Media sosial ramai dengan narasi yang mengaitkan asam lambung atau GERD sebagai penyebab mati mendadak. Isu tersebut menyebar luas dan memicu kekhawatiran publik, terutama di kalangan penderita gangguan lambung.
Narasi tersebut berkembang dalam berbagai unggahan warganet yang menyebut bahwa naiknya asam lambung bisa langsung memicu kematian mendadak. Informasi itu kemudian viral dan menimbulkan kepanikan di ruang digital.
Melihat simpang siur informasi tersebut, dr. Tirta Mandira Hudhi memberikan klarifikasi melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya.
“Saya terpaksa banget buat video agak ngegas kayak gini garagara apa? Garagara sejawat saya nih seniorsenior saya, dosendosen saya di bidang perjantungan digoblokgobloki,” ujar dr. Tirta, mengekspresikan kegeramannya melihat serangan warganet terhadap tenaga medis yang memberikan edukasi kesehatan.
“GERD itu jauh banget hubungannya kalau bisa menyebabkan serangan jantung,” ujar dr. Tirta dalam video klarifikasinya di Instagram.
Ia menjelaskan bahwa secara medis, kematian mendadak (sudden death) umumnya berkaitan dengan gangguan pada organ vital seperti jantung dan otak. Kondisi tersebut berbeda secara mekanisme dengan gangguan asam lambung atau GERD.
Dr. Tirta menekankan bahwa GERD memang bisa menimbulkan gejala yang tidak nyaman, seperti nyeri dada, sensasi panas di ulu hati, dan rasa asam di tenggorokan. Namun, gejala tersebut tidak bisa disamakan dengan penyebab kematian mendadak. “Berdebar yang dirasakan penderita GERD biasanya karena rasa nyeri, bukan karena irama jantung bermasalah,” tegasnya.
Ia juga menyoroti fenomena penyebaran informasi kesehatan tanpa dasar ilmiah yang sering terjadi di media sosial. Menurutnya, hal ini berpotensi menyesatkan publik dan membentuk ketakutan kolektif yang tidak berbasis data medis.
Klarifikasi dari dr. Tirta menjadi pengingat pentingnya literasi kesehatan digital. Masyarakat diimbau untuk tidak langsung mempercayai informasi medis yang viral di media sosial tanpa rujukan ilmiah atau penjelasan dari tenaga kesehatan profesional. Sebaiknya setiap informasi kesehatan dicek ulang melalui sumber resmi, seperti jurnal medis, situs kementerian kesehatan, atau langsung berkonsultasi dengan dokter. Mengkritisi unggahan warganet dan memahami konteks ilmiahnya membantu publik terhindar dari panik yang tidak perlu dan keputusan kesehatan yang keliru.
Baca Juga
-
Fakta Menarik Trofi Emas Piala Dunia: Pernah Dicuri, Bukan Milik Sang Juara
-
Timberland Boots: Berawal Dari Sepatu Tukang Jadi Ikon Rapper Dunia Hip Hop
-
JisuLife Ultra 2: Kipas Portable Premium dengan Berbagai Fungsi Menarik!
-
ROG Zephyrus Duo, Laptop Dua Layar dengan RTX 5090 Seharga Mobil Bekas!
-
Bawa Argentina Menang 3-0, Messi Cetak Hattrick Pertama di Piala Dunia 2026
Artikel Terkait
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Pertolongan Pertama saat GERD Kambuh, Ini 5 Langkah yang Bisa Dilakukan
-
Bela Sejawat Spesialis Jantung, Dokter Tirta Emosi Skakmat Netizen Soal Mitos GERD dan Lula Lahfah
-
Bantah Mitos GERD di Kasus Lula Lahfah, Dokter Spesialis Jantung Skakmat Netizen
-
Bukan Overdosis, Riwayat Medis Lula Lahfah Diungkap Polisi dan Keluarga
Health
-
Jangan Asal Lahap! Perhatikan Bahaya Asam Domoat pada Kepiting dan Cumi-Cumi
-
Diam-Diam Mengintai, Infeksi TORCH Bisa Berdampak Sejak Dini pada Janin
-
Terapi Gratis Anti-Stres: Keajaiban Memeluk Pohon yang Jarang Disadari
-
Sering Capek Padahal Nggak Ngapa-ngapain? Bisa Jadi Otakmu 'Kelebihan Muatan'
-
Waspada Bahaya Abu Vulkanik, Dokter Ini Bagikan 4 Tips untuk Lindungi Diri
Terkini
-
Gonta-Ganti Aplikasi Birokrasi: Gen Z Butuh Efisiensi, Bukan Viral
-
Navigasi Quarter-Life Crisis: Menemukan Ketenangan di Tengah Ketidakpastian
-
Bibir Makin Cerah dan Fresh! 4 Rekomendasi Lip Tint Mengandung Vitamin C
-
Review Forgotten Island: Emosinya Kuat, tapi Konfliknya Terlalu Main Aman
-
Bahaya Makanan Ultra-Proses Bagi Gen Z: Bikin Kenyang Sesaat, Merusak Mental Kemudian