Film We Bury the Dead adalah sebuah thriller horor survival zombie yang dirilis pada 2025, disutradarai dan ditulis oleh Zak Hilditch, sineas Australia yang sebelumnya dikenal lewat film seperti These Final Hours dan adaptasi Stephen King 1922.
Dibintangi Daisy Ridley sebagai pemeran utama Ava, film ini juga menampilkan Mark Coles Smith sebagai Riley, Brenton Thwaites sebagai Clay, dan Matt Whelan sebagai Mitch. Dengan durasi 94 menit, film ini diproduksi oleh Gramercy Park Media dan didistribusikan oleh Vertical Entertainment di AS.
Mayat Tak Mau Diam: Harapan dan Horor di Tasmania Pasca-Kiamat
Cerita berlatar di Tasmania pasca-bencana militer, di mana senjata eksperimental AS meledak secara tidak sengaja, membunuh ratusan ribu orang dan menghidupkan kembali sebagian mayat sebagai undead yang semakin ganas. Tema utamanya mengeksplorasi duka, kehilangan, dan harapan palsu di tengah kiamat zombie.
Plot film ini mengikuti Ava, seorang terapis fisik asal Amerika yang bepergian ke Tasmania untuk mencari suaminya, Mitch, yang hilang saat ledakan terjadi. Ia bergabung dengan unit pemulihan mayat yang ditugaskan mengumpul dan mengubur korban, dengan harapan menemukan jawaban atas nasib suaminya.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Ava dan timnya menyadari bahwa mayat-mayat itu bukan sekadar bangkit mereka berevolusi menjadi ancaman yang lebih cerdas dan agresif. Cerita dibangun secara lambat, fokus pada perjalanan emosional Ava daripada aksi laga zombie konvensional.
Hilditch menggunakan elemen zombie sebagai metafor untuk grief, di mana undead merepresentasikan kenangan yang tak mau pergi, dan upaya mengubur mereka mencerminkan proses penyembuhan yang rumit. Tanpa spoiler ya teman-teman, di akhir film memberikan twist yang menyentuh, meski agak prediktabel bagi penggemar genre.
Review Film We Bury the Dead
Kalau dari segi aktingnya sendiri, Daisy Ridley tampil impresif sebagai Ava. Mantan bintang Star Wars ini menunjukkan kedalaman emosi yang jarang terlihat di film horor, dengan ekspresi wajah yang menyampaikan rasa bersalah, marah, dan duka tanpa dialog berlebih.
Aksennya yang Amerika terdengar shaky di awal, tapi itu justru menambah rasa asing Ava di tanah asing. Mark Coles Smith sebagai Riley, rekan Ava, memberikan dukungan solid dengan karisma alami, sementara Brenton Thwaites sebagai Clay menambahkan elemen ketegangan interpersonal. Ensemble cast lainnya, termasuk Kym Jackson sebagai Lieutenant Wilkie, melengkapi dinamika tim yang terasa autentik, seperti keluarga sementara di tengah kekacauan.
Sutradara Zak Hilditch berhasil membedakan film ini dari zombie movie standar seperti The Walking Dead atau 28 Days Later. Alih-alih fokus pada gore berlebih, ia memilih pendekatan kontemplatif dan mournful. Sinematografi oleh Aaron McLisky menangkap keindahan suram Tasmania—abu tebal menyelimuti lanskap, menciptakan atmosfer claustrophobic yang mirip The Road Cormac McCarthy.
Efek visual undead sederhana tapi efektif: mereka mulai lambat dan tidak berbahaya, tapi evolusi mereka menambah ketegangan. Sound design juga patut dipuji, dengan suara desahan mayat yang haunting dan musik minimalis oleh Michael Yezerski yang memperkuat tema isolasi.
Yang jadi sorotan utamaku adalah pacing yang lambat di paruh pertama, yang mungkin membuat kalian ketika nonton jadi cepat bosan sebelum klimaks. Beberapa subplot, seperti dinamika militer, terasa underdeveloped, dan twist akhir kurang inovatif dibanding premis awal.
Jadi bisa kusimpulkan, We Bury the Dead adalah film zombie yang lebih cerdas dan emosional daripada kebanyakan. Ini menggunakan trope undead untuk mengeksplorasi tema manusiawi seperti hubungan pernikahan yang rusak, penebusan, dan ketidakmampuan melepaskan masa lalu.
Untuk performa Ridley dan premis sudah sangat inventif dan satu lagi kurasa ceritanya kurang orisinal. Buat kamu penggemar horor psikologis seperti It Comes at Night atau The Invitation, ini benar-benar wajib tonton sih! Tapi kalau kamu mencari aksi zombie yang penuh darah, mungkin kamu bakalan kecewa. Film ini layak dapat rating 7/10 dariku solid tapi tidak revolusioner.
Di Indonesia, We Bury the Dead tayang di bioskop mulai 9 Januari 2026, terutama di jaringan Cinema XXI dan CGV. Jadwal tayang tersedia di berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, dengan format 2D standar. Tiket bisa dipesan via aplikasi 21Cineplex atau situs resmi bioskop. Rilis ini sedikit lebih lambat dari Amerika Serikat (2 Januari 2026) dan Australia (5 Februari 2026), tapi tepat waktu untuk penggemar horor lokal yang haus cerita zombie unik. Pastikan cek rating usia—film ini rated R karena kekerasan dan tema dewasa ya, Sobat Yoursay.
Dengan durasi pendek dan fokus pada karakter, film ini cocok untuk ditonton di bioskop besar untuk pengalaman imersif. Kalau kamu suka cerita tentang survival emosional di akhir dunia, We Bury the Dead menawarkan perspektif segar. Meski bukan masterpiece, film ini membuktikan zombie genre masih punya ruang untuk berinovasi.
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Drama China A Romance of the Little Forest: Cinta Tumbuh Seperti Tanaman
-
Buku Sehat Setengah Hati, Cara Mudah Memperbaiki Pola Hidup
-
Film Jay Kelly: Sebuah Drama Komedi yang Hangat dan Mendalam
-
Tragedi Berdarah di Balik Kelamnya Janur Ireng: Sewu Dino The Prequel
-
Film Caught Stealing: Petaka Maut di Balik Titipan Kucing