Bayangkan hidup di dunia tanpa perang, tanpa penyakit, tanpa kesedihan, dan tanpa konflik. Semua orang hidup damai, sistem sosial berjalan sempurna, dan kebahagiaan terasa seperti kewajiban yang tidak bisa diganggu gugat. Tapi di novel Anomalies: The Rise of the Underground karya Sadie Turner dan Colette Freedman, dunia yang terlihat sempurna itu justru menyembunyikan sesuatu yang mengerikan: hilangnya kebebasan manusia untuk memilih dan merasa.
Inilah yang dialami Keeva, seorang gadis 15 tahun yang tumbuh di sistem Global Governance—sebuah tatanan dunia yang sudah menghapus semua ketidakseimbangan. Ia akan menjalani proses “imprinting”, semacam penentuan pasangan hidup yang dilakukan dengan teknologi agar masyarakat tetap stabil dan bahagia. Cinta, pilihan, bahkan masa depan setiap orang ditentukan oleh sistem. Namun ketika tiba waktunya, Keeva diberitahu bahwa dirinya berbeda. Ia tidak bisa diimprint. Dalam dunia yang menolak perbedaan, status itu berarti satu hal: bahaya.
Dari sini perjalanan Keeva dimulai—dari seorang gadis yang patuh menjadi seseorang yang sadar bahwa “kesempurnaan” dunia tempatnya tinggal hanyalah kebohongan besar yang dibungkus rapi.
Dunia Tanpa Masalah yang Justru Kehilangan Arti
Nilai pertama yang paling kuat dalam Anomalies adalah kritik terhadap gagasan kesempurnaan. Dunia Keeva digambarkan begitu bersih dan tertata, tapi juga dingin dan tak bernyawa. Semua emosi dikontrol, semua keputusan diatur, semua perbedaan dihapus. Turner dan Freedman menciptakan dunia distopia yang tidak gelap secara fisik, tapi gelap secara moral—karena manusia hidup tanpa arah, tanpa pilihan, dan tanpa makna.
Di sini pembaca diajak berpikir: kalau semua masalah hilang, apakah hidup masih punya arti? Novel ini menampilkan sisi manusia yang sering terlupakan, bahwa justru di dalam ketidaksempurnaan—dalam kesedihan, kesalahan, dan ketidakpastian—manusia menemukan jati dirinya.
Berbeda Itu Bukan Cacat
“Anomalies” sendiri berarti penyimpangan, sesuatu yang tak sesuai dengan sistem. Keeva, yang dianggap gagal, menjadi lambang dari perlawanan terhadap penyeragaman. Ia tidak bisa “diimprint”, dan karena itu, dianggap tidak berfungsi dengan baik. Namun dari “kegagalannya” itu, ia justru mulai memahami nilai dirinya sebagai manusia yang bebas berpikir.
Novel ini dengan kuat menegaskan bahwa perbedaan bukan kelemahan, tapi bagian dari kemanusiaan itu sendiri. Keeva mewakili mereka yang berani bertanya ketika dunia memerintahkan diam. Ia berani mempertahankan jati diri ketika semua orang memilih untuk sama. Nilai ini terasa relevan, terutama bagi pembaca muda yang sering dihadapkan pada tekanan untuk menyesuaikan diri dengan standar masyarakat.
Teknologi dan Kekuasaan yang Membungkus Pengendalian
Salah satu nilai unik lain dalam Anomalies adalah bagaimana buku ini menggambarkan kekuasaan yang tidak lagi memakai kekerasan, tapi teknologi. Sistem Global Governance tampak sempurna—semua dijaga agar aman dan teratur. Tapi di baliknya, ada kendali yang halus, hampir tidak terasa. Teknologi “imprinting” membuat manusia tunduk tanpa sadar. Tidak ada yang protes, karena mereka sudah merasa “bahagia”.
Nilai yang muncul dari sini adalah kritik terhadap pengendalian sosial melalui sistem modern—sesuatu yang terasa dekat dengan realitas hari ini. Kita hidup dalam dunia algoritma dan data, di mana pilihan kita sering dibentuk oleh sistem yang tak terlihat. Novel ini seolah berkata: berhati-hatilah dengan dunia yang terlalu nyaman, karena kenyamanan bisa jadi bentuk pengawasan paling halus.
Dari Kepatuhan Menuju Kesadaran
Keeva bukan tokoh yang langsung berani melawan. Ia mulai dari posisi yang sangat patuh, percaya bahwa pemerintah tahu yang terbaik. Tapi setelah menemukan kebenaran tentang dunia dan tentang dirinya, ia perlahan berubah. Perjalanan Keeva adalah kisah tentang tumbuhnya kesadaran. Tentang bagaimana seorang remaja belajar melihat dunia dengan mata terbuka, bukan sekadar menerima apa yang diajarkan.
Perubahan ini menjadi inti nilai novel: kedewasaan sejati lahir dari keberanian untuk mempertanyakan. Keeva belajar bahwa taat tidak selalu berarti benar, dan kebebasan tidak selalu berarti memberontak. Ia menemukan keseimbangannya sendiri—antara percaya dan berpikir, antara mengikuti dan memilih.
Harapan yang Tumbuh dari Bawah Tanah
Bagian The Rise of the Underground bukan sekadar judul tambahan. “Underground” di sini mewakili kelompok yang hidup tersembunyi, menolak tunduk pada sistem. Mereka adalah simbol harapan—orang-orang yang percaya bahwa dunia bisa berubah jika ada yang berani berkata tidak.
Dari bawah tanah, mereka merancang kebebasan. Dari ketakutan, lahir keberanian. Anomalies ingin menunjukkan bahwa perubahan besar sering dimulai dari orang kecil yang berani melawan ketidakadilan. Bahwa tidak perlu menjadi pahlawan untuk memperjuangkan sesuatu yang benar—cukup jadi manusia yang tidak mau kehilangan nuraninya.
Refleksi Dunia Nyata dalam Bentuk Fiksi
Meski berlatar masa depan, Anomalies sebenarnya berbicara tentang kita sekarang. Tentang bagaimana manusia sering rela menyerahkan kebebasan demi rasa aman. Tentang bagaimana masyarakat lebih memilih keteraturan daripada keberagaman. Nilai paling menariknya adalah cara novel ini mengajak kita mempertanyakan: apakah kita benar-benar bebas, atau hanya hidup dalam versi “aman” yang disusun orang lain?
Dengan gaya bercerita yang ringan tapi penuh makna, Anomalies bukan sekadar kisah distopia remaja, tapi juga refleksi sosial. Ia tidak menakut-nakuti pembaca dengan peperangan atau bencana, melainkan memperlihatkan bagaimana sistem bisa mencuri kemanusiaan tanpa suara.
Novel ini mungkin terasa futuristik, tapi nilai-nilainya sangat nyata—tentang kebebasan berpikir, keberanian menjadi diri sendiri, dan pentingnya mempertahankan rasa manusia di tengah dunia yang makin otomatis.
Karena pada akhirnya, Anomalies mengingatkan satu hal penting: kadang, justru mereka yang dianggap “rusak” adalah yang paling tahu cara menjadi manusia.
Identitas Buku
Judul: Anomalies: The Rise of the Underground
Penulis: Sadie Turner dan Colette Freedman
Penerbit: Metamind
Tahun Terbit: 2017
Jumlah Halaman: 407 halaman
ISBN: 9786029251340
Bahasa: Indonesia
Baca Juga
-
Circo de Patrimonio: Ketika Luka Menjadi Pertunjukan yang Indah
-
Novel 'Ketika': Belajar Menerima Kekacauan dan Kerapihan Dalam Satu Rumah
-
Ulasan Novel Cold Couple: Kisah Cinta Dingin yang Menghangatkan Jiwa
-
Bidadari Santa Monica: Ketika Warna Kehidupan Bertemu Misteri dan Cinta
-
Time After Time: Perjalanan Waktu yang Mengubah Segalanya
Artikel Terkait
Ulasan
-
Drama China Fangs of Fortune: Dua Dunia di Ambang Kekacauan
-
Analisis Pola Depresi dalam Film Rumah untuk Alie: Luka Akibat KDRT
-
Novel Logika Asa: Tak Apa untuk Mencintai Kelemahan Diri
-
Film The Strangers: Chapter 3, Sebuah Akhir Trilogi yang Mengecewakan!
-
Novel Orang-Orang Proyek: Potret Korupsi yang Membumi
Terkini
-
Dr. Tirta Luruskan Isu Asam Lambung Picu Mati Mendadak yang Ramai di Medsos
-
Asal Usul Kuyang dan Ambisi Perburuan Darah
-
Pergeseran Budaya Mengaji: Dari Karpet Masjid ke Ballroom Hotel yang Estetik
-
Menenun Identitas: Perempuan Sumba, Warna Alam, dan Warisan yang Tak Pernah Putus
-
Mirip iPhone: 5 Rekomendasi HP Ramah di Kantong, Harga Mulai Rp 900 ribuan