Di tengah budaya cinta instan dan relasi yang serba cepat, buku Gimana Kalau Ternyata Bukan Dia Orangnya? justru mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, merenung, dan berdialog dengan diri sendiri sekaligus dengan Tuhan.
Buku ini bukan sekadar kisah patah hati, melainkan perjalanan batin tentang bagaimana mencintai tanpa melanggar batas, dan menunggu tanpa kehilangan iman.
Sejak halaman-halaman awal, pembaca langsung disuguhi metafora yang sederhana namun dalam. Menyukai hujan tidak berarti harus selalu basah kuyup di bawahnya. Ada hal-hal yang boleh disukai, dikagumi, bahkan dicintai, tanpa harus dimiliki.
Bukan karena tak mampu, melainkan karena ingin menjaga. Di sinilah buku ini mulai menunjukkan arah utamanya. Cinta bukan soal kepemilikan, melainkan soal tanggung jawab. Terutama tanggung jawab kepada Allah.
Isi Buku
Kisah penulis dengan Tasya menjadi benang merah yang membungkus refleksi tersebut. Hubungan yang berawal dari obrolan singkat, terhenti tanpa kejelasan, justru memunculkan kegelisahan yang paling manusiawi: “Bagaimana jika dia orangnya?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mewakili pergulatan banyak anak muda hari ini. Antara dorongan perasaan dan ketakutan melangkah keluar dari jalan yang diridhai Tuhan.
Salah satu gagasan kuat dalam buku ini adalah kritik halus terhadap pemahaman cinta yang egois. Penulis mengajak pembaca melihat bahwa tidak semua cinta harus berakhir dengan kepemilikan. Seperti mencintai idola cukup mengagumi dari jauh, demikian pula pada sebagian rasa yang hadir dalam hidup. Ada cinta yang tugasnya hanya singgah, mengajarkan sesuatu, lalu pergi.
Buku setebal 162 halaman ini juga secara terang menyuarakan semangat self-improvement berbasis spiritual. Hijrah digambarkan bukan sebagai transformasi instan dari “buruk” menjadi “suci”, melainkan perjalanan panjang yang dimulai dari titik pahit.
Penulis dengan jujur mengakui masa lalu, sekaligus menegaskan bahwa dosa bukan alasan untuk berhenti berharap. Setiap orang memiliki proses dan waktunya masing-masing untuk menerima hidayah.
Subjudul keempat, “Mengejarnya dari Langit”, menjadi salah satu bagian paling kuat. Di sini, pembaca diajak meninggalkan cinta yang tidak halal dan mulai memperjuangkan cinta melalui jalan Allah. Pesannya tegas namun lembut: sebelum terlalu sibuk mengejar cinta manusia, kembalilah mencintai Sang Pencipta rasa itu sendiri.
Kelebihan dan Kekurangan Buku
Kelebihan utama buku ini terletak pada bahasanya yang ringan, reflektif, dan penuh “tamparan halus”. Disertai dalil-dalil yang relevan tanpa menggurui, buku ini mudah dipahami oleh pembaca muda yang sedang mencari pegangan. Ia tidak menghakimi, tetapi menyadarkan bahwa mencintai secara halal bukanlah pembatas kebahagiaan, melainkan cara menjaga hati agar tetap utuh.
Yang menarik, buku ini tidak menawarkan jawaban instan. Penulis tidak memaksakan kesimpulan romantis, apalagi glorifikasi penantian. Sebaliknya, kegelisahan itu dibiarkan hidup, ditemani doa-doa yang lirih dan jujur. Ketakutan akan kembali “jatuh cinta hingga keluar jalur” menjadi refleksi penting bahwa hijrah bukanlah garis lurus, melainkan proses naik-turun yang penuh ujian.
Namun sangat disayangkan, tema hijrah akan islam kerap kali terlalu dekat dengan percintaan. Namun sebagai bacaan ringan buku ini cukup menghibur karena dikemas dengan narasi yang puitis.
Pada akhirnya, Gimana Kalau Ternyata Bukan Dia Orangnya? adalah pengingat bahwa Allah memang memiliki takdir, tetapi manusia diberi ruang untuk berdoa. Menunggu menjadi indah ketika dijalani dengan iman, dan patah hati pun dapat menjadi jalan pulang.
Untuk siapa pun yang sedang patah, buku ini berpesan sederhana namun dalam: simpan tulusmu baik-baik, dan kejar dia bukan dengan tanganmu, tetapi dengan doa-doamu.
Identitas Buku
- Judul: Gimana Kalau Ternyata Bukan Dia Orangnya?
- Penulis: Ihza Mahendra
- Penerbit: Gradient Mediatama
- Tahun Terbit: Agustus 2024
- Tebal: 162 halaman
- ISBN: 978-602-208-376-4
- Genre: Non Fiksi, Pengembangan Diri
Baca Juga
-
Merangkul Keragaman dengan Komedi di Buku Pahlawan Tanpa Tanda Tangan
-
Kalau Semua Harus Ditanggung Sendiri, Lalu Pajak Kita untuk Apa?
-
Bansos Bukan Barang Gratis: Ada Amanah yang Harus Dijaga
-
Hutan Hilang, Sawit Tumbuh: Bisakah Ini Disebut Berkelanjutan?
-
Berita Buruk Bukan Sekadar Kabar: Di Balik Layar Ada Orang yang Menderita
Artikel Terkait
-
Seni Regulasi Emosi Ala Zengo di Buku Jangan Cemas Karya Shunmyo Masuno
-
Insekuritas dan NCII Remaja dalam Novelet Yang Kulihat di Cermin (Topless)
-
Bedah Buku Stolen Focus: Rahasia di Balik Algoritma yang Membuat Kita Kecanduan
-
Membaca Lebih Putih Dariku: Perjuangan Identitas di Tengah Rasisme
-
Novel Di Tanah Lada: Ketika Kepolosan Anak Bertemu Dunia yang Kejam
Ulasan
-
Review Film Soulmate: Pahami Bahwa Belahan Jiwa Tak Selalu Kekasih Romantis
-
Ulasan Your Lie in April: Tentang Belajar Hidup sebelum Semuanya Terlambat
-
Ulasan Flex x Cop 2: Aksi Detektif Sultan yang Makin Seru dan Menarik
-
Ulasan Series Sugar Daddy: Cinta yang Tumbuh dari Hubungan Tak Biasa
-
Please Dont Date Him: Membongkar Red Flag Pasangan Lewat Kulkas Pintar
Terkini
-
Humor yang Membunuh Sains: Menyoal Sentilan Prabowo dan Narasi Anti-Intelektual
-
Bye Jerawat Meradang! 4 Hybrid Sunscreen Heartleaf Kontrol Produksi Sebum
-
Heboh Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby: Ketika Selisih Usia Jadi Cermin Standar Ganda Kita
-
Stigma Tubuh Perempuan dan Warisan Tabu dalam Bahasa Sehari-hari
-
FIFA ASEAN Cup: Pertaruhan Hidup-Mati Bagi John Herdman di Timnas Indonesia