M. Reza Sulaiman | Ardina Praf
Novel Rumah: Sebuah Novel (gramedia.com)
Ardina Praf

Rumah: Sebuah Novel mengisahkan Ria, seorang perempuan berusia 27 tahun yang bekerja sebagai luxury travel planner. Pekerjaannya membawanya berkeliling dunia, mengatur perjalanan mewah bagi klien-kliennya ke berbagai negara, kota besar, hingga tempat-tempat eksotis yang jarang dijamah orang.

Dari luar, hidup Ria tampak sempurna: karier mapan, pengalaman luar biasa, dan kebebasan menjelajah dunia. Namun, di balik semua itu, Ria justru menyimpan kekosongan. Ia tidak memiliki tempat yang benar-benar bisa ia sebut sebagai "rumah".

Hubungannya dengan orang tua dipenuhi luka, kebencian, dan jarak emosional. Bagi Ria, rumah bukanlah tempat pulang yang hangat, melainkan sumber kenangan pahit yang ingin ia hindari. Perjalanan Ria bukan hanya soal berpindah dari satu negara ke negara lain, tetapi juga perjalanan batin untuk memahami arti pulang, memaafkan, dan berdamai dengan masa lalu.

Novel ini membawa pembaca menyelami konflik keluarga, pencarian jati diri, serta pertanyaan sederhana namun mendalam: di mana sebenarnya rumah bagi seseorang yang merasa tersesat dalam hidupnya sendiri?

Kekuatan dan Keunikan Novel

Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada tema yang sangat universal, makna rumah. J.S. Khairen berhasil mengemas tema ini dengan cara yang emosional, namun tetap ringan dibaca. Banyak pembaca dapat dengan mudah merasa relate, terutama mereka yang pernah merasa asing di tempat yang seharusnya menjadi tempat paling aman.

Selain itu, karakter Ria digambarkan cukup kompleks. Ia bukan tokoh yang sepenuhnya "baik" atau "buruk", melainkan manusia dengan luka, ego, dan ketakutan.

Ini membuat tokohnya terasa lebih hidup dan realistis. Alur ceritanya juga mengalir dengan baik, tidak terburu-buru, sehingga pembaca bisa menikmati proses emosional yang dialami tokoh utama.

Nuansa reflektif yang kuat juga menjadi nilai tambah. Banyak kutipan dan adegan yang terasa seperti pengingat untuk pembaca agar berani berhenti sejenak, merenung, dan memikirkan kembali hubungan dengan keluarga serta diri sendiri.

Aspek yang Perlu Diperhatikan

Bagi sebagian pembaca, tempo cerita mungkin terasa cukup lambat, terutama di bagian-bagian yang banyak berisi perenungan batin. Jika pembaca mengharapkan konflik yang intens atau plot twist besar, novel ini mungkin terasa kurang "menggigit".

Selain itu, beberapa konflik keluarga diselesaikan dengan cara yang relatif sederhana. Untuk pembaca yang menyukai pendalaman konflik psikologis yang lebih kompleks, penyelesaian ini bisa terasa agak terlalu cepat atau kurang eksploratif.

Gaya bahasa J.S. Khairen dalam Rumah cenderung sederhana, puitis ringan, dan mudah dipahami. Ia tidak menggunakan kalimat yang terlalu rumit, namun tetap mampu menghadirkan emosi yang kuat. Banyak narasi yang terasa seperti curahan hati, sehingga pembaca seolah diajak berbicara secara personal.

Bahasa yang mengalir ini membuat novel cocok dibaca dengan santai, namun tetap meninggalkan kesan mendalam. Cocok untuk pembaca yang menyukai novel dengan sentuhan motivasional dan reflektif.

Keunikan utama novel ini terletak pada cara memaknai "rumah" bukan hanya sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai ruang emosional. Rumah dalam novel ini adalah simbol penerimaan, tempat untuk gagal, lelah, marah, dan kembali bangkit.

Pendekatan ini membuat novel terasa hangat sekaligus menyentuh, terutama bagi mereka yang sedang berada dalam fase mencari arah hidup.

Siapa yang Perlu Membaca Novel Ini?

Novel ini sangat cocok dibaca oleh pembaca remaja akhir hingga dewasa muda, mereka yang sedang mengalami konflik keluarga, dan pembaca yang menyukai novel reflektif dan self-healing. Siapa pun yang sedang mencari makna "pulang" dalam hidup, maka novel ini sangat direkomendasikan.

Secara keseluruhan, Rumah: Sebuah Novel adalah bacaan yang hangat, emosional, dan penuh refleksi. Novel ini tidak hanya bercerita tentang perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati untuk menemukan tempat yang benar-benar bisa disebut rumah.

Cocok dibaca saat ingin merenung, menenangkan diri, atau ketika merasa lelah dengan dunia dan ingin "pulang", meski hanya lewat halaman-halaman buku.