketika pembaca ingin merenung dan merasa ditemani, tanpa perlu berpikir terlalu keras.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Novel No Place Like Home: Ketika Rumah Tak Selalu Berarti Pulang
-
Analisis Cerpen Robohnya Surau Kami: Kritik A.A. Navis tentang Ibadah Tanpa Amal
-
7 Our Family: Luka Keluarga dari Sudut Anak Paling Terlupakan
-
Belajar Self-Love dari Buku Korea 'Aku Nggak Baper, Kamu Yang Lebay'
-
Novel Stranger, Kisah Emosional Anak dan Ayah dari Dunia Kriminal
Artikel Terkait
-
Merawat Luka Keluarga dalam Novel 7 Our Family Karya Kusdina Ain
-
CERPEN: Sketsa di Halaman 127
-
Ulasan Novel Perfect Partner: Menjadi Pasangan Tak Cukup dengan Cinta
-
Ulasan Buku Nak, Belajar Soal Uang Adalah Bekal Kehidupan: 4 Tahap Bangun Kekayaan
-
Ulasan Buku The Soft Power of Madrasah: Potret Inspiratif yang Tak Berisik
Ulasan
-
Novel No Place Like Home: Ketika Rumah Tak Selalu Berarti Pulang
-
Cara Elegan Melipat Luka Patah Hati dan Menjaga Cinta Lewat Novel Origami Hati
-
Review Serial Dear X: Transformasi Kim Yoo-jung Menjadi Sosok Antagonis yang Menakutkan
-
Ulasan Novel Earthshine: Beban Skripsi, Luka Mental, dan Dilema Hubungan
-
Analisis Cerpen Robohnya Surau Kami: Kritik A.A. Navis tentang Ibadah Tanpa Amal
Terkini
-
CERPEN: Sepenggal Kenangan Menggelitik di Senin Sore
-
Generasi Anti Komitmen: Mengungkap Sisi Gelap Situationship yang Makin Populer
-
Menggugat Swasembada Semu! Jangan Biarkan Petani Sekarat Demi Gengsi Statistik
-
Tentang Menata Kembali Hidup Pascabencana Sumatra
-
John Herdman dan Dronegate yang Membuatnya Cenderung Cocok untuk Melatih Timnas Indonesia