M. Reza Sulaiman | Daffa Binapraja
Ilustrasi Mie Goreng (Dok. Pribadi / Febriansyah Daffa Binapraja)
Daffa Binapraja

“Yah, sayur lagi!” Itulah keluhan saya, Yudhistira Wirawan alias Yudis, saat di rumah.

“Tidak perlu suka, makan saja,” jawab Bapak dingin. Reaksi Bapak berbeda dengan Emak.

“Kalau begitu, tidak usah makan!” ucap Emak ketus sambil menarik piring putih berisi nasi dan campuran wortel ditambah sawi hijau. Batang wortel panjang dan sawi hijau, bagi saya kala itu, terasa sangat hambar. Rasanya ingin muntah tiap kali masuk ke mulut.

Tentu saja, sebagai anak SMA kala itu, saya tetap memakannya dengan terpaksa. Tentu karena saya lapar dan butuh makan. Saya tinggal membuang sisanya jika orang tua tidak melihat.

Ah, mantap! Orang tua ada urusan. “Bapak dan Emak pergi dulu. Habiskan sayurannya, ya!” kata Bapak yang sudah bercelana panjang dan memakai kemeja lengan pendek warna hitam.

Mobil pergi meninggalkan rumah. Nenek dan kakek saya saat itu masih tidur siang. Jadilah saya melakukan dua hal: membuang sayurnya dan membeli mi instan di pasar swalayan secara diam-diam. Saya juga mengambil salah satu mi instan di lemari. Mi instan yang saya beli? Silakan Anda pikir sendiri apa yang saya lakukan selanjutnya, pokoknya agar tidak ketahuan!

Aroma mi gorengnya terasa mewah, rasa gurihnya enak bukan main. Aduh, saya lupa, saya sebenarnya membeli dua mi goreng: satu mi goreng biasa dan satunya lagi mi goreng pedas khas Korea.

Zaman itu, mukbang atau makan dalam porsi besar sedang menjadi tren di sekolah saya. Walaupun sepengetahuan saya tidak ada siswa yang mencoba melakukannya, hampir semua membahasnya selayaknya membahas film baru atau penyanyi Korea Selatan yang baru debut. Banyak yang menonton video makan besar mi goreng dalam baskom dan sesumbar ingin mencoba melakukannya.

Saat itu, terbayang di kepala bahwa saya akan menjadi orang pertama di sekolah yang mencoba mukbang ala Korea Selatan. Satu mangkuk berisi dua mi goreng yang dicampur menjadi satu tersaji hangat di meja belajar saya.

Saya coba sedikit, kurang pedas. Entah mengapa saya bisa-bisanya terpikir untuk menambah bubuk cabai kala itu. Lebih cerobohnya lagi, saya tidak sengaja menumpahkan bubuk cabai sedikit lebih banyak dari takaran yang dibayangkan.

Yah, seharusnya tidak masalah, kan?

Ternyata, saya baik-baik saja! Orang tua sering menakuti saya dengan penyakit sakit perut gara-gara terlalu pedas dan terlalu sering makan mi instan, tetapi rupanya tidak terjadi apa-apa! Memang orang tua saya saja yang terlalu khawatir terhadap anaknya sendiri.

Jadilah sebulan kemudian, saya mencoba adegan yang lebih ekstrem: enam mi instan Korea dengan bubuk cabai satu sendok makan. Seperti biasa, orang tua pergi karena urusan kantor Bapak, kakek dan nenek sedang mengadakan pengajian di masjid, dan adik saya sendiri pergi keluar dengan teman mainnya.

Ponsel siap, mi instan siap, tidak lupa saya membeli es susu cokelat sebagai teman makan. Rencana saya sederhana saja kali ini: merekam diri sendiri, makan enam porsi, lalu menyebarkannya ke teman melalui media sosial. (Saat itu, saya masih belum memiliki kanal YouTube, jadilah akun media sosial yang saya pakai). Saya akan menjadi orang pertama yang melakukan mukbang di SMA saya!

Walaupun lidah terasa panas dan pedas, saya tetap lanjut sambil menyeruput susu cokelat dingin dengan boba itu. Satu jam kemudian, mangkuk berisi enam mi goreng tersebut ludes tanpa sisa.

Enam jam kemudian, pukul 18.00 WIB, saya buang air besar. Awalnya, saya kira ini wajar. Rupanya, baru sepuluh menit setelah keluar dari kamar mandi, perut kembali meronta kesakitan. Buang air besar lagi, tetapi encer seperti orang diare.

Makin lama, rasanya makin aneh. Setiap dua puluh menit sekali, saya terus-menerus buang air besar hingga lima kali. Walaupun untungnya saya tetap bisa tidur, sakit perutnya kembali muncul esok paginya.

Saya tetap bisa sekolah, walau harus menahan sakit perut dengan berpindah-pindah posisi duduk agar tidak ada yang curiga saya sedang diare. Wah, bisa repot nanti kalau pihak sekolah menyadari saya sakit, dibawa ke UKS, lalu ditanya orang tua.

Sampai di rumah, saya langsung pergi ke kamar mandi. Mulailah Emak saya heran.

“Nak, dari kemarin kau ke kamar mandi terus. Diare?”

Hah? Kok bisa Emak tahu? Padahal, saya tidak bilang apa-apa kala itu.

“Eh, memang lagi sakit perut, Mak. Masuk angin, sepertinya,” jawab saya saat itu. “Aku mau istirahat dulu setelah ini.”

Akhirnya, setelah makan malam dengan sate ayam, saya tidur. Paginya, seperti biasa, saya sarapan dengan roti cokelat. Tentu mengasyikkan, sampai saya muntah darah di meja makan dan tiba-tiba lemas.

Beberapa saat kemudian, saya sudah berada di kasur putih dengan infus di tangan kanan dan masker oksigen di wajah. Entah bagaimana caranya, saya bisa mendengar sayup-sayup ucapan seseorang berjas putih di hadapan orang tua saya.

“... Ini karena anaknya kekurangan sayur, Bu.”

“Apakah anak saya bisa selamat?”

Hening.

“Dok, anak saya tetap hidup, kan?”

Semuanya terasa buram di mata saya. Namun, saya dapat melihat bayangan Emak dan orang yang saya duga dokter keluar dari ruang rawat (atau mungkin ruang Unit Gawat Darurat? Saya kurang ingat). Begitu kembali, hanya terdengar isak tangis dari Emak.

Tahu-tahu, mata saya terasa pedih, semuanya berubah warna menjadi merah. Saya kemudian muntah dan hilang kesadaran lagi.

Dari situ, saya melompat dari kasur kamar sendiri. Ya, melompat. Tidak masuk akal dan mengerikan pada saat bersamaan. Namun, mimpi itu lebih dari cukup untuk membuat saya takut bukan main.

Semua adegan “mi goreng berakhir pendarahan sana-sini” lebih dari cukup untuk membuat saya paham mengapa orang tua sering menyuruh saya makan sayur dan melarang makan mi instan tanpa pengawasan.

Mimpinya memang tidak masuk akal. Namun, siapa yang mau berakhir di rumah sakit?

Perasaan untuk lebih sering menikmati masakan rumah makin menguat tatkala saya mendengar salah satu teman SMA saya meninggal karena mukbang mi Korea delapan bungkus sebulan setelah saya menikah. Ya, ia meninggal karena gagal ginjal ditambah komplikasi serangan jantung.