Salah satu masalah yang kerap dihadapi oleh orang tua hari ini adalah mengatasi kecanduan gadget pada anak. Di era teknologi sekarang, rasanya sulit sekali untuk membatasi screen time pada anak. Apalagi kalau sudah terlanjur kecanduan.
Terkait masalah tersebut, ada sebuah solusi yang cukup menarik yang bisa diterapkan oleh orang tua. Yakni mengganti screen time dengan aktivitas read aloud atau membaca nyaring.
Lantas, bagaimana cara membaca nyaring yang bisa berdampak baik untuk tumbuh kembang anak? Hal tersebut dibahas dalam buku berjudul 'The Book of Read Aloud' yang ditulis oleh Wulan Mulya Pratiwi dan Zulda Musyarifah.
Buku ini membahas tentang manfaat membaca nyaring dan teknik membaca nyaring yang tepat. Selain itu, penulis juga membahas tentang sejarah read aloud, keajaiban menerapkan read aloud pada anak, jenjang pembacaan buku, hingga cara memilih buku cerita yang baik untuk anak.
Dari semua pembahasan di atas, salah satu hal menarik bagi saya pribadi adalah pembahasan tentang jenjang pembacaan buku pada anak. Terkadang orang tua bingung dalam memilih buku yang tepat. Dengan mengetahui jenjang yang cocok dengan buku tertentu, kita bisa menyaring buku yang sesuai dengan tahap usia tumbuh kembang anak.
Jadi, meskipun semua buku cerita itu boleh saja diberikan kepada anak, tapi ada jenis buku yang jika diberikan pada waktu yang tepat, dampaknya juga akan jauh lebih besar. Kalau ada yang bertanya, buku dongeng yang memantik imajinasi itu cocoknya dibaca di umur berapa? Nah, jawabannya ada di buku ini.
Selain membangun habit membaca, read aloud adalah salah satu bentuk strategi yang dapat membantu memfokuskan perhatian anak. Terkait masalah screen time, metode inilah yang bisa menjadi alternatif pengganti untuk mengalihkan perhatian anak dari gadget.
Tidak perlu lama, 10 sampai 15 menit pun cukup. Bisa digunakan sebagai rutinitas malam sebelum tidur. Aktivitas read aloud juga bisa memperkuat bonding antara orang tua dan anak.
Di antara manfaat dari kebiasaan membacakan nyaring sedini mungkin usia anak adalah memudahkan anak kelak untuk melewati masa masa belajar membaca. Anak-anak yang dibacakan buku sedari kecil, tanpa disadari mereka ikut mengenal penamaan benda benda, hingga mengetahui dan mulai akrab dengan bentuk bentuk huruf.
Read aloud juga meningkatkan kemampuan literasi sejak dini. Kemampuan literasi di sini meliputi kemampuan mendengar/menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
Penulis mengutip dari teori Benyamin S. Bloom yang merupakan professor pendidikan Universitas Chicago, bahwa 50 persen potensi manusia terbentuk dari sejak janin hingga usia 4 tahun, dan 30 persen potensi selanjutnya terbentuk dari sejak usia 4 hingga 8 tahun.
Berdasarkan teori tersebut, mulai membacakan nyaring bisa dilakukan sedini mungkin bahkan sejak dalam kandungan untuk mendukung besarnya potensi di masa masa golden age anak.
Kelebihan dari buku ini adalah penulis menjelaskan konsep read aloud dengan pembahasan yang mudah dipahami. Penulis juga menjelaskan teknik membaca yang praktis dan mudah diikuti oleh orang tua.
Hanya saja, kekurangannya bagi saya pribadi adalah minimnya pembahasan tentang referensi ilmiah yang mendukung opini dari penulis. Tidak ada pembahasan mendalam tentang manfaat empiris yang telah dibuktikan oleh penelitian dari read aloud. Isinya hanya kebanyakan membahas motivasi dan pandangan pribadi penulis.
Padahal jika penulis mencantumkan hasil riset, penelitian, atau mungkin bukti nyata yang lebih banyak tentang orang-orang yang sudah membuktikan betapa bermanfaatnya metode read aloud, barangkali buku ini akan lebih menarik.
Namun, terlepas dari hal tersebut, buku ini cukup informatif. Jadi, bagi pembaca yang membutuhkan panduan untuk penerapan read aloud kepada anak, buku ini bisa menjadi salah satu referensi. Selamat membaca!
Baca Juga
-
Sharing Literasi Keuangan dari Ayah Milenial di Buku Kamu Tidak Sendirian
-
Buku Perjalanan Menerima Diri, Wujudkan Self Love dengan Latihan Journaling
-
Buku Obat Sedih Dosis Tinggi, Refleksi agar Semangat Menjalani Hidup
-
Buku Home Learning, Belajar Seru Meski dari dalam Rumah
-
Buku Broken Strings: Menyelami Trauma Relasi dalam Hubungan Toksik
Artikel Terkait
-
Cegah Brain Rot dengan Read Aloud
-
Playground Modern Jadi Solusi Anak Kecanduan Gadget, Ini Kata Psikolog
-
Waspada Kecanduan Gadget, Ini Cara Melihat Screen Time di HP Xiaomi dengan Mudah
-
Pemerintah Ingin Hidupkan Lagi Permainan Tradisional untuk Cegah Anak Kecanduan Gadget
-
Membaca Nyaring: Cara Sederhana Membangun Bonding Kuat dengan Anak
Ulasan
-
Film Danur: The Last Chapter, Penutup Saga yang Manis tapi Kurang Epik
-
Kisah Inspiratif Mengejar Mimpi ke Negeri Kanguru Bersama Neng Koala
-
Rumah Lebah: Ketika Imajinasi Anak Menjadi Teror Nyata
-
Bukan Anak Bungsu Biasa: Menilik Rahasia Kekuatan Amelia di Si Anak Kuat
-
Journal of Gratitude, Jurnal Cantik yang Mengajarkan Arti Bersyukur
Terkini
-
4 Drama dan Film Sageuk Park Ji-hoon, Terbaru Ada The King's Warden
-
Yakin Itu Self Reward? Jangan-Jangan Kamu Sedang Self Sabotage
-
Oppo Find N6 Resmi Meluncur: Foldable Super Tipis dengan Kamera 200MP dan Baterai 6000mAh
-
Novel Broken Strings Karya Aurelie Moeremans Resmi Diadaptasi Jadi Film
-
RM BTS Cedera Pergelangan Kaki, Agensi Batasi Aktivitas di Konser Comeback