Mendidik anak di zaman sekarang itu susah-susah gampang. Apalagi untuk generasi yang lahir di era teknologi ketika kecerdasan buatan semakin berkembang. Pengetahuan tentang apapun bisa diakses oleh anak. Jika tanpa filter yang tepat, teknologi bisa menjadi pedang bermata dua yang bermanfaat sekaligus bisa merusak.
Hal tersebut menyebabkan semakin besarnya tantangan di dunia pendidikan ketika sekolah tidak lagi menjadi tempat satu-satunya untuk belajar. Sebab, dengan teknologi, akses ilmu dan infomasi semakin terbuka lebar.
Meski dari dalam rumah, seorang anak bisa terhubung dengan pengetahuan apapun. Oleh karena itu, orang tua yang punya peran sebagai guru pertama bagi anak-anak perlu bekal tentang bagaimana menjadi seorang pendidik agar bisa mendampingi anak saat belajar di mana pun berada.
Pembahasan tersebut bisa ditemukan dalam buku berjudul Home Learning: Belajar Seru Tanpa Batas. Buku yang ditulis oleh Natalia Ridwan, Ning Nathan, dan Yulianti Hendra ini bisa menjadi bacaan yang memberi inspirasi tentang bagaimana pendidikan bisa dimulai dari dalam rumah.
Buku ini membahas tentang pentingnya kehadiran orang tua dalam menemani tumbuh kembang anak-anaknya, beberapa ide aktivitas di rumah untuk belajar bersama anak, hingga hal-hal seputar homeschooling.
Pada era informasi saat ini, seorang anak yang berstatus sebagai pelajar bukan lagi sekedar penyerap dan penghafal informasi. Mereka bukan pula peserta ujian. Tapi mereka harus dibentuk untuk bisa menjadi pencari ilmu yang tepat, penyaring informasi yang baik, dan pengambil keputusan yang bijak.
Anak-anak yang tumbuh sebagai generasi Alpha dan Beta adalah mereka yang hidup sebagai digital native. Mereka bisa belajar di mana saja namun masih tetap membutuhkan pendidik. Dari sinilah model pendidikan 3.0 yang berpusat pada anak bisa diimplementasikan.
Pendidikan 3.0 adalah metode pendidikan yang dapat disesuaikan dan bebas dipilih sesuai kebutuhan anak. Anak menjadi pembelajar mandiri dan tidak bergantung pada guru. Di sinilah penulis menjelaskan alasan mengapa homeschooling adalah salah satu alternatif yang paling cocok untuk mengimplementasikan metode pendidikan 3.0.
Meskipun mungkin tidak semua pembaca ingin menerapkan homeschooling untuk anak-anaknya, namun apa yang dibahas oleh penulis tentang beberapa pendekatan dasar homeschooling tetap relevan untuk diaplikasikan oleh siapa saja. Khususnya tentang beberapa ide belajar untuk anak usia pra sekolah.
Beberapa hal yang cukup berkesan bagi saya adalah penjelasan penulis tentang memanfaatkan 5 tahun pertama anak dengan sebaik mungkin. Yakni dengan memperbanyak interaksi langsung bersama anak atau mengabadikan momen-momen berkesan.
Anak tidak akan ingat tahun-tahun ini tapi justru sangat berperan penting dalam tumbuh kembangnya. Penulis menekankan bahwa jangan sampai kita sebagai orang tua teralihkan dengan hal-hal yang tidak lebih penting. Ingin rumah selalu terlihat rapi sementara anak selalu ingin mengeksplor sekitarnya atau ingin mencari penghasilan tambahan tapi di satu sisi menyerahkan pengasuhan kepada orang yang salah. Padahal, masa golden age di usia bayi dan balita tidak akan pernah bisa terulang dan diperbaiki.
Selain hal di atas, buku ini juga membahas tentang pentingnya mengajar keterampilan hidup sehari-hari kepada anak sejak dini. Hal inilah yang dilakukan oleh sekolah-sekolah Montessori, alih alih mengajarkan berhitung atau mengenal huruf, anak justru diajarkan cuci piring, menuangkan air di teko atau mengelap meja.
Selain beberapa hal di atas, masih banyak pembahasan lain yang dijelaskan penulis terkait pendidikan dari dalam rumah. Khususnya tentang kiat memulai homeschooling dan gambaran besarnya.
Bagi pembaca yang tertarik dengan pembahasan di atas, buku ini bisa menjadi bacaan yang cukup inspiratif. Selamat membaca!
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Atasi Kecanduan Gadget Anak Lewat Baca Nyaring dalam The Book of Read Aloud
-
Sharing Literasi Keuangan dari Ayah Milenial di Buku Kamu Tidak Sendirian
-
Buku Perjalanan Menerima Diri, Wujudkan Self Love dengan Latihan Journaling
-
Buku Obat Sedih Dosis Tinggi, Refleksi agar Semangat Menjalani Hidup
-
Buku Broken Strings: Menyelami Trauma Relasi dalam Hubungan Toksik
Artikel Terkait
-
Terasing di Rumah Sendiri: Kisah Pilu di Novel Serenity Karya Ajeng Puspita
-
Berbekal Filosofi Pendidikan, John Herdman Siap Bentuk Masa Depan Timnas Indonesia
-
Biografi Imam al-Bukhari: Menelusuri Jejak Ketelitian Sang Penulis Kitab Shahih
-
Aurelie Moeremans Diam-Diam Dibantu Sosok Ini saat Buktikan Kepalsuan Surat Nikah Roby Tremonti
-
Seni Memahami Luka Tersembunyi di Novel Joyvika karya Oktyas
Ulasan
-
Buku Kamu Terlalu Banyak Bercanda: Ketika Tawa Menyembunyikan Luka
-
Hoppers: Film tentang Pesan Lingkungan dalam Balutan Animasi yang Memukau!
-
Petualangan Mata di Tanah Melus: Panduan Bertahan Hidup di Dunia Paralel Tanpa Sinyal
-
Mengintip Sisi Personal Presiden dalam Buku Pak Beye dan Keluarganya
-
The Return of Sherlock Holmes: Kembalinya Detektif Legendaris Dunia Misteri
Terkini
-
Sinopsis Warung Pocong, Gaji Rp50 Juta Per Bulan Berujung Teror Mencekam
-
Penting! Optimalkan Energi dan Fokus ke Teknik Biohacking di Bulan Ramadan
-
5 Hydrating Toner untuk Segar dan Lembap Sepanjang Puasa
-
Honor MagicPad 4 Resmi Rilis: Tablet Super Tipis dengan Snapdragon 8 Gen 5
-
Salah Kaprah Feminisme di Media Sosial: Benarkah Masih tentang Kesetaraan?