Bimo Aria Fundrika | Moh. Taufiq Hidayat
Soe Hok Gie (Wikipedia)
Moh. Taufiq Hidayat

Membaca biografi sejarah merupakan pengalaman yang belum pernah saya alami sebelumnya. Saya memilih untuk mengenal sosok Soe Hok Gie, yang sering dipanggil Gie. Pada awalnya, saya hanya tahu namanya dari film yang disutradarai oleh Riri Riza dan dibintangi oleh Nicholas Saputra.

Ketika menonton film tersebut, saya belum memiliki gambaran jelas mengenai siapa sebenarnya Gie. Ketertarikan tersebut membuat saya ingin mendalami buku "Gie dan Surat-Surat yang Tersembunyi" yang ditulis oleh Tim Buku TEMPO.

Sinopsis: Potret Perlawanan dan Realitas Sejarah

Buku ini menyajikan berbagai sisi mengenai sosok Gie, seorang pemuda yang lahir pada 17 Desember 1942 dan menjadi tokoh penting dalam gerakan mahasiswa tahun 1966. Dari perspektif Gie, kita diajak untuk mengingat kembali periode perubahan dari Orde Lama ke Orde Baru. Gie digambarkan sebagai mahasiswa yang sangat berani; dia tidak ragu untuk mengkritik lingkungan di sekelilingnya, termasuk pejabat tinggi dan bahkan Presiden Sukarno.

Melalui catatan dan surat-suratnya, saya menyadari bahwa praktik korupsi di kalangan para pemimpin negara ternyata sudah ada sejak waktu itu. Rasanya sangat menyedihkan mengetahui bahwa hingga kini, usaha untuk memberantas korupsi masih menjadi tugas yang sulit dan belum ada kepastian kapan akan tercapai. Buku ini tampak seperti cermin yang menunjukkan bahwa masalah-masalah yang diperjuangkan oleh Gie puluhan tahun lalu masih sangat berkaitan dengan keadaan negara kita saat ini.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan paling menonjol dari buku ini adalah potensi untuk menghubungkan pembaca dengan sosok Gie dalam cara yang emosional. Kita tidak hanya memandangnya sebagai "pahlawan mahasiswa", melainkan juga sebagai individu dengan kebiasaan, cara berpikir, dan idealisme yang utuh.

Bagian yang paling menggugah hati bagi saya adalah waktu kematian Gie di Gunung Semeru pada tanggal 16 Desember 1969. Membaca momen tersebut terasa sangat mendalam; seolah-olah perjuangan Gie masih berlanjut, namun takdir memaksanya berhenti sehari sebelum ia merayakan ulang tahunnya yang ke-27.

Kekurangan buku ini adalah bagi pembaca yang mungkin belum terbiasa dengan narasi sejarah yang detail, bisa jadi terasa cukup sulit karena harus memahami Gie dari berbagai perspektif yang berbeda. Terkadang, pembaca bisa merasa bingung tentang dari mana harus memulai analisisnya karena kompleksitas pemikiran Gie. Meski begitu, semua itu terbayar dengan pengetahuan sejarah baru yang sangat berarti, terutama terkait dengan peristiwa yang terjadi pada tahun 1966.

Mengenal Gie membuat saya menyadari bahwa sosok mahasiswa sepertinya sulit ditemukan di era sekarang. Di saat banyak mahasiswa yang mungkin telah terjebak dalam kenyamanan, Gie mengingatkan kita akan signifikansi perhatian kepada masyarakat dan keberanian untuk melakukan transformasi.

Walaupun hidupnya berakhir dengan tragis di puncak Semeru, nilai-nilai idealis Gie terus berjalan melalui karya-karyanya. Buku ini adalah pintu masuk yang ideal bagi siapa saja yang ingin memahami tentang integritas di tengah dunia yang sarat dengan kompromi. Jika menyenangkan, sebarkan jika tidak, beritahu!.

Identitas Buku:

  • Judul: Gie dan Surat-Surat Yang Tersembunyi.
  • Penulis: (Ditulis berdasarkan liputan khusus Majalah Tempo, mengangkat kisah Soe Hok Gie).
  • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
  • Tahun Terbit: 2016 (cetakan awal).
  • Seri: Seri Tempo: Pemuda dan Gerakan Sosial (Jilid pertama).