Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Gimana Kalau Ternyata Bukan Dia Orangnya? (Dok. Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Di tengah budaya cinta instan dan relasi yang serba cepat, buku Gimana Kalau Ternyata Bukan Dia Orangnya? justru mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, merenung, dan berdialog dengan diri sendiri sekaligus dengan Tuhan.

Buku ini bukan sekadar kisah patah hati, melainkan perjalanan batin tentang bagaimana mencintai tanpa melanggar batas, dan menunggu tanpa kehilangan iman.

Sejak halaman-halaman awal, pembaca langsung disuguhi metafora yang sederhana namun dalam. Menyukai hujan tidak berarti harus selalu basah kuyup di bawahnya. Ada hal-hal yang boleh disukai, dikagumi, bahkan dicintai, tanpa harus dimiliki.

Bukan karena tak mampu, melainkan karena ingin menjaga. Di sinilah buku ini mulai menunjukkan arah utamanya. Cinta bukan soal kepemilikan, melainkan soal tanggung jawab. Terutama tanggung jawab kepada Allah.

Isi Buku

Kisah penulis dengan Tasya menjadi benang merah yang membungkus refleksi tersebut. Hubungan yang berawal dari obrolan singkat, terhenti tanpa kejelasan, justru memunculkan kegelisahan yang paling manusiawi: “Bagaimana jika dia orangnya?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mewakili pergulatan banyak anak muda hari ini. Antara dorongan perasaan dan ketakutan melangkah keluar dari jalan yang diridhai Tuhan.

Salah satu gagasan kuat dalam buku ini adalah kritik halus terhadap pemahaman cinta yang egois. Penulis mengajak pembaca melihat bahwa tidak semua cinta harus berakhir dengan kepemilikan. Seperti mencintai idola cukup mengagumi dari jauh, demikian pula pada sebagian rasa yang hadir dalam hidup. Ada cinta yang tugasnya hanya singgah, mengajarkan sesuatu, lalu pergi.

Buku setebal 162 halaman ini juga secara terang menyuarakan semangat self-improvement berbasis spiritual. Hijrah digambarkan bukan sebagai transformasi instan dari “buruk” menjadi “suci”, melainkan perjalanan panjang yang dimulai dari titik pahit.

Penulis dengan jujur mengakui masa lalu, sekaligus menegaskan bahwa dosa bukan alasan untuk berhenti berharap. Setiap orang memiliki proses dan waktunya masing-masing untuk menerima hidayah.

Subjudul keempat, “Mengejarnya dari Langit”, menjadi salah satu bagian paling kuat. Di sini, pembaca diajak meninggalkan cinta yang tidak halal dan mulai memperjuangkan cinta melalui jalan Allah. Pesannya tegas namun lembut: sebelum terlalu sibuk mengejar cinta manusia, kembalilah mencintai Sang Pencipta rasa itu sendiri.

Kelebihan dan Kekurangan Buku

Kelebihan utama buku ini terletak pada bahasanya yang ringan, reflektif, dan penuh “tamparan halus”. Disertai dalil-dalil yang relevan tanpa menggurui, buku ini mudah dipahami oleh pembaca muda yang sedang mencari pegangan. Ia tidak menghakimi, tetapi menyadarkan bahwa mencintai secara halal bukanlah pembatas kebahagiaan, melainkan cara menjaga hati agar tetap utuh.

Yang menarik, buku ini tidak menawarkan jawaban instan. Penulis tidak memaksakan kesimpulan romantis, apalagi glorifikasi penantian. Sebaliknya, kegelisahan itu dibiarkan hidup, ditemani doa-doa yang lirih dan jujur. Ketakutan akan kembali “jatuh cinta hingga keluar jalur” menjadi refleksi penting bahwa hijrah bukanlah garis lurus, melainkan proses naik-turun yang penuh ujian.

Namun sangat disayangkan, tema hijrah akan islam kerap kali terlalu dekat dengan percintaan. Namun sebagai bacaan ringan buku ini cukup menghibur karena dikemas dengan narasi yang puitis. 

Pada akhirnya, Gimana Kalau Ternyata Bukan Dia Orangnya? adalah pengingat bahwa Allah memang memiliki takdir, tetapi manusia diberi ruang untuk berdoa. Menunggu menjadi indah ketika dijalani dengan iman, dan patah hati pun dapat menjadi jalan pulang.

Untuk siapa pun yang sedang patah, buku ini berpesan sederhana namun dalam: simpan tulusmu baik-baik, dan kejar dia bukan dengan tanganmu, tetapi dengan doa-doamu.

Identitas Buku

  • Judul: Gimana Kalau Ternyata Bukan Dia Orangnya? 
  • Penulis: Ihza Mahendra
  • Penerbit: Gradient Mediatama
  • Tahun Terbit: Agustus 2024 
  • Tebal: 162 halaman
  • ISBN: 978-602-208-376-4
  • Genre: Non Fiksi, Pengembangan Diri