Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Goat (IMDb)
Ryan Farizzal

Ketika Sony Pictures Animation mengumumkan GOAT pada Mei 2024, banyak yang skeptis. Sebuah film animasi tentang seekor kambing yang ingin jadi atlet di dunia hewan antropomorfik? Kedengarannya seperti gimmick murahan. Akan tetapi, setelah penayangan perdana pada 13 Februari 2026, GOAT ternyata menjadi salah satu kejutan terbesar tahun ini.

Disutradarai oleh Tyree Dillihay dalam debut layar lebarnya bersama co-director Adam Rosette, dan ditulis oleh Aaron Buchsbaum serta Teddy Riley, film ini bukan sekadar dongeng olahraga biasa. Dengan durasi 100 menit, GOAT menggabungkan komedi, aksi intens, dan drama coming-of-age yang hangat, diproduksi oleh Sony Pictures Animation bekerja sama dengan Unanimous Media milik Stephen Curry.

Film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 13 Februari 2026, tepat sehari setelah rilis global di Amerika Serikat dan Inggris. Di tanah air, penonton bisa menikmatinya di jaringan besar seperti Cinema XXI, CGV Cinemas, dan Cinepolis dengan format 2D standar serta beberapa sesi Dolby Cinema di kota-kota besar. Rating usia SU membuatnya cocok untuk keluarga, meski aksi roarball-nya cukup brutal dan energik untuk anak-anak di atas 7 tahun.

Sinopsis: Dunia Vineland dan Olahraga Roarball

Salah satu adegan di film Goat (IMDb)

GOAT berlatar di dunia Vineland, kota yang dihuni hewan-hewan berpakaian dan berbicara layaknya manusia. Di sini, roarball bukan sekadar olahraga—ia adalah agama. Roarball adalah permainan kontak penuh, campur aduk pria-wanita, yang menggabungkan elemen basket, rugby, dan sepak bola Amerika dengan intensitas tinggi. Pemainnya adalah hewan-hewan terbesar dan terganas: badak, macan kumbang, kuda, hingga komodo yang bisa menyemburkan api. 

Protagonis kita adalah Will Harris (disuarakan Caleb McLaughlin), seekor kambing Boer mungil yang sejak kecil terobsesi dengan roarball. Will tumbuh besar dengan idolanya, Jett Fillmore (Gabrielle Union), kapten tim Vineland Thorns yang legendaris.

Meski tubuhnya kecil dan sering diremehkan, Will mendapat kesempatan emas: bergabung dengan Thorns setelah aksi one-on-one yang viral melawan bintang rival, Mane Attraction (Aaron Pierre). Di sini, Will harus membuktikan bahwa yang kecil pun bisa bermain besar di tengah tim yang penuh keraguan, bullying, dan rivalitas sengit.

Review Film Animasi GOAT

Salah satu adegan di film Goat (IMDb)

Salah satu kekuatan terbesar GOAT adalah gaya animasinya yang segar dan inovatif. Sony Pictures Animation, yang sebelumnya sukses dengan Spider-Man: Across the Spider-Verse dan KPop Demon Hunters, kembali bereksperimen. Visual GOAT bukan ala Pixar yang hiper-realistis, melainkan lebih ekspresif, penuh warna, dan sedikit impresionistik—mirip lukisan jalanan yang hidup.

Arena roarball dirancang spektakuler: dari lapangan neon yang berubah-ubah, hingga slow-motion aksi lompatan yang membuatku ikut tegang. Adegan pertandingan bukan sekadar aksi, tapi koreografi visual yang indah, dengan efek cahaya, partikel, dan gerakan kamera yang dinamis. Animasi bulu hewan-hewan terasa hidup, ekspresi wajah mereka penuh emosi, dan desain karakter unik—dari Jett yang anggun tapi garang, hingga Modo Olachenko (Nick Kroll) si komodo konyol.

Caleb McLaughlin sebagai Will memberikan penampilan yang tulus dan energik. Suaranya membawa kerapuhan sekaligus tekad baja yang meyakinkan. Gabrielle Union sebagai Jett Fillmore adalah MVP sebenarnya—ia membawa kedalaman pada karakter mentor yang tangguh tapi rapuh di balik topeng kesuksesan.

Stephen Curry sendiri muncul sebagai Lenny Williamson, memberikan sentuhan autentik dari dunia basket sungguhan (ia juga produser film ini, terinspirasi dari perjuangannya sendiri sebagai underdog NBA).

Pendukung seperti David Harbour sebagai badak Archie Everhardt, Nick Kroll sebagai Modo, dan Aaron Pierre sebagai antagonis karismatik Mane Attraction, semuanya solid. Chemistry antar karakter terasa alami, terutama hubungan Will-Jett yang menyentuh hati.

Di balik aksi dan humor, GOAT menyampaikan pesan universal tentang ketekunan, kesetaraan, dan keberagaman. Film ini mengkritik budaya big animal only di dunia olahraga—metafor yang relevan dengan isu diskriminasi ukuran tubuh, gender, dan latar belakang di dunia nyata.

Ada momen bullying yang ditangani dengan sensitif tapi lucu, persahabatan yang tumbuh dari konflik, dan pentingnya kerja tim. Seperti Rocky atau Hoosiers versi hewan, GOAT adalah underdog story klasik, tapi dieksekusi dengan segar. Komedinya cerdas, tidak murahan, dengan lelucon visual dan dialog yang bisa dinikmati semua umur. Elemen keluarga—hubungan Will dengan ibunya (Jennifer Hudson)—menambah lapisan emosional yang membuat film ini lebih dari sekadar hiburan.

Kelebihannya sih kurasa ada pada visual yang spektakuler, aksi roarball yang adiktif, pesan inspiratif yang tidak klise, dan cast suara top-tier. Film ini berhasil jadi feel-good movie sempurna untuk musim dingin 2026. Kekurangan: Plotnya memang formulaik—siapa yang tak bisa menebak endingnya? Beberapa subplot terasa terburu-buru, dan humornya kadang terlalu berisik untuk penonton dewasa yang mencari kedalaman lebih. Akan tetapi, ini bukan film yang berpura-pura jadi Oscar contender; ia tahu targetnya adalah keluarga dan penggemar olahraga.

Jadi kesimpulannya, GOAT adalah slam dunk bagi Sony. Dengan rating IMDb 6.8/10 dan review positif dari kritikus (banyak yang beri 8/10 karena visual dan energi), film ini layak ditonton di bioskop untuk pengalaman maksimal. Bagi yang suka Zootopia tapi ingin sesuatu yang lebih liar dan penuh aksi, GOAT adalah pilihan tepat. Ia membuktikan bahwa mimpi besar tak butuh tubuh besar—cukup hati yang tak pernah menyerah.

Film ini sangat aku rekomendasikan ditonton di bioskop terdekat di kotamu. Rating pribadi dariku: 8.5/10. Ini bukan sekadar film animasi; ini pengingat bahwa siapa pun bisa jadi Greatest Of All Time.