Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Novel Deru Gunung. (Doc. Pri/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Deru Gunung merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari sastra Jepang berjudul (Yama no Oto), yang dalam versi Inggris diterjemahkan menjadi The Sound of the Mountain. Novel ini merupakan karya sastra Jepang dari Yasunari Kawabata, seorang novelis terkemuka Jepang yang meraih Penghargaan Nobel Sastra pada tahun 1968.

Meskipun diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, gaya bahasa dalam novel ini tetap terasa halus dan tidak mengurangi esensi cerita. Sebagai pembaca, saya merasa Deru Gunung memiliki nuansa yang mirip dengan karya-karya Ahmad Tohari, karena sama-sama sarat akan detail alam dan suasana yang puitis.

Sinopsis

Novel ini menceritakan kehidupan sehari-hari Ogata Shingo, seorang pria berusia sekitar 60 tahun yang tinggal di Kamakura bersama istrinya Yasuko, anaknya Suichi, serta menantunya Kikuko.

Gunung yang dimaksud dalam cerita ini bukanlah gunung besar, melainkan sebongkah tanah seperti telur di belakang rumah Shingo. Namun gunung itu sesekali mengeluarkan suara yang meresahkan, seperti deru yang terdengar pada malam hari.

Shingo masih bekerja dan naik kereta setiap hari seperti biasa. Ia mulai memikirkan masa pensiun, bahkan hal kecil seperti memakai dasi pun dia lupa, padahal sudah melakukannya selama 40 tahun.

Konflik dalam novel ini lebih banyak berupa konflik batin antartokoh. Shingo merasa khawatir terhadap generasi muda yang menjalani hubungan dengan bebas. Ia juga sering terganggu oleh hal-hal sederhana, seperti suara dengkuran istrinya yang setahun lebih tua darinya. Hubungan mereka pun menyimpan masa lalu, sebab Yasuko sebenarnya adalah adik iparnya yang ia nikahi setelah kakaknya meninggal.

Konflik semakin rumit ketika putranya, Suichi, berselingkuh dengan seorang janda perang bernama Kinu. Pada saat yang sama, Shingo justru diam-diam menyimpan rasa cinta kepada Kikuko, menantunya yang masih muda dan rapuh. Namun perasaan itu tidak pernah diungkapkan secara terang-terangan, hanya muncul melalui mimpi serta pikiran-pikiran yang ia pendam. Rasa sayang Shingo kepada menentunya pun membuat istri, anak laki laki dan anak perempuannya merasakan cemburu.

Shingo pun merasa bertanggung jawab atas kehancuran spiritual dan moral putranya ketika mengetahui bahwa Kinu, janda perang yang menjadi selingkuhan Suichi, sedang hamil. Di saat yang sama, Kikuko juga tengah mengandung, namun memilih pulang ke Tokyo untuk mengaborsi kandungannya.

Masalah lain datang dari anak perempuan Shingo, Fusako, yang tiba-tiba pulang ke rumah  membawa dua anaknya dan buntalan kain setelah berselisih dengan suaminya. Konflik rumah tangga itu akhirnya berujung tragis, karena sang suami memilih bunuh diri.

Kelebihan

Kelebihan utama novel ini terletak pada gaya penceritaannya yang tenang, mendalam, dan penuh detail. Kawabata berhasil menggambarkan suasana alam, perubahan musim, serta kehidupan sehari-hari dengan cara yang puitis dan hidup.

Pembaca diajak merasakan perjalanan batin Shingo: kenangan masa silam, mimpi-mimpi usia muda, hingga kegelisahan terhadap perubahan zaman. Sakura yang rontok dan mekar kembali, suara serangga gunung, serta perubahan musim menjadi simbol halus dari kehidupan yang terus berjalan.

Novel ini juga memperlihatkan realitas Jepang pasca-perang, ketika masyarakat harus beradaptasi dengan modernisasi yang sangat cepat. Kehidupan di usia senja pun digambarkan sebagai sesuatu yang wajar, termasuk tetap bekerja meski usia telah lanjut.

Selain itu, novel ini tidak mengandung unsur kekerasan berlebihan, seks vulgar, maupun isu SARA, sehingga relatif aman dibaca oleh berbagai kalangan.

Kekurangan

Novel ini terasa membosankan karena tidak memiliki konflik besar atau alur yang cepat. Ceritanya berjalan lambat, lebih fokus pada percakapan, renungan, dan kehidupan sehari-hari yang tampak sederhana. Akhir ceritanya pun terasa menggantung, seolah kisah masih berlanjut dan tidak benar-benar ditutup dengan kesimpulan yang tegas.

Identitas Buku

Judul asli (Jepang): (Yama no Oto)
Judul Inggris: The Sound of the Mountain
Judul terjemahan Indonesia: Deru Gunung
Penulis: Yasunari Kawabata
Penerjemah: Nurul Hanafi
Penerbit: Senja
Tahun terbit: 2016
ISBN: 978-602-391127-1