Di dunia kerja modern, emosi sering kali diperlakukan sebagai sesuatu yang harus ditekan, disembunyikan, atau bahkan dihilangkan. Profesionalisme kerap disalahartikan sebagai kemampuan untuk “tidak baper” dan selalu tampil rasional.
Buku No Hard Feelings karya Liz Fosslein dan Mollie West Duffy hadir untuk membongkar anggapan tersebut. Alih-alih menyingkirkan emosi dari ruang kerja, buku ini justru mengajak kita memahami, mengelola, dan memanfaatkannya secara sehat.
Isi Buku No Hard Feelings
Sejak bab pertama, pembaca dihadapkan pada dua kebenaran yang tidak nyaman namun penting. Pertama, perasaan bukanlah fakta. Emosi adalah sinyal, bukan realitas objektif.
Kedua, memproses emosi secara efektif bukan hanya memungkinkan kita “membawa diri sepenuhnya” ke tempat kerja, tetapi juga membawa versi terbaik dari diri kita.
Dua premis ini menjadi fondasi utama buku yang membahas kecerdasan emosional (emotional intelligence/EQ) secara praktis dan relevan.
Salah satu konsep kunci yang ditawarkan adalah pentingnya “waktu 1:1 bersama diri sendiri”. Kesadaran diri bukan keterampilan yang selesai sekali dipelajari, melainkan proses seumur hidup. Kita terus berubah, begitu pula konteks kerja dan relasi sosial di sekitar kita.
Karena itu, membandingkan diri dengan rekan kerja yang tampak selalu tenang dan terkendali hanya akan menjebak kita dalam asumsi keliru. Setiap orang memiliki emosi; perbedaannya terletak pada seberapa sadar dan terampil mereka mengelolanya.
Buku ini mendorong refleksi melalui pertanyaan-pertanyaan mendasar: apa yang membuat kita stres, apa yang menenangkan, di mana kekuatan dan keterbatasan kita, serta kualitas apa yang ingin dikembangkan.
Dengan mengenali pola emosi dan dampaknya terhadap pikiran serta perilaku, kepercayaan diri di tempat kerja justru tumbuh. Bukan dari kepura-puraan, melainkan dari kejujuran pada diri sendiri.
Tahap berikutnya adalah manajemen diri, yakni kemampuan mengendalikan respons emosional secara sehat. Fosslein dan Duffy menekankan bahwa emosi tidak boleh dibiarkan mengambil alih tindakan. Pendekatan tiga langkah yang ditawarkan cukup sederhana namun efektif.
Mengenali emosi yang muncul, mengidentifikasi penyebab dasarnya secara jujur, lalu mengambil tindakan untuk memutus siklus emosi negatif. Ini penting karena lingkungan kerja, dari level staf hingga pimpinan membutuhkan individu yang konsisten, bukan yang reaksinya bergantung pada suasana hati.
Kelebihan dan Kekurangan Buku
Buku ini juga memberi perhatian besar pada empati dan kesadaran sosial. Memahami bahwa rekan kerja membawa beban masing-masing. Tenggat waktu, klien sulit, atau masalah pribadi. Membantu kita berkomunikasi dengan lebih manusiawi. Empati bukan berarti membenarkan semua perilaku, tetapi memahami konteks emosional di baliknya.
Dalam aspek kepemimpinan dan relasi, No Hard Feelings menegaskan pentingnya keaslian. Manajemen hubungan yang sehat dibangun melalui komunikasi jujur.
Kemampuan memberi umpan balik konstruktif, keberanian meminta maaf, serta kesiapan mengelola konflik. Pemimpin yang efektif bukanlah yang tanpa emosi, melainkan yang mampu bersikap selektif dan bertanggung jawab dalam mengekspresikannya.
Delapan bab dalam buku ini. Mulai dari kesehatan, motivasi, pengambilan keputusan, kerja tim, hingga budaya dan kepemimpinan, menunjukkan satu benang merah. Emosi selalu hadir di tempat kerja. Mengabaikannya hanya akan memperumit masalah.
Dengan memperkuat EQ melalui kesadaran diri, pengelolaan emosi, empati, dan relasi yang sehat, kita tidak hanya menjadi pekerja yang lebih efektif, tetapi juga manusia yang lebih utuh. Emosi bukan musuh profesionalisme, ia justru bagian darinya.
Identitas Buku
- Judul: No Hard Feelings (Cara Mengelola Perasaan agar Sukses di Pekerjaan)
- Penulis: Liz Fosslien & Mollie West Duffy
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Tahun Terbit: 2023
- ISBN: 9786-0-206-7299-1
- Tebal: 304 Halaman
- Kategori: Non Fiksi
Baca Juga
-
Menjadi Minoritas, Menjadi Dewasa: Membaca Sekosong Jiwa Kadaver
-
Berani Bilang 'Tidak', itu Bukan Dosa
-
Etika Membawa Tumbler: Mengapa Barista Berhak Menolak Wadah yang Tidak Higienis?
-
Buku Broken Strings: Memoar Keberanian Aurelie Moeremans Menyembuhkan Luka
-
Novel Sunset Bersama Rosie: Menunda Hanyalah Awal dari Petaka
Artikel Terkait
-
Banyak Rumah Produksi Mau Angkat Buku Broken Strings ke Layar Lebar, Aurelie Moeremans Kaget
-
Andien Ungkap Trauma Masa Lalu Usai Membaca Buku 'Broken Strings' Aurelie Moeremans
-
Ceritanya Viral, Begini Cara Beli Buku Fisik Broken Strings Karya Aurelie Moeremans
-
Buku Ternyata Tanpamu, Memaknai Perpisahan ala Natasha Rizky
-
Bikin Pembaca Kesal, Siapa Sosok Kelly di Buku Broken Strings Aurelie Moeremans?
Ulasan
-
Menjadi Minoritas, Menjadi Dewasa: Membaca Sekosong Jiwa Kadaver
-
Film The 400 Blows: Kritik Pedas di Sistem Pendidikan Prancis yang Kaku
-
Lebih Mencekam! Inilah Alur dan Daftar Pemain Film Horor Return to Silent Hill
-
Buku Ternyata Tanpamu, Memaknai Perpisahan ala Natasha Rizky
-
Cinta Antara Jakarta dan Kuala Lumpur: Novel Tere Liye Minim Konflik dengan Rasa yang Mendalam