Ketertarikan saya pada novel ini bermula dari satu istilah yang begitu kuat: Bissu. Dalam kosmologi Bugis, Bissu adalah identitas gender kelima yang unik; mereka bukan laki-laki, bukan pula perempuan. Mereka hadir sebagai penengah, pengisi kekosongan, dan jembatan sakral yang menghubungkan manusia dengan Dewata.
Faisal Oddang membawa kita mengikuti perjalanan hidup Mapata menuju takdirnya sebagai seorang Bissu. Mapata memulai pengabdiannya sebagai toboto—asisten sekaligus calon Bissu—di kediaman Puang Matua Rusmi, pemimpin Bissu di daerah Wajo. Meskipun desas-desus miring kerap menghantui posisi toboto sebagai sosok yang bisa "digunakan" atau dieksploitasi oleh sang pemimpin, Mapata tidak gentar. Ia memiliki keyakinan batin yang teguh bahwa jalannya memang di sana. Inilah esensi dari judul Tiba Sebelum Berangkat (Mappale’ba Ada’)—sebuah pepatah Bugis yang bermakna mengetahui tujuan akhir bahkan sebelum perjalanan itu sendiri dimulai.
Ingatan yang Tak Bisa Dicuri oleh Penyiksaan
Narasi novel ini terasa sangat intim sekaligus menyesakkan karena Mapata menceritakan kisahnya dalam kondisi tubuh yang hancur. Lidahnya terputus dan raganya penuh luka akibat penyiksaan kejam. Namun, Mapata menegaskan bahwa meski tubuh bisa dipatahkan, pikiran dan ingatan adalah milik pribadi yang tidak akan pernah bisa dicuri oleh siapa pun.
Kisah ini dituliskan Mapata atas desakan Ali Baba, anggota kelompok pembela agama yang bertugas "menertibkan" penganut keyakinan di luar ajaran resmi negara. Melalui pengakuan Mapata, kita dibawa menengok sejarah kelam Sulawesi Selatan pascakemerdekaan Indonesia. Masa itu adalah periode kelam bagi komunitas Bissu; mereka dipaksa bertobat, melafalkan kalimat syahadat di bawah ancaman, dan menjadi korban di tengah pusaran konflik politik antara gerilyawan, TII (Tentara Islam Indonesia), KNIL, dan sekutu.
Riset Mendalam di Balik Fiksi yang Brutal
Sebuah karya fiksi sejarah yang baik adalah yang mampu membuat pembacanya bertanya-tanya: "Apakah tragedi ini benar-benar terjadi?" Meski Faisal Oddang menekankan bahwa ini adalah fiksi, riset mendalam yang ia lakukan sangat terasa dalam setiap detail peristiwa. Tidak mengherankan jika novel ini berhasil masuk dalam daftar 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2018.
Namun, saya merasa perlu memberikan peringatan bagi calon pembaca: siapkan mental dan buka hati Anda seluas-luasnya. Narasi dalam buku ini sangat kasar, jujur, dan penuh kekejaman yang deskriptif. Ini bukan jenis bacaan yang bisa dinikmati dengan santai, apalagi sambil makan. Kekerasan yang digambarkan merupakan cermin dari realitas sejarah yang memang pernah terjadi dan amat memilukan.
Simbolisme Kucing dan Pelestarian Budaya
Ada satu detail menarik yang mungkin luput dari pandangan sekilas: gambar kucing pada sampulnya. Dalam novel ini dijelaskan bahwa kucing adalah hewan yang sangat terhormat dalam kebudayaan suku Bugis. Kehadiran simbol-simbol seperti ini menunjukkan betapa Faisal Oddang sangat konsisten dan berdedikasi dalam mengangkat kekayaan budaya Sulawesi Selatan ke dalam fiksi.
Strategi Faisal dalam membungkus sejarah lewat cerita fiksi yang kuat merupakan cara yang brilian untuk menjangkau generasi muda. Melalui buku ini, para pemuda—khususnya di Sulawesi Selatan—diajak untuk tidak melupakan akar sejarah mereka, betapapun pahitnya kenyataan yang pernah dihadapi oleh leluhur mereka di masa lalu.
Kesimpulan
Tiba Sebelum Berangkat adalah sebuah mahakarya yang menuntut perhatian penuh dari pembacanya. Ia tidak hanya menawarkan cerita tentang identitas gender, tetapi juga tentang keteguhan iman, kekejaman politik, dan kekuatan ingatan manusia. Faisal Oddang telah berhasil mengubah sejarah yang nyaris terlupakan menjadi sebuah narasi yang abadi dan menggugah kesadaran.
Identitas Buku:
- Judul Buku: Tiba Sebelum Berangkat
- Pengarang: Faisal Oddang
- Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
- Tahun Terbit: 2018
- Jumlah Halaman: 216
- Genre: Fiksi
- ISBN: 9786024243531
Baca Juga
-
Navigasi Maba: Jangan Sampai Mabuk Organisasi Merusak Kuliah yang Wajib
-
Kue Ketan Politik dan Jeritan Dompet Rakyat di Tengah Badai Inflasi 2026
-
Antidot Budaya Konsumtif: Mengapa Mahakarya Tolstoy Tahun 1886 Semakin Relevan Sekarang?
-
Jojo Rabbit: Ketika Komedi Gelap Membedah Kengerian Perang Dunia II
-
Arafat Nur dan 'Lampuki': Ketika Humor Satir Bertemu dengan Tragedi Kemanusiaan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Film Garuda di Dadaku: Animasi Epik yang Membakar Semangat Muda!
-
Dua Sisi: Belajar Menerima Kehidupan dari Berbagai Sudut Pandang
-
Belajar Mengambil Keputusan Lewat The Decision Book Karya Mikael Krogerus
-
Gunung Kembang: Pendakian Singkat dengan Pemandangan Memikat
-
Film Colony dan Kaitannya dengan Sains yang Hilang Nurani dan Moralitas
Terkini
-
Ekonomi Sirkular Jadi Solusi Atasi Sampah Menumpuk, Efisien Diterapkan?
-
Film Aksi Komedi 24 Jump Street Resmi Digarap, Aksi Dua Polisi Kocak Schmidt dan Jenko Kembali
-
Piala Dunia 2026 Disebut yang Terbesar Sepanjang Masa, Ini Alasannya!
-
Perfect Storm 2026: Saat Harga Pertamax Meroket Bersamaan dengan Ledakan PHK Massal
-
Chae Won Bin Bintangi Drama Sageuk Baru, Kisahkan Cinta Dayang dan Pangeran