Pernikahan atau perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Pernikahan itu sakral dan diyakini akan menciptakan kebahagiaan bagi pria dan wanita. Tentu saja, untuk melangkah ke sebuah pernikahan tidaklah mudah. Apalagi jika kita sudah berumur berkisar 28 sampai dengan 30 tahun. Biasanya, di umur tersebut sering ditanyakan "kapan menikah?", ditambah lagi di hari-hari besar keagamaan seperti Lebaran. Saat bersilaturahmi dengan sanak keluarga, maka yang akan ditanya: "Kapan menikah?", "Sudah ada pacar ataupun jodohnya?", "Ayo segera dong menikah!".
Kata-kata tersebut menjadi yang paling sering terucap. Tentu, bagi setiap orang akan merasakan risih ataupun gelisah mendengar kata itu-itu lagi. Padahal, masalah jodoh ada di tangan Tuhan untuk menentukannya.
Terlepas dari itu, penting untuk menjadi perhatian kita bersama bahwa ada beberapa poin untuk mewujudkan pernikahan yang bahagia:
Pertama, meminta atau berdoa agar Tuhan menunjukkan jodohnya. Banyak orang yang menyuruh kita untuk menikah karena perhatian, respect, maupun sayang kepada kita. Karenanya, cobalah menjawab bahwa wanita maupun laki-laki yang akan menjadi suami atau istri adalah pemberian Tuhan. Bila Tuhan sendiri belum mengizinkan, maka jodohnya tak kunjung ketemu.
Banyak saat ini orang yang berpacaran lama namun harus kandas setelah beberapa tahun menjalani hubungan. Itu tandanya Tuhan belum merestui. Cara apa pun yang kita lakukan bersama pasangan dalam merencanakan masa depan, tetap Tuhan yang menentukan semuanya. Jikalau kita bertemu dengan keluarga, berilah penjelasan kepada keluarga, teman, maupun orang lain bahwa masalah jodoh dan pernikahan merupakan kehendak dari Tuhan.
Kedua, tidak tergesa-gesa namun berhati-hati.
Dalam menentukan siapa jodoh kita, perlu adanya kehati-hatian atau tidak tergesa-gesa. Ingatlah bahwa pernikahan itu seumur hidup, bukan berbulan-bulan atau bertahun-tahun saja. Kita diminta untuk tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Jangan sampai pernikahan itu menjadi sebuah "mainan" saja. Kita harus menjaga sakralnya sebuah pemberkatan pernikahan karena Tuhan memberikan amanat bahwa apa yang sudah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia.
Pernikahan bukan masalah cinta semata, tetapi pernikahan itu harus didasarkan kasih sampai maut memisahkan. Mempertahankan pernikahan bukanlah sesuatu yang mudah; banyak cobaan yang datang. Tinggal bagaimana kita bisa menjalani dan memaknai setiap perjalanan dengan ketenangan, kasih, dan sukacita.
Ketiga, perencanaan keuangan dan persiapan yang matang.
Penting sekali untuk diketahui bahwa pernikahan wajib memperhatikan kondisi keuangan dan kesiapan yang matang. Menggelar pernikahan membutuhkan banyak uang dan hati yang benar-benar siap untuk berumah tangga. Setelah menikah dan punya anak, kebutuhan hidup akan semakin tinggi.
Ketika anak lahir, dibutuhkan banyak biaya untuk pakaian, makanan, dan kebutuhan bayi yang sangat banyak. Hal itu akan menguras keuangan kita. Jika kita tidak mampu secara finansial, maka hal itu dapat memicu kemarahan bahkan keretakan dalam rumah tangga.
Seorang suami harus bekerja keras untuk keluarganya. Jika tidak demikian, kondisi sulitnya ekonomi dapat menjadi penyebab perceraian. Karena itu, keuangan dan persiapan yang matang menjadi perhatian utama. Pernikahan yang bahagia dapat dicapai dengan beberapa hal tersebut. Semoga saja kita bisa menciptakan sendiri kebahagiaan dalam pernikahan dan hidup berkeluarga.
Segala hal baik sudah selayaknya kita ciptakan sendiri untuk mencapai sebuah keharmonisan. Kedua belah pihak, yakni suami dan istri, sama-sama bisa memahami situasi dalam keluarga dan segera mencairkan suasana bilamana ada konflik yang terjadi. Kematangan dalam berpikir dan bertindak pun penting agar tidak tergesa-gesa dalam membuat keputusan yang salah.
Kebahagiaan itu dapat lahir pula dengan segala sesuatu diselesaikan bersama-sama tanpa ada keegoisan dan tidak berjalan sendiri. Keluarga diciptakan agar suami dan istri mampu melewati segala perjalanan hidup baru sampai pada titik akhir dengan sebuah kebahagiaan. Semoga bahagia itu sampai selamanya dan sampai maut memisahkan. Itulah harapan dan doa setiap orang dalam membentuk bahtera rumah tangga.
Baca Juga
-
Udaranya Sudah di Tingkat Berbahaya, Korban ISPA di Kalimantan Tembus Ratusan Ribu Jiwa
-
Bencana dari Hal Sepele: Bahaya Buang Puntung Rokok Sembarangan di Musim Kemarau
-
Bukan Sekadar Menunggu: Pentingnya Doa dan Usaha Nyata dalam Menjemput Jodoh
-
Arogansi Pengendara dan Hilangnya Budaya Sabar: Saat Hak Pejalan Kaki di Jalan Raya Terabaikan
-
Waspada Sindikat Transnasional: Jangan Tergiur Janji Manis Kerja di Luar Negeri
Artikel Terkait
-
Intip Foto-Foto Prewedding El Rumi dan Syifa Hadju Jelang Pernikahan, Kental Nuansa Jawa
-
Apakah Menikahi Sepupu Termasuk Perkawinanan Sedarah? Ini Penjelasannya
-
Cara Jawab "Kapan menikah" dan 4 Pertanyaan Sensitif saat Lebaran secara Elegan Tanpa Emosi
-
Evolusi Doa: Saat Saya Berhenti Meminta Dunia dan Mulai Meminta Ketenangan
-
3 Cerpen Paling Unik dari 'Lelaki Paruh Baya yang Menikah dengan Maut'
Kolom
-
Menko IPK Minta Kota Bersiap, tapi Mengapa Birokrasi Daerah Lambat?
-
Subsidi Besar, Biaya Hidup Naik, Daya Beli Tergerus: Apa yang Keliru?
-
Financial Anxiety: Saat Memikirkan Uang Lebih Melelahkan dari Mencari Uang
-
Mitos Kelas Menengah: Ketika Kelas Ekonomi Gagal Ungkap Kerentanan Pekerja
-
Tall Poppy Syndrome: Ketika Orang Berhasil Justru Dicari Kekurangannya
Terkini
-
Melodi yang Terlambat Didengar
-
Optimis! Fabio Quartararo Yakin Honda Bisa Bangkit di Era MotoGP 2027
-
Oppo Find X10 Siap Debut 22 September: Flagship dengan Kamera 200 MP dan Baterai Jumbo 8.000 mAh
-
Tren Aplikasi Ringkasan Buku: Solusi Hemat Waktu atau Ancaman Daya Kritis?
-
Review Film Once We Were Us: Ternyata Cinta Saja Tak Selalu Cukup