Bukan Salah Hujan adalah novel karya Ummu Amalia Misbah atau yang lebih dikenal dengan nama pena Ummuchan. Novel ini menghadirkan kisah kehilangan, penyangkalan, dan upaya berdamai dengan masa lalu. Melalui metafora yang sederhana namun sarat makna yaitu hujan.
Sejak halaman pertama, pembaca langsung diajak masuk ke dunia Randu. Seorang lelaki yang hidupnya runtuh sejak kepergian Rindu. Kehilangan itu membuat Randu menyimpan keyakinan keliru. Bahwa hujan adalah penyebab segala hal buruk yang menimpanya. Setiap kesedihan, setiap peristiwa pahit, seolah selalu ia kaitkan dengan hujan yang turun.
Pandangan inilah yang kemudian diluruskan oleh kehadiran Nadi. Nadi bukan sekadar karakter baru, melainkan sosok yang perlahan mengubah cara pandang Randu terhadap masa lalu, terhadap hujan, bahkan terhadap kehidupan itu sendiri.
Sinopsis Novel
Melalui Nadi, pembaca diajak memahami gagasan utama novel ini. Tidak semua hal buruk yang terjadi saat hujan turun adalah salah hujan. Ada kalanya, kesalahan lahir dari pilihan dan keputusan manusia sendiri. Namun hujan dijadikan kambing hitam demi memperoleh pemakluman dari sekitar.
Daya tarik novel ini terasa kuat dari gaya penceritaannya. Sejak awal, pembaca seolah sedang mendengarkan para tokoh berbicara secara langsung. Ide ceritanya sebenarnya sederhana, namun dieksekusi dengan gaya yang asyik dan komunikatif.
Ummuchan menyelipkan banyak kalimat menarik, terutama dari tokoh Pak Tua, yang sering hadir sebagai suara kebijaksanaan sekaligus refleksi sosial. Novel ini terbagi menjadi enam bagian, dengan penggunaan sudut pandang orang pertama dan orang ketiga yang bergantian. Perbedaan suara antar tokoh terasa jelas, menunjukkan usaha penulis dalam membangun karakter yang hidup dan berlapis.
Cerita Bukan Salah Hujan tidak berhenti pada apa yang tampak di permukaan. Ada banyak rahasia dan konflik masa lalu, terutama yang berkaitan dengan Nadi, yang baru terungkap seiring berjalannya cerita.
Di bagian awal, alurnya memang cenderung lambat karena fokus pada pengenalan kehidupan dan latar tokoh. Namun memasuki sekitar halaman seratus, konflik mulai mengemuka dan alur bergerak lebih cepat, bahkan terasa agak terburu-buru. Di titik ini, pembaca mungkin berharap cerita diberi ruang lebih panjang agar klimaks dan akhir kisah bisa dikembangkan dengan lebih kuat.
Kelebihan Novel
Menariknya, membaca novel ini terasa seperti menonton film atau membaca skenario. Visualisasi adegannya mudah dibayangkan, dan beberapa deskripsi mengandung gagasan kuat yang terasa seperti titipan pemikiran penulis.
Hal ini selaras dengan kutipan tokoh Lepaw tentang fungsi fiksi sebagai sarana kritik dan penyampaian pendapat secara halus dan merdu. Kompleksitas karakter menjadi nilai tambah tersendiri. Mulai dari Randu, Rindu, Nadi, Pak Tua, hingga Yoga. Bab Sebentar Saja menjadi salah satu bagian paling mencuri perhatian karena memberi ruang bagi Yoga untuk bersuara, sesuatu yang tak terduga namun menyegarkan.
Kekurangan Novel
Secara simbolik, cerita ini bisa dilihat berangkat dari dua objek utama: hujan dan hotdog. Hujan menjadi latar suasana dan metafora emosional, sementara hotdog hadir sebagai ekspresi yang mendominasi, terutama melalui karakter Nadi. Sayangnya, meski sering muncul, hotdog terasa lebih sebagai tempelan daripada simbol yang benar-benar digali maknanya secara mendalam.
Penggunaan banyak sudut pandang dan lompatan waktu membuat novel ini menarik, tetapi juga berpotensi membingungkan. Perpindahan karakter dan waktu yang terjadi tanpa penanda jelas membuat beberapa pembaca merasa “hilang” di tengah cerita.
Secara keseluruhan, Bukan Salah Hujan adalah novel yang reflektif dan cukup menggugah. Alurnya membuat penasaran, karakternya kompleks, dan ending-nya manis. Cukup membuat pembaca tersenyum sendiri.
Meski masih memiliki ruang untuk diperbaiki, terutama dari sisi penyuntingan dan kejelasan struktur, novel ini menunjukkan ide cerita yang kuat dan potensi besar. Sebuah bacaan yang mengingatkan kita bahwa tidak semua air mata harus disalahkan pada hujan.
Identitas Buku
- Judul: Bukan Salah Hujan
- Penulis: Ummuchan (Ummu Amalia Misbah)
- Penerbit: Grasindo
- Tahun Terbit: 2018
- Tebal: 226 Halaman
- ISBN: 978-602-452-652-8
Baca Juga
-
Jejak Liar Chairil Anwar dalam Buku Puisi Aku Ini Binatang Jalang
-
Menyusuri Langit Bersama Ulugh Beg dalam Buku The Prince of Stars
-
Seni Jatuh Cinta ala Aisyah Putri: Dilema Remaja yang Relatable Banget!
-
Bukan Sekadar Membaca: Wajah Nyata Krisis Literasi Modern
-
Membaca yang Bermartabat: dari Buku Asli untuk Literasi Sejati
Artikel Terkait
Ulasan
-
Sebuah Mahakarya Dokumenter: A Gorilla Story Jadi Warisan David Attenborough di Rimba Rwanda
-
Hindia dan Dipha Barus Bicara Soal Generational Trauma di Lagu Baru "Nafas"
-
Memaknai Simbol Lagu 'Cicak-Cicak di Dinding' dalam Film Ghost in the Cell
-
Wolf Girl and Black Prince: Saat Si Tsundere Kyouya Sata Menjinakkan Si Pembohong Erika
-
Keserakahan & Egoisme Berkemas Genre Fantasi Vampir dalam Diabolik Lovers
Terkini
-
Mitos Sekolah Negeri Gratis: Menakar Hidden Cost di Balik Label Favorit
-
Wajah Kusam Polusi? Ini 5 Sheet Mask Charcoal untuk Detoks Kulit!
-
Dibintangi Andrew Garfield, Film The Uprising Siap Tayang September 2026
-
Alex Rins Resmi Hengkang dari Yamaha, Didepak Diam-diam?
-
Jaring Pengamanku Berhenti, tapi Beban Hidup Terus Menanti: Refleksi Seorang Penerima Beasiswa