Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
No Hard Feelings (Dok. Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Di dunia kerja modern, emosi sering kali diperlakukan sebagai sesuatu yang harus ditekan, disembunyikan, atau bahkan dihilangkan. Profesionalisme kerap disalahartikan sebagai kemampuan untuk “tidak baper” dan selalu tampil rasional.

Buku No Hard Feelings karya Liz Fosslein dan Mollie West Duffy hadir untuk membongkar anggapan tersebut. Alih-alih menyingkirkan emosi dari ruang kerja, buku ini justru mengajak kita memahami, mengelola, dan memanfaatkannya secara sehat.

Isi Buku No Hard Feelings

Sejak bab pertama, pembaca dihadapkan pada dua kebenaran yang tidak nyaman namun penting. Pertama, perasaan bukanlah fakta. Emosi adalah sinyal, bukan realitas objektif.

Kedua, memproses emosi secara efektif bukan hanya memungkinkan kita “membawa diri sepenuhnya” ke tempat kerja, tetapi juga membawa versi terbaik dari diri kita.

Dua premis ini menjadi fondasi utama buku yang membahas kecerdasan emosional (emotional intelligence/EQ) secara praktis dan relevan.

Salah satu konsep kunci yang ditawarkan adalah pentingnya “waktu 1:1 bersama diri sendiri”. Kesadaran diri bukan keterampilan yang selesai sekali dipelajari, melainkan proses seumur hidup. Kita terus berubah, begitu pula konteks kerja dan relasi sosial di sekitar kita.

Karena itu, membandingkan diri dengan rekan kerja yang tampak selalu tenang dan terkendali hanya akan menjebak kita dalam asumsi keliru. Setiap orang memiliki emosi; perbedaannya terletak pada seberapa sadar dan terampil mereka mengelolanya.

Buku ini mendorong refleksi melalui pertanyaan-pertanyaan mendasar: apa yang membuat kita stres, apa yang menenangkan, di mana kekuatan dan keterbatasan kita, serta kualitas apa yang ingin dikembangkan.

Dengan mengenali pola emosi dan dampaknya terhadap pikiran serta perilaku, kepercayaan diri di tempat kerja justru tumbuh. Bukan dari kepura-puraan, melainkan dari kejujuran pada diri sendiri.

Tahap berikutnya adalah manajemen diri, yakni kemampuan mengendalikan respons emosional secara sehat. Fosslein dan Duffy menekankan bahwa emosi tidak boleh dibiarkan mengambil alih tindakan. Pendekatan tiga langkah yang ditawarkan cukup sederhana namun efektif.

Mengenali emosi yang muncul, mengidentifikasi penyebab dasarnya secara jujur, lalu mengambil tindakan untuk memutus siklus emosi negatif. Ini penting karena lingkungan kerja, dari level staf hingga pimpinan membutuhkan individu yang konsisten, bukan yang reaksinya bergantung pada suasana hati.

Kelebihan dan Kekurangan Buku

Buku ini juga memberi perhatian besar pada empati dan kesadaran sosial. Memahami bahwa rekan kerja membawa beban masing-masing. Tenggat waktu, klien sulit, atau masalah pribadi. Membantu kita berkomunikasi dengan lebih manusiawi. Empati bukan berarti membenarkan semua perilaku, tetapi memahami konteks emosional di baliknya.

Dalam aspek kepemimpinan dan relasi, No Hard Feelings menegaskan pentingnya keaslian. Manajemen hubungan yang sehat dibangun melalui komunikasi jujur. 

Kemampuan memberi umpan balik konstruktif, keberanian meminta maaf, serta kesiapan mengelola konflik. Pemimpin yang efektif bukanlah yang tanpa emosi, melainkan yang mampu bersikap selektif dan bertanggung jawab dalam mengekspresikannya.

Delapan bab dalam buku ini. Mulai dari kesehatan, motivasi, pengambilan keputusan, kerja tim, hingga budaya dan kepemimpinan, menunjukkan satu benang merah. Emosi selalu hadir di tempat kerja. Mengabaikannya hanya akan memperumit masalah.

Dengan memperkuat EQ melalui kesadaran diri, pengelolaan emosi, empati, dan relasi yang sehat, kita tidak hanya menjadi pekerja yang lebih efektif, tetapi juga manusia yang lebih utuh. Emosi bukan musuh profesionalisme, ia justru bagian darinya.

Identitas Buku

  • Judul: No Hard Feelings (Cara Mengelola Perasaan agar Sukses di Pekerjaan) 
  • Penulis: Liz Fosslien & Mollie West Duffy
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 2023
  • ISBN: 9786-0-206-7299-1
  • Tebal: 304 Halaman
  • Kategori: Non Fiksi