Hal-hal yang selama ini kita anggap biasa dan lumrah, jika ditelisik dengan kacamata yang berbeda, ternyata bisa menjadi sangat membingungkan. Inilah premis unik yang ditawarkan oleh Fadel Ilahi Eldimisky dalam novelnya yang berjudul Bingung Bingung. Cerita berpusat pada Salim, seorang perantau asal kampung yang bekerja di Surabaya. Kehidupan Salim yang semula lurus-lurus saja mendadak berubah setelah sebuah insiden nahas: motornya menabrak trotoar.
Pasca-kecelakaan, dunia medis mendiagnosis Salim terkena gegar otak ringan. Namun, istrinya, Sofia, punya teori lain yang lebih kental dengan kearifan lokal: Salim kesurupan. Mengapa? Karena sejak saat itu, hampir setiap kalimat yang keluar dari mulut Salim selalu diawali dengan frase sakti, "Saya bingung." Sebuah perubahan kecil yang nyatanya sanggup membuat istri, atasan kantor, hingga teman-temannya ikut kehilangan arah.
Kebingungan sebagai Alat Kritik Sosial
Novel ini menyodorkan sebuah "kacamata kebingungan" untuk melihat peristiwa sehari-hari yang selama ini kita terima begitu saja tanpa perlawanan. Menariknya, di balik rentetan pertanyaan Salim yang membingungkan itu, tersimpan banyak humor satire yang membuat kita tertawa getir. Salim menjadi sosok yang sangat kritis. Ia mempertanyakan logika medis: mengapa orang yang merasa sehat harus dipaksa mengonsumsi resep obat?
Melalui karakter Salim, penulis seolah mengajak kita merespons keresahan masyarakat yang sering kali hanya bisa dipendam. Salah satu sindiran yang paling tajam adalah mengenai oknum polisi lalu lintas. Salim bingung, mengapa motor korban kecelakaan harus "diamankan" dan hanya bisa ditebus dengan sejumlah uang? Bukankah korban sudah jatuh tertimpa tangga dengan biaya rumah sakit yang besar? Sindiran ini dipertegas dengan kutipan: "Dan setiap orang yang berselisih dengan polisi di jalan raya, polisi selalu tampil sebagai pemenang" (hal. 4). Sebuah realitas pahit tentang penyalahgunaan wewenang demi kepentingan pribadi.
Antara Menghibur, Menjengkelkan, dan Ofensif
Jujur saja, membaca novel singkat yang merupakan pengembangan dari cerpen dalam antologi Saraswati: Kebijaksanaan dan Pengetahuan ini memunculkan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, saya merasa terhibur karena pertanyaan Salim mencerminkan kegelisahan kolektif yang sering kita abaikan. Namun di sisi lain, sosok Salim bisa menjadi sangat menjengkelkan.
Sebagai pria dewasa, rasa ingin tahu Salim yang meluap-luap tidak lagi tampak lucu atau menggemaskan seperti anak kecil. Sebaliknya, ia terasa ofensif. Salim seolah sengaja memelihara kebingungannya dan memaksa semua orang untuk ikut masuk ke dalam labirin pikirannya. Kutipan di halaman 40 sangat menyentil: "Kenapa suara-suara yang benar membuat telinga yang mendengarnya panas dan otak yang mencernanya berubah gerah? Sebegitu jauhkah manusia saat ini dari kebenaran?" Pertanyaan ini sebenarnya filosofis, namun ketika diucapkan oleh orang yang bersikeras "bingung" pada hal-hal yang sudah jelas jawabannya, rasa kesal pun tak terhindarkan.
Salim adalah Cermin bagi Kita
Ada banyak hal yang membuat Salim bingung: dukun, pemerintah, masyarakat, hingga birokrasi perusahaan. Meski terkadang membuat marah karena ia mempertanyakan hal yang sebenarnya sudah ia ketahui jawabannya, Salim sebenarnya adalah personifikasi dari sisi kritis manusia yang sering kali "dimatikan" oleh aturan sosial. Sebagaimana ia bertanya pada halaman 49: "Kenapa aturan mengekang mulut kita untuk membicarakan apa saja yang kita pikirkan dan kita rasakan?"
Pada akhirnya, Salim seharusnya menjadi "kita" dalam versi yang lebih berani. Ia mengingatkan kita bahwa menjadi dewasa bukan berarti harus berhenti bertanya atau menerima segala ketidakadilan dengan maklum. Kita harus mampu berpikir kritis dan berani mengajukan pertanyaan yang relevan, meskipun dunia mungkin akan melabeli kita sebagai orang yang "bingung" atau bahkan "sakit".
Kesimpulan
Bingung Bingung adalah bacaan yang singkat namun padat akan perenungan. Novel ini cocok bagi Anda yang ingin melihat dunia dari sudut pandang yang tidak biasa. Meski alurnya mungkin membuat Anda ikut merasa gemas dengan tingkah laku Salim, pesan moral yang dibawanya sangat kuat tentang keberanian bersuara di tengah masyarakat yang lebih suka diam dan patuh.
Identitas Buku:
- Judul: Bingung Bingung
- Penulis: Fadel Ilahi Eldimisky
- Editor: Fialita
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Terbit: Agustus 2019
- Tebal: viii + 160 hlm.
- ISBN: 9786020630472
Baca Juga
-
Jangan Disalahkan, Korban Baper Akibat "Pemberi Harapan Palsu" Adalah Korban Ketidakadilan Emosional
-
Menembus Batas, Menyapa Cengkeh: Petualangan KKN Paling Berkesan di Tanah Dengeng-Dengeng
-
Antara Pompa Air yang Haus dan Pangkalan Gas yang Bisu di Tengah Kemarau
-
Reuni Kemerdekaan di Warkop: Antara Secangkir Kopi dan Makna Merdeka
-
Dua Pria di Satu Atap: Mengurai Jarak dan Gengsi Antara Anak dan Ayah
Artikel Terkait
-
Lima Sekawan Nyaris Terjebak: Tragedi Salah Target yang Berujung Petualangan Mencekam
-
BRI Gelar Aksi Sosial Ramadan 1447 Hijriah, 8.500 Anak Yatim Terima Santunan Nasional
-
Misi Menyelamatkan Generasi Alpha: Ketika Negara Lebih Galak daripada Emak Narik Kabel WiFi
-
Medsos dan Seni Menjadi Domba di Tengah Perang Algoritma
-
Prabowo Dorong Percepatan Program Perumahan untuk Atasi Ketimpangan Sosial
Ulasan
-
Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho
-
Bad Memory Eraser: Eksperimen Menghapus Ingatan Demi Mengubah Kehidupan
-
Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam
-
Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang
Terkini
-
Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?
-
Anti Sumpek dan Lengket, Ini 4 Andalan Moisturizer Lotion untuk Kunci Hidrasi Wajah
-
Jangan Asal Ikut-ikutan Resign! Beda Kasta Antara Privilege Finansial dan Perjudian Ekonomi
-
5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah