One Big Family mengisahkan kehidupan empat siswa SMA, antara lain Fahri, Nauval (Oval), Bagas, dan Khaisan yang terikat bukan hanya sebagai sahabat, tetapi juga sebagai “keluarga” pilihan.
Cerita dibuka dengan suasana sekolah yang terasa sangat dekat dengan realitas remaja, terlambat masuk kelas, nongkrong di kantin, hingga interaksi ringan yang penuh candaan.
Namun, novel ini tidak berhenti pada dinamika pertemanan semata.
Yang membuat kisah ini istimewa adalah fokus pada hubungan empat pasang ayah dan anak. Masing-masing karakter memiliki latar keluarga yang berbeda, dengan tantangan dan cara mencintai yang tidak selalu sama.
Sudrajat harus berperan sebagai ayah sekaligus ibu untuk Fahri. Yanardi dengan caranya yang konyol berusaha membuat Nauval selalu bahagia.
Ada juga Hidayat, yang cenderung pendiam, ingin menjadi tempat bersandar terbaik untuk Bagas. Sementara Komarudin, ayah Khaisan yang dikenal galak di sekolah, ternyata menyimpan kasih sayang yang besar di balik ketegasannya.
Keempat sahabat ini menyebut ikatan mereka sebagai “Surawung” (Susah, Senang, Ngariung), sebuah konsep kebersamaan yang menegaskan bahwa rumah tidak selalu berupa bangunan, tetapi bisa berupa manusia-manusia yang saling menguatkan.
Novel ini kemudian bergerak mengikuti konflik kecil dan besar dalam keluarga, perasaan remaja, serta proses saling memahami antara orang tua dan anak.
Salah satu kekuatan utama novel ini adalah tema keluarga yang hangat dan relevan.
Rifanny Defanisha berhasil menampilkan beragam tipe ayah dengan karakter yang berbeda-beda, sehingga pembaca bisa melihat bahwa tidak ada pola tunggal dalam mendidik dan mengekspresikan kasih sayang.
Hal ini membuat cerita terasa realistis dan mudah dihubungkan dengan pengalaman pembaca.
Selain itu, dinamika persahabatan keempat tokoh utama ditulis dengan natural. Dialog ringan, candaan khas remaja, dan kebersamaan mereka membuat suasana cerita terasa hidup.
Novel ini juga unggul dalam menyampaikan pesan moral tanpa terasa menggurui, terutama tentang pentingnya komunikasi dalam keluarga dan menerima kekurangan satu sama lain.
Di sisi lain, beberapa konflik terasa terlalu cepat diselesaikan. Ada momen-momen emosional yang sebenarnya berpotensi digali lebih dalam, namun justru diselesaikan dengan relatif singkat.
Hal ini membuat sebagian pembaca mungkin merasa kurang puas karena ingin melihat eksplorasi perasaan dan dampak konflik yang lebih panjang.
Selain itu, karakter tertentu terasa kurang mendapatkan porsi cerita yang seimbang. Beberapa ayah dan anak tampak lebih dominan, sementara yang lain hanya muncul sekilas, sehingga kedalaman karakter tidak selalu merata.
Rifanny Defanisha menggunakan gaya bahasa yang sederhana, ringan, dan komunikatif. Narasi dan dialog mengalir dengan mudah, membuat novel ini terasa cepat dibaca dan tidak membebani.
Penggunaan bahasa sehari-hari khas remaja SMA membuat cerita terasa dekat dengan target pembaca, sekaligus memperkuat nuansa realisme.
Keunikan utama One Big Family terletak pada fokus ganda antara persahabatan dan hubungan ayah-anak. Tidak banyak novel remaja yang menempatkan figur ayah sebagai pusat emosi dan konflik.
Novel ini memberi ruang besar pada sudut pandang orang tua, sehingga pembaca tidak hanya diajak memahami dunia remaja, tetapi juga pergulatan orang tua dalam membesarkan anak.
Konsep “Surawung” juga menjadi elemen khas yang memperkuat pesan kebersamaan.
Novel ini sangat cocok untuk remaja SMA dan mahasiswa yang ingin membaca kisah persahabatan dan keluarga yang hangat.
Tidak hanya itu, orang tua yang ingin memahami sudut pandang anak remaja. Pembaca yang menyukai cerita slice of life dengan konflik ringan namun bermakna juga cocok untuk novel ini.
Secara keseluruhan, One Big Family adalah novel yang menghangatkan hati, menyoroti arti keluarga dalam berbagai bentuk, dan mengingatkan bahwa rumah sejati adalah tempat di mana kita diterima apa adanya.
Novel ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan kembali hubungan dengan orang-orang terdekat.
Baca Juga
-
Narasi Perihal Ayah, Menyusuri Duka Kehilangan dari Sudut Pandang Anak
-
Kenang-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub: Kritik Sunyi untuk Diktator
-
Ulasan Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang, Lelah Hidup yang Sunyi
-
Luka Sejarah dalam Perempuan dan Anak-Anaknya
-
Novel No Place Like Home: Ketika Rumah Tak Selalu Berarti Pulang
Artikel Terkait
-
Narasi Perihal Ayah, Menyusuri Duka Kehilangan dari Sudut Pandang Anak
-
Dituding Tak Nafkahi Anak, Ressa Rizky Ancam Kuliti Dini Kurnia, Hak Asuh Bisa Berbalik Arah
-
Pernyataan Ressa Dipatahkan, Mantan Istri Siri Muncul Tuntut Tanggung Jawab Nafkah Anak
-
Andi Soraya Curiga Denada Akui Ressa Rossano Hanya demi Selamatkan Kariernya
-
Bantah Hidup Hedon, Ressa Tak Punya TV dan Kulkas
Ulasan
-
Narasi Perihal Ayah, Menyusuri Duka Kehilangan dari Sudut Pandang Anak
-
Bedah Makna Lagu Bernadya "Kita Buat Menyenangkan": Seni Memaafkan Hal Kecil
-
Review Buku 'Tahun Penuh Gulma': Suara Masyarakat Adat Melawan Rakusnya Korporasi
-
Meninggalkan Dunia Nyaman Demi Kebebasan Sejati: Menyelami Kisah 'Into The Wild'
-
Film Kuyank: Prekuel Saranjana yang Penuh Misteri Gelap!
Terkini
-
Lebarkan Karier Selain Idol, Sieun STAYC Akan Debut Musikal Lewat Seopyeonje
-
Gus Idris Malang Viral, Dugaan Pelecehan Berkedok Syuting Konten YouTube
-
Cahaya di Balik Tinta
-
Pacu Adrenalin! Ini 3 Rekomendasi Tempat Main Gokart Paling Seru di Bandung
-
Rilis Februari 2026, Film 'The Mortuary Assistant': Teror Iblis Kamar Mayat