Hayuning Ratri Hapsari | Ardina Praf
Novel Narasi Perihal Ayah (goodreads.com)
Ardina Praf

Narasi Perihal Ayah mengisahkan Ekal, seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun yang harus menghadapi kenyataan pahit, yaitu kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu yang hampir bersamaan.

Novel ini ditulis dalam bentuk narasi reflektif yang seolah menjadi catatan batin Ekal pada hari-hari setelah kepergian ayahnya.

Ekal menulis tentang ayahnya dari kursi bambu, tempat yang dulu menjadi saksi kebersamaan mereka, bermain gitar, bernyanyi, bercanda, hingga membicarakan mimpi-mimpi sederhana tentang masa depan.

Kepergian ayah bukan hanya menghadirkan kesedihan, tetapi juga kekosongan yang sulit dijelaskan oleh seorang anak seusianya.

Ekal tidak hanya kehilangan figur ayah, tetapi juga sandaran hidup, teman berbagi, dan sumber rasa aman. Dalam proses berduka, Ekal berusaha mencerna kenyataan secara perlahan, sembari bertanya pada dirinya sendiri: apakah ia mampu bertahan sendirian?

Cerita tidak disajikan dalam konflik besar atau plot yang penuh kejutan, melainkan melalui potongan-potongan kenangan, perasaan, dan renungan Ekal.

Pembaca diajak masuk ke ruang batin seorang anak yang mencoba memahami makna kehilangan, arti keluarga, dan bagaimana tetap melanjutkan hidup ketika dunia terasa runtuh.

Novel ini pada dasarnya adalah perjalanan emosional, bukan sekadar cerita tentang kematian, tetapi tentang proses berdamai dengan duka.

Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada kedalaman emosionalnya. Jaqueenza Eden berhasil menggambarkan kesedihan, kebingungan, dan kerinduan dengan cara yang terasa jujur dan menyentuh.

Emosi tidak dipaksakan, tetapi mengalir alami melalui narasi batin Ekal.

Kelebihan lain adalah sudut pandang anak yang digunakan secara konsisten.

Pembaca dapat merasakan kepolosan, ketakutan, dan cara berpikir Ekal yang masih sederhana, tetapi sarat makna. Ini membuat kisah terasa lebih autentik dan menyayat, karena duka dilihat dari mata seorang anak yang belum sepenuhnya siap menghadapi kehilangan besar.

Selain itu, novel ini juga unggul dalam membangun suasana intim. Detail kecil seperti kursi bambu, gitar, dan obrolan ringan bersama ayah mampu menciptakan nuansa nostalgia yang kuat.

Hal-hal sederhana justru menjadi sumber emosi terbesar.

Bagi sebagian pembaca, alur cerita mungkin terasa terlalu lambat dan minim konflik eksternal. Novel ini lebih fokus pada perasaan dan refleksi, sehingga pembaca yang menyukai cerita dengan dinamika peristiwa yang cepat bisa merasa kurang “bergerak.”

Penggambaran beberapa karakter pendukung juga terasa kurang mendalam. Fokus utama memang pada Ekal dan ayahnya, namun hal ini membuat karakter lain cenderung menjadi latar, bukan figur yang benar-benar berkembang.

Selain itu, nuansa kesedihan yang dominan dari awal hingga akhir bisa terasa terlalu berat bagi pembaca yang sedang tidak siap secara emosional.

Novel ini sangat cocok untuk pembaca yang menyukai genre family, slice of life, dan drama emosional. Terutama bagi remaja hingga dewasa yang pernah mengalami kehilangan orang terdekat, cerita ini bisa menjadi ruang refleksi dan penguat emosi.

Pembaca yang mencari bacaan ringan dan penuh hiburan mungkin kurang cocok, tetapi bagi mereka yang menyukai cerita yang menyentuh hati dan penuh makna, novel ini bisa menjadi pengalaman membaca yang berkesan.

Gaya bahasa Jaqueenza Eden juga cenderung sederhana, puitis, dan reflektif. Kalimat-kalimatnya tidak rumit, namun sarat emosi.

Narasi terasa seperti curahan hati, membuat pembaca seolah sedang mendengarkan monolog batin Ekal secara langsung. Inilah yang membuat pembaca mudah terhubung secara emosional dengan cerita.

Keunikan utama novel ini terletak pada cara menyampaikan duka melalui sudut pandang anak yang polos namun dalam.

Alih-alih menghadirkan drama besar, novel ini memilih jalan sunyi, kenangan kecil, perasaan yang tak terucap, dan pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang masa depan.

Pendekatan ini membuat Narasi Perihal Ayah terasa personal, intim, dan berbeda dari novel drama keluarga pada umumnya.