Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Mao Mao dan Berang - Berang
Chairun Nisa

Mao Mao dan Berang-Berang merupakan sebuah novel anak ringan karya Clara Ng yang mengangkat tema-tema besar seperti kerusakan lingkungan akibat pertambangan, konflik peperangan, dan perbudakan. Ya, Anda tidak salah baca. Meski mengusung isu-isu yang tergolong berat, novel ini disampaikan melalui kisah perjalanan seekor bebek kecil bernama Mao Mao dengan gaya bertutur yang ramah anak, tanpa nuansa thriller yang mencekam, namun menyimpan makna yang dalam.

Sinopsis

Kisah diawali dengan prolog tentang menetasnya seekor bebek di Negeri Anyaman. Bebek kecil bernama Mao Mao dengan bulu berwarna magenta. Masa kecilnya dipenuhi perundungan dan ejekan dari kawanan sejenisnya lantaran keanehan warna bulunya dan kepalanya yang besar. Tentu saja ada alasan mengapa Mao Mao, hal ini sengaja disimpan untuk menjadi plot bagus dalam tengah cerita  Namun, Mao Mao bukan bebek yang mudah menyerah ia justru tumbuh dengan sifat tengil dan pantang putus asa.

Setiap tahun, para bebek di Negeri Anyaman bermigrasi menuju Danau Tak Bertepi. Rasa ingin tahu Mao Mao yang melampaui batas membuatnya mempertanyakan satu hal: mengapa para bebek di tanah tujuan mereka enggan bermigrasi di awal tahun? Demi menemukan jawaban, Mao Mao memutuskan bermigrasi seorang diri, menempuh perjalanan ribuan mil melintasi gurun, laut, dan pegunungan.

Perjalanan Mao Mao terbagi menjadi tujuh bagian. Bagian pertama membawa Mao Mao menyusuri Negeri Anyaman, melewati rawa-rawa tempat para lutung miskin hidup dengan menganyam, di negeri yang stagnan tanpa pendidikan dan kemajuan.

Perjalanan kedua mengantarkannya ke Pulau Asap, sebuah pulau dengan gedung-gedung pencakar langit, asap hitam di mana-mana, serta lautan limbah minyak mentah yang pekat hingga hampir merenggut nyawanya. Di sinilah Mao Mao bertemu dengan Tuan Rusa.

Perjalanan ketiga menuju Kerajaan Keramik, tempat rakyat hidup dalam kemiskinan, namun mampu menghasilkan porselen terbaik bagi kaum bangsawan. Mereka tinggal di rumah-rumah bawah tanah untuk berlindung dari badai pasir, sementara sebagian menjadi korban perang dua kerajaan besar yang haus ambisi. Di sini, Mao Mao bertemu keluarga kecil kapibara yang mengadopsi anak-anak hewan korban perang.

Perjalanan keempat membawa Mao Mao ke Istana Kristal, tempat ia bertemu legenda Naga Tanah yang melindungi negeri dari kerakusan bangsawan—kisah yang selama ini hanya ia dengar dari ibunya.

Perjalanan kelima menuju Kerajaan Kuningan di bawah pohon raksasa penopang langit. Mao Mao bertemu seorang rohaniawan yang dibuang dan mengungkap rahasia di balik tembok biara.

Pada perjalanan keenam, Mao Mao akhirnya bertemu dengan berang-berang di Istana Magnolia. Bersama berang-berang, Mao Mao menemukan makna persahabatan sejati yang tak memandang fisik maupun ras. Dari kebersamaan itu, mereka menyelesaikan berbagai konflik dan menumbuhkan benih-benih cinta.

Perjalanan ketujuh membawa Mao Mao ke Kerajaan Kayu, tempat ia mengungkap rahasia tujuh serigala legendaris yang dahulu menghancurkan Negeri Anyaman. Dari sanalah tersingkap pula kebenaran yang selama ini tersembunyi: para serigala itulah yang menjadi bagian dari peristiwa yang merenggut nyawa ibu kandung Mao Mao. Ibu Mao Mao ternyata bukanlah bebek pada umumnya, sebuah rahasia yang selama ini disamarkan demi melindungi Mao Mao. Fakta itu menegaskan bahwa Mao Mao adalah anak adopsi, sekaligus menjelaskan keanehan warna bulu dan bentuk tubuhnya sejak kecil.

Hingga akhirnya, Mao Mao tiba di Danau Tak Bertepi dan menemukan bagian terindah dalam hidupnya. Namun kebahagiaan itu kembali diuji ketika kawanan bebek dari Negeri Anyaman datang menyusul. Konflik batin pun muncul saat Bang Jamal, bebek yang mencintai Mao Mao, memintanya menjadi pasangan. Mao Mao harus memilih: kembali kepada kawanan bebeknya atau tetap bersama berang-berang yang telah menemaninya dan menguatkannya di masa-masa paling sulit.

Novel ini bukan sekadar kisah petualangan, melainkan juga pengajaran tentang persahabatan, cinta, dan kepedulian terhadap alam. Mao Mao pun bahagia meski dianggap sebagai pecundang karena meninggalkan kawanan bebeknya, demi terbebas dari tekanan sosial yang menyesakkan.

Kelebihan Buku

Bahasa yang digunakan sangat cocok untuk anak-anak. Novel ini menanamkan kecintaan pada alam serta pesan untuk tidak merusak bumi demi keserakahan. Setiap konflik memiliki jalan penyelesaian yang baik, tidak dibuat menggantung. Tidak ada kata-kata kasar, cacian, umpatan, atau adegan kejam; semuanya disampaikan dengan bahasa yang halus dan bijak.

Kekurangan Buku

Konflik dalam cerita cenderung datar tanpa plot twist yang kuat. Alurnya naik lalu turun secara berulang di setiap bab, sehingga akhir cerita relatif mudah ditebak.

Identitas Buku

Judul: Mao Mao & Berang-Berang: Penerbangan Ajaib ke Ujung Dunia
Penulis: Clara Ng
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2023
Tebal Buku: ± 248 halaman
ISBN: 9786231860804
Kategori: Novel anak / Fiksi anak