Lintang Siltya Utami | Tika Maya Sari
Anime Yubisaki to Renren (IMDb)
Tika Maya Sari

Kalau kamu penggemar anime shoujo dengan konflik ringan dan visual menawan, barangkali anime Yubisaki to Renren sanggup melepas dahaga.

Melansir laman IMDb, Yubisaki to Renren alias A Sign Of Affection sebetulnya adalah manga karya Suu Morishita yang diterbitkan oleh Kodansha. Hingga kemudian, manga ini mendapatkan kesempatan diadaptasi menjadi anime dengan total 12 episode pada tahun 2024, dan bisa diakses lewat Netflix maupun Crunchyroll.

Mengulik Kehidupan Seorang Tunarungu dan Tunawicara

Yubisaki to Renren sejatinya menyuguhkan kehidupan Yuki Itose, seorang mahasiswi tunarungu yang hidup di antara manusia normal. Dia pergi kuliah, dan berkomunikasi dengan bahasa isyarat,atau lewat tulisan di buku maupun chat di ponsel.

Yuki kemudian bertemu Itsoumi Nagi, seorang mahasiswa yang hobi travelling dan menguasai beberapa bahasa asing. Pertemuan pertama mereka di kereta, berhasil membuat rasa penasaran keduanya muncul.

Yuki yang penasaran tentang dunia luar Itsoumi yang tampak terang dan penuh suara, serta Itsoumi yang penasaran akan bahasa isyarat Yuki.

Hubungan keduanya perlahan dekat, saling memahami, bahkan menjadi jembatan para kawan yang lain untuk lebih berani mengekspresikan diri. Pun, meski terkadang harus direcoki oleh rencana travelling Itsoumi ke beberapa negara, dan kecemburuan Oushi Ashioki yang memendam rasa pada Yuki.

Anime Romantis, Nggak Tragis, dan Full Manis!

Yubisaki to Renren secara garis besar memiliki tema yang mirip dengan Silent Voice mengenai seorang tunarungu sekaligus tunawicara. Namun, anime ini nyaris sama sekali tidak menonjolkan sisi psikologis, kok. Di Silent Voice, isu bullying jelas mencolok mata. Namun, di Yubisaki to Renren justru berbeda 180 derajat.

Buatku, anime ini menyuguhkan kisah romantis yang nggak terlalu lovey dovey dan bikin muak. Kedekatan mereka disuguhkan pelan-pelan, dan dibumbui dengan sisi pengertian baik dari tokoh utama hingga para figuran. 

Meski hubungan Itsouma - Yuki terkesan ‘agak anyep’, tetapi hal itu bisa dimaklumi. Sebab, Yuki sadar diri tentang kekurangannya, dan merasa aneh mengapa Itsouma yang cakep nan populer malah melirik dia.

Secara garis besar, Yubisaki to Renren menunjukkan gerakan pro pada penyandang disabilitas. Masyarakat digambarkan tidak rasis, bahkan saling mendukung dan membantu mereka yang memang memiliki kekurangan.

Anime ini juga menampilkan suatu realita tentang keberadaan sekolah luar biasa (SLB) yang di sini disebut sebagai Sekolah Tuna Rungu. Meski eksistensinya dicap minoritas karena hanya memiliki sedikit murid, yang menempati kelas yang sama sejak SD hingga SMP, tetapi ada nilai kebersamaan dan saling menghargai yang kuat tertanam.

Bisa dibilang, Yubisaki to Renren lebih menonjolkan sisi kehangatan sosial yang terkadang susah kita temui di real life.

Visual Bagus, Art yang Menawan Hati

Dari manga-nya saja, Yubisaki to Renren sudah menjanjikan art yang menawan. Rasa skeptis lenyap ketika manga ini diadaptasi menjadi anime, yang menjanjikan visual dan art nggak kaleng-kaleng.

Dalam total 12 episode, art style-nya konsisten dan menawan. Pun pada sisi pengisi suaranya, yang sejalan dengan karakter masing-masing tokoh.

Itsoumi misalnya. Dia digambarkan sebagai mahasiswa keren, multibahasa, pembawaannya yang green flag dan nyantai abis. Ketika ada scene berbicara bahasa Inggris dan Jerman, pengisi suaranya yakni Yu Miyazaki betulan fasih, sehingga penonton benar-benar percaya bahwa Itsoumi Nagi memiliki kemampuan multibahasa yang cakap.

Untuk Yuki sendiri, dia memang tunarungu sekaligus tunawicara. Namun, ada beberapa kesempatan dia berbicara dalam hati dan disuarakan oleh Sumire Morohoshi. Baik pada ekspresi kagum, terkejut, gembira, dan bertanya-tanya, Sumire Morohosi berhasil membawakan Yuki dengan menawan. Nyaris di Yubisaki to Renren nggak ada kesedihan sama sekali, ya.

Endingnya Mempesona di Bawah Tirai-tirai Wisteria

Dengan 12 episode, Yubisaki to Renren ditutup dengan scene yang bikin hati menghangat, walau disisipi sedikit rasa anyep. Namun, anime ini cenderung condong pada  happy ending yang mencolok, tetapi tetap menawarkan clue yang jelas, agar penonton memecahkannya sendiri.

Dan meski art style-nya begitu konsisten dari awal episode, nyatanya di episode terakhir justru terasa lebih detail dan hidup. Terasa dekat, tetapi kita tetap dinaungi kesadaran bahwa anime ini adalah fiksi semata.

Sekilas, episode terakhir anime ini membuatku teringat satu entitas yang menjadi salah satu ‘konflik’ pada Webtoon Garden of the Dead Flower. Yakni kehadiran tanaman wisteria, dengan sulur-sulur ungu yang menjuntai.

Secara pribadi, aku memberikan nilai 8 dari 10 untuk Yubisaki to Renren. Baik pada tema yang jarang diangkat, alur yang ringan alias minus sedih-sedih, hingga kekuatan dukungan sosial yang menghangatkan hati. So, kamu sudah pernah nonton Yubisaki to Renren?