Buku ini menarik dibaca. Sangat cocok dijadikan sebagai panduan sekaligus motivasi bagi kalian yang ingin menekuni dunia kepenulisan atau jurnalistik. Judul buku karya Udin Suchaini yang diterbitkan oleh CV. Markumi (Boyolali) ini cukup panjang: Menjual Gagasan dengan Tulisan, Step by Step Menulis Feature News (Eksposisi, Opini, dan feature) Jurus Jitu Menembus Media Massa.
Hal yang penting digarisbawahi dalam buku ini bahwa menulis bukanlah bakat, namun tentang mengutarakan apa yang dirasakan. Keluh kesah, kegalauan, kegelisahan, pendapat, cerita, menjelaskan. Bahkan salah satu media sosial pun semakin menantang seseorang untuk menulis singkat: Apa yang Anda pikirkan sekarang? Tantangannya, bagaimana tulisan kita terstruktur, memiliki sudut pandang yang dapat dipahami oleh pembaca. Tulisan bernilai lebih jika ada cantolan peristiwa, fakta, dan data yang dapat disematkan.
Menjadi pendengar yang baik merupakan salah satu syarat bagi calon penulis profesional. Dari mendengarkan pendapat atau opini orang-orang di sekitar kita, sudut pandang kita dalam memahami sesuatu akan semakin luas dan obyektif.
Sayangnya, tak semua orang mau menjadi pendengar yang baik. Orang lebih cenderung ingin berbicara tanpa mau dibantah atau didebat dan enggan mendengar pendapat orang lain.
Benar kiranya apa kata Udin Suchaini dalam buku ini, bahwa sebagian dari kita adalah pembantah yang setia. Tak mau mendengarkan orang lain, suka mematahkan pendapat orang lain. Lebih dari itu, kita suka memotong pembicaraan. Ini masalah serius dan paling fatal ketika kita akan menulis. Dampaknya, tulisan kita akan menggurui, merasa paling benar.
Pemikiran ini perlu diperbaiki. Dengarkan, meski pendapatnya salah. Pahami, meski uraiannya tidak sesuai dengan kenyataan. Yang perlu dipahami adalah sudut pandang orang lain, bukan sekadar isi pembicaraannya. Merasa benar sendiri hanya akan membuat kita gagal dalam mengembangkan ide yang akan ditulis (halaman 5).
Setiap orang terlahir dengan karakter yang berbeda-beda. Atau dengan kata lain, setiap orang itu unik. Bagi calon penulis, menggali keunikan yang ada dalam diri merupakan hal yang harus terus diupayakan. Jadikan keunikan berpikir sebagai modal untuk menulis.
Seorang penulis harus mampu ‘menjual’ ide atau gagasan yang ada dalam benaknya. Gagasan yang berbeda dari orang-orang kebanyakan. Dengan gagasan yang tertuang dalam bentuk tulisan itu kita dapat memberikan pencerahan atau memantik motivasi bagi para pembacanya.
Dalam buku ini diuraikan, menjual diri adalah tentang berbeda pendapat dari kebanyakan orang. Bukan tentang berbeda pemahaman, namun Anda memiliki informasi lain dari sudut pandang yang berbeda. Meskipun Anda tidak sependapat, bukan berarti orang lain salah.
Hal lain yang cukup menarik dari menekuni dunia kepenulisan adalah, kita bisa mencurahkan ide sekaligus mendapatkan fee dari hasil tulisan kita. Banyak media massa yang menyediakan rubrik atau kolom untuk para penulis. Sebagian media massa tersebut biasanya memberikan imbalan atau honor yang akan diterima ketika tulisan kita berhasil lolos dan dimuat di media massa tersebut.
Nah, bagi Anda yang tertarik menekuni dunia kepenulisan, buku ini bisa dijadikan sebagai salah satu panduan menarik yang akan mengantarkan mimpi Anda menjadi kenyataan. Selamat membaca.
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
-
Angkat Tema Energi Berdaulat untuk Indonesia Kuat, PLN Journalist Awards 2025 Apresiasi 18 Karya
-
Jadi Pelajar Harus Sukses: Upaya Menggali Motivasi Belajar
-
Tulisan Nggak Laku: Mengapa Naskah Anda Belum Menemukan Pembacanya?
-
Menulis demi Cinta atau Cuan: Saat Kata-kata Kehilangan Magisnya
-
Siap Rilis Film Baru, Charlie's Angels Gandeng Penulis Crazy Rich Asians
Ulasan
-
Menyusuri Jejak Peradaban Islam di Baghdad Lewat Catatan Hamka
-
Ulasan Drama Unnatural Fire, Tiga Detektif Kebakaran Penyingkap Tabir Kelam
-
Antidot Budaya Konsumtif: Mengapa Mahakarya Tolstoy Tahun 1886 Semakin Relevan Sekarang?
-
Teror Tanpa Jumpscare Berlebihan, 'Kucing Hitam' Buktikan Horor Atmosferik Lebih Mengerikan
-
Guru Juga Bisa Kecewa: Membaca Aib dan Martabat Karya Dag Solstad
Terkini
-
Film Crayon Shin-chan ke-33 Rilis Trailer Baru, Ungkap Lagu Tema oleh TOMOO
-
Simak! Ini Modus Baru Penipuan Digital yang Sedang Marak di Indonesia dan Dunia
-
Siap-siap Tertawa! Ge Pamungkas Bakal Rilis Stand-up Spesial GOAT di Netflix
-
Tak Hanya iPhone, OPPO Find X9 Ultra Bisa Upload Story Instagram Lebih HD!
-
MEOVV Tampilkan Pesona Elegan Tapi Garang di Lagu Terbaru, Ddi Ro Ri