Analisis Karakter Animal Farm: Saat Babi Berkuasa dan Relevansinya dengan Politik Modern

M. Reza Sulaiman | Taufiq Hidayat
Analisis Karakter Animal Farm: Saat Babi Berkuasa dan Relevansinya dengan Politik Modern
Animal Farm adalah sebuah satir politik yang tajam tentang revolusi hewan yang berubah menjadi tirani, mencerminkan sisi gelap kekuasaan manusia. (Dok.Pribadi/Taufiq)

Apa yang terjadi jika sebuah mimpi mulia tentang kesetaraan justru berakhir menjadi tirani yang lebih kejam daripada sebelumnya? Pertanyaan inilah yang menghantui sepanjang saya membaca Animal Farm.

Berawal dari visi Major, si babi tua bijaksana, hewan-hewan di Peternakan Manor milik Tuan Jones memutuskan untuk memberontak. Mereka ingin lepas dari perbudakan manusia yang selama ini merampas telur, susu, hingga anak-anak mereka tanpa pernah memedulikan kesejahteraan para hewan.

Transformasi Menuju Kegelapan

Revolusi pun pecah. Di bawah pimpinan babi-babi cerdas seperti Snowball, Napoleon, dan Squealer, Peternakan Manor berganti nama menjadi Peternakan Hewan. Mereka menetapkan "Tujuh Perintah" sebagai konstitusi dan lagu "Binatang Inggris" sebagai simbol kemerdekaan.

Namun, sebagaimana sejarah sering berulang, kekuasaan terbukti memabukkan. Seiring berjalannya waktu, peternakan itu berubah menjadi miniatur negara yang penuh dengan intrik: perebutan kekuasaan, praktik korupsi, penyebaran fitnah, hingga eksekusi bagi siapa saja yang dianggap pengkhianat.

Simbolisme Karakter dan Golongan Masyarakat

Membaca novel ini terasa seperti membedah sisi gelap birokrasi. Meskipun menggunakan tokoh hewan, Orwell sebenarnya sedang melukiskan wajah manusia.

  1. Major adalah pionir kemerdekaan yang ideologinya sering kali disalahgunakan setelah ia tiada.
  2. Snowball mencerminkan rekan seperjuangan yang dikhianati dan disingkirkan.
  3. Napoleon adalah prototipe penguasa diktator yang licik, sementara Squealer menjadi mesin propaganda yang mahir memutarbalikkan fakta.
  4. Hal yang paling menyesakkan bagi saya adalah Boxer, si kuda pekerja yang jujur namun naif, mencerminkan rakyat kelas bawah yang bekerja keras demi pemimpinnya tanpa sadar bahwa mereka sedang dieksploitasi.
  5. Ada pula Muriel (kambing) yang mengerti situasi namun enggan bertindak, serta Moses (gagak) yang melambangkan suara-suara lain yang mencari celah di tengah kekacauan.

Hilangnya Nilai Kemanusiaan dalam Politik

Dunia manusia memiliki "nilai kemanusiaan", maka dalam konteks ini, izinkan saya menyebutnya sebagai "nilai kehewanan". Ketika hewan-hewan ini mulai terobsesi pada kekuasaan, mereka perlahan kehilangan nilai tersebut. Empati lenyap, persahabatan dikhianati, dan segala cara dianggap sah demi ambisi pribadi. Fenomena ini sangat identik dengan perilaku manusia; saat kursi jabatan menjadi tujuan utama, nurani sering kali menjadi tumbal pertama.

Setelah menuntaskan novela ini, sebuah pertanyaan besar muncul di benak saya: "Apa yang sebenarnya dirasakan oleh mereka yang kini duduk di kursi pemerintahan dengan jabatan-jabatan mentereng? Apakah mereka benar-benar memikirkan rakyat, atau hanya sibuk mengamankan nikmat sesaat?" Narasi kelam dalam buku ini terasa begitu relevan dengan dinamika politik yang sering kita saksikan saat ini.

Saya akhirnya memahami mengapa mahakarya klasik ini tetap abadi melintasi zaman. Animal Farm akan selalu menemukan relevansinya selama struktur kekuasaan dan negara masih berdiri. Ia bukan sekadar fabel untuk anak-anak, melainkan cermin retak bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana idealisme bisa hancur di tangan keserakahan. Sebuah bacaan wajib bagi siapa pun yang peduli pada isu keadilan dan kemanusiaan.

Identitas Buku:

  • Judul: Animal Farm
  • Penulis: George Orwell
  • Penerjemah: Prof. Bakdi Soemanto
  • Penyunting: Ika Yuliana Kurniasih
  • Penerbit: Bentang Pustaka
  • Terbit: Juni 2021, cetakan ke-12
  • Tebal: iv + 144 hlm.
  • ISBN: 9786022912828

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak