Sekar Anindyah Lamase | Akramunnisa Amir
Sampul Buku Perjalanan Menerima Diri (Gramedia)
Akramunnisa Amir

Ketika kita sedang memikirkan banyak hal (overthinking) dan merasa kewalahan dengan pikiran-pikiran tersebut, salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan melakukan journaling. Yakni menuangkan isi pikiran, emosi, maupun hal-hal yang berkesan di dalam sebuah catatan.

Selain bisa mengatasi overthinking, journaling ini adalah sebuah aktivitas yang baik untuk kesehatan mental secara umum.

Lantas, apa saja yang bisa kita tuangkan saat journaling dengan tujuan untuk kesehatan mental? Hal itu bisa ditemukan dalam buku berjudul 'Perjalanan Menerima Diri' yang ditulis oleh Rara Noormega.

Buku ini memuat kumpulan tulisan dan latihan yang bisa kita terapkan dalam rangka mengenali diri sendiri.

Awalnya, saya mengira bahwa buku ini hanyalah buku kumpulan quotes yang berisi lembar kerja untuk menulis. Tapi, buku ini ternyata lebih dari sekedar kumpulan quotes karena apa yang dituangkan oleh penulis tidak sekedar kata-kata manis dan puitis, tapi benar-benar berisi panduan agar kita lebih paham tentang diri sendiri.

Memang setiap bab nya terasa singkat, tapi penulis mampu menuangkan apa yang benar-benar penting untuk disampaikan. Penulis mengajak pembaca merefleksikan diri, meluapkan emosi yang selama ini terpendam lewat tulisan, hingga mengajak pembaca untuk mengenali kelebihan dan kekurangan diri.

Beberapa hal yang berkesan bagi saya pribadi di antaranya adalah bagaimana penulis mengajak pembaca untuk menengok ke masa lalu dan mengingat bagaimana cara diri dibesarkan. Penulis menyediakan kolom yang bisa diisi sendiri oleh pembaca. Mengenang kembali bagaimana orang tua membesarkan kita, hubungan dengan keluarga terdekat, hingga bagaimana kita berhubungan dengan diri sendiri akan memunculkan banyak perasaan.

Menuangkan semua hal tersebut dalam bentuk tulisan bisa menjadi alternatif untuk memunculkan banyak emosi yang selama ini terpendam, sekaligus wujud dari bagaimana kita berusaha mencintai diri sendiri (self love) lewat perjalanan mengenali diri.

Salah satu bagian yang saya garisbawahi adalah tips untuk mencintai diri sendiri sebagaimana kutipan berikut.

"Jika kesulitan menyayangi diri sendiri karena hal yang terjadi di masa lalu, cobalah amati bagaimana orang orangbterdekat yang kita percaya mengasihi kita. Mereka adalah contoh bagaimana kita seharusnya memperlakukan diri sendiri"

Ketika kita bisa mencintai diri sendiri dan memperlakukan diri kita dengan layak, kita akan lebih mudah untuk berproses menjadi pribadi yang lebih baik.

"Selesai dengan diri sendiri artinya kamu menyadari siapa dirimu, nilai-nilai kehidupan apa yang kamu percayai. Luka batin apa yang kamu miliki, serta mimpi mimpi apa saja yang ingin kamu capai dalam hidupmu." (Halaman 97)

Dalam proses untuk selesai dengan diri sendiri, kita akan selalu berhadapan dengan emosi-emosi negatif disamping emosi positif yang mengirinya. Masalahnya, terkadang kita hanya menerima emosi positif dan ingin menghindar dari emosi negatif.

Penulis mengingatkan bahwa sesekali kita memang perlu 'duduk' bersama emosi-emosi yang tidak menyenangkan. Kita tidak perlu buru-buru mengusir atau mencaritahu alasan di balik kehadiran emosi tersebut, karena seringnya mereka hanya perlu diakui kehadirannya. Jika emosi negatif itu telah merasa cukup diberi ruang, kita akan menyadari bahwa emosi tersebut akan memudar hingg menghilang perlahan.

Jadi, tak perlu menghindari rasa sakit. Sebab, rasa sakit itu sendiri adalah sinyal yang berguna untuk melindungi kita.

Secara umum, buku ini cukup inspiratif. Tidak hanya sekedar buku yang memberi motivasi satu arah, tapi juga mengajak pembaca untuk ikut berdialog mengenali diri sendiri.

Bagi kamu yang membutuhkan bacaan untuk healing sekaligus panduan untuk journaling, buku ini bisa menjadi rekomendasi bacaan yang menarik untuk disimak!

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS