Novel Bukan Salah Hujan: Kenapa Kita Selalu Mencari Kambing Hitam?

Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Novel Bukan Salah Hujan: Kenapa Kita Selalu Mencari Kambing Hitam?
Bukan Salah Hujan (Dok.Pribadi/Oktavia)

Bukan Salah Hujan adalah novel karya Ummu Amalia Misbah atau yang lebih dikenal dengan nama pena Ummuchan. Novel ini menghadirkan kisah kehilangan, penyangkalan, dan upaya berdamai dengan masa lalu. Melalui metafora yang sederhana namun sarat makna yaitu hujan.

Sejak halaman pertama, pembaca langsung diajak masuk ke dunia Randu. Seorang lelaki yang hidupnya runtuh sejak kepergian Rindu. Kehilangan itu membuat Randu menyimpan keyakinan keliru. Bahwa hujan adalah penyebab segala hal buruk yang menimpanya. Setiap kesedihan, setiap peristiwa pahit, seolah selalu ia kaitkan dengan hujan yang turun.

Pandangan inilah yang kemudian diluruskan oleh kehadiran Nadi. Nadi bukan sekadar karakter baru, melainkan sosok yang perlahan mengubah cara pandang Randu terhadap masa lalu, terhadap hujan, bahkan terhadap kehidupan itu sendiri.

Sinopsis Novel

Melalui Nadi, pembaca diajak memahami gagasan utama novel ini. Tidak semua hal buruk yang terjadi saat hujan turun adalah salah hujan. Ada kalanya, kesalahan lahir dari pilihan dan keputusan manusia sendiri. Namun hujan dijadikan kambing hitam demi memperoleh pemakluman dari sekitar. 

Daya tarik novel ini terasa kuat dari gaya penceritaannya. Sejak awal, pembaca seolah sedang mendengarkan para tokoh berbicara secara langsung. Ide ceritanya sebenarnya sederhana, namun dieksekusi dengan gaya yang asyik dan komunikatif.

Ummuchan menyelipkan banyak kalimat menarik, terutama dari tokoh Pak Tua, yang sering hadir sebagai suara kebijaksanaan sekaligus refleksi sosial. Novel ini terbagi menjadi enam bagian, dengan penggunaan sudut pandang orang pertama dan orang ketiga yang bergantian. Perbedaan suara antar tokoh terasa jelas, menunjukkan usaha penulis dalam membangun karakter yang hidup dan berlapis.

Cerita Bukan Salah Hujan tidak berhenti pada apa yang tampak di permukaan. Ada banyak rahasia dan konflik masa lalu, terutama yang berkaitan dengan Nadi, yang baru terungkap seiring berjalannya cerita.

Di bagian awal, alurnya memang cenderung lambat karena fokus pada pengenalan kehidupan dan latar tokoh. Namun memasuki sekitar halaman seratus, konflik mulai mengemuka dan alur bergerak lebih cepat, bahkan terasa agak terburu-buru. Di titik ini, pembaca mungkin berharap cerita diberi ruang lebih panjang agar klimaks dan akhir kisah bisa dikembangkan dengan lebih kuat.

Kelebihan Novel 

Menariknya, membaca novel ini terasa seperti menonton film atau membaca skenario. Visualisasi adegannya mudah dibayangkan, dan beberapa deskripsi mengandung gagasan kuat yang terasa seperti titipan pemikiran penulis.

Hal ini selaras dengan kutipan tokoh Lepaw tentang fungsi fiksi sebagai sarana kritik dan penyampaian pendapat secara halus dan merdu. Kompleksitas karakter menjadi nilai tambah tersendiri. Mulai dari Randu, Rindu, Nadi, Pak Tua, hingga Yoga. Bab Sebentar Saja menjadi salah satu bagian paling mencuri perhatian karena memberi ruang bagi Yoga untuk bersuara, sesuatu yang tak terduga namun menyegarkan.

Kekurangan Novel

Secara simbolik, cerita ini bisa dilihat berangkat dari dua objek utama: hujan dan hotdog. Hujan menjadi latar suasana dan metafora emosional, sementara hotdog hadir sebagai ekspresi yang mendominasi, terutama melalui karakter Nadi. Sayangnya, meski sering muncul, hotdog terasa lebih sebagai tempelan daripada simbol yang benar-benar digali maknanya secara mendalam.

Penggunaan banyak sudut pandang dan lompatan waktu membuat novel ini menarik, tetapi juga berpotensi membingungkan. Perpindahan karakter dan waktu yang terjadi tanpa penanda jelas membuat beberapa pembaca merasa “hilang” di tengah cerita.

Secara keseluruhan, Bukan Salah Hujan adalah novel yang reflektif dan cukup menggugah. Alurnya membuat penasaran, karakternya kompleks, dan ending-nya manis. Cukup membuat pembaca tersenyum sendiri.

Meski masih memiliki ruang untuk diperbaiki, terutama dari sisi penyuntingan dan kejelasan struktur, novel ini menunjukkan ide cerita yang kuat dan potensi besar. Sebuah bacaan yang mengingatkan kita bahwa tidak semua air mata harus disalahkan pada hujan.

Identitas Buku

  • Judul: Bukan Salah Hujan
  • Penulis: Ummuchan (Ummu Amalia Misbah)
  • Penerbit: Grasindo 
  • Tahun Terbit: 2018 
  • Tebal: 226 Halaman
  • ISBN: 978-602-452-652-8

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak