Dua Sisi: Perihal Rasa yang Tak Selalu Sama karya Andre Rianda diterbitkan pada tahun 2019 oleh TransMedia Pustaka. Buku ini tidak hanya berbicara tentang cinta dalam pengertian romantis, tetapi juga mengajak pembacanya memahami berbagai bentuk rasa yang hadir dalam kehidupan.
Melalui bahasa yang sederhana dan dekat dengan keseharian, buku ini menyampaikan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan dan setiap manusia memiliki sisi cerita yang berbeda.
Isi Buku
Buku setebal 176 halaman ini mengangkat gagasan bahwa kebersamaan tidak selalu lahir karena kesamaan. Sebagaimana tertulis pada pengantar buku, bersama bukan hanya karena ingin, bukan pula karena takut kehilangan. Kebersamaan adalah proses belajar menerima, memahami, dan bertumbuh bersama. Pesan tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan keseluruhan isi buku.
Secara garis besar, Dua Sisi menggambarkan kehidupan melalui dua perspektif yang berbeda. Pembaca diperkenalkan pada tokoh yang hidup dalam kekecewaan, kesedihan, dan keterpurukan akibat hubungan yang tidak harmonis dengan sang ayah. Luka masa lalu membuat hidupnya dipenuhi kemarahan dan keinginan untuk menyerah. Bahwa setiap orang memiliki perjuangan masing-masing dan tidak semua hal dapat dinilai dari apa yang tampak di permukaan.
Salah satu keunggulan buku ini adalah cara penyampaiannya yang terasa personal. Awalnya kukira isi buku ini merupakan kumpulan puisi karena kalimat-kalimatnya pendek, puitis, dan multitafsir. Namun setelah membacanya lebih jauh, aku menemukan bahwa buku ini lebih menyerupai catatan refleksi atau buku harian yang berisi pengalaman, pemikiran, serta pengingat tentang kehidupan.
Gaya bahasa yang ringan membuat pesan-pesan yang disampaikan mudah dipahami oleh berbagai kalangan, khususnya remaja dan dewasa muda.
Buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu Dulu, Sekarang, dan Nanti. Pembagian tersebut seolah menggambarkan perjalanan hidup manusia. Bagian Dulu mengajak pembaca menengok masa lalu yang penuh pelajaran. Bagian Sekarang berbicara tentang proses menerima kenyataan dan menjalani kehidupan saat ini. Sementara bagian Nanti berisi berbagai renungan tentang harapan, perbaikan diri, dan masa depan yang lebih baik.
Beberapa tulisan dalam buku ini sangat membekas karena kedekatannya dengan pengalaman banyak orang. Salah satunya adalah bagian berjudul Mengagumi yang menggambarkan perasaan mengagumi seseorang dari jauh tanpa harus memiliki. Tulisan tersebut menunjukkan bahwa tidak semua rasa harus berakhir dengan kepemilikan. Terkadang, menghargai dan mendoakan dari kejauhan sudah menjadi bentuk kasih yang cukup.
Kelebihan dan Kekurangan
Terdapat pesan mendalam mengenai penerimaan. Andre Rianda mengingatkan bahwa jalan hidup tidak selalu lurus dan mulus. Manusia akan menghadapi kegagalan, kehilangan, serta berbagai bentuk luka. Namun justru dari pengalaman itulah seseorang belajar memahami arti sabar, mengalah, meminta maaf, dan mengakui kesalahan. Pesan-pesan semacam ini menjadikan Dua Sisi bukan sekadar bacaan hiburan, tetapi juga sarana introspeksi diri.
Dari segi visual, buku ini memiliki desain sampul yang menarik dan beberapa ilustrasi yang mendukung suasana bacaan. Meskipun tidak terdapat gambar di setiap halaman, elemen visual yang ada cukup membantu pembaca menikmati isi buku dengan lebih nyaman.
Dua Sisi: Perihal Rasa yang Tak Selalu Sama merupakan buku yang mengajak pembaca memahami bahwa kehidupan memiliki banyak sudut pandang. Tidak semua rasa berjalan baik-baik saja, tidak semua hubungan memiliki jawaban yang pasti, dan tidak semua perjalanan hidup berakhir sesuai keinginan.
Namun melalui proses menerima, memahami, dan terus bertumbuh, manusia dapat menemukan makna di balik setiap pengalaman. Inilah yang membuat buku karya Andre Rianda layak dibaca oleh siapa saja yang sedang belajar memahami kehidupan dan berbagai rasa yang menyertainya.
Identitas Buku
- Judul: Dua Sisi (Perihal Rasa yang Tak Selalu Sama)
- Penulis: Andre Rianda
- Penerbit: TransMedia Pustaka
- Tahun Terbit: 2019
- Tebal: x + 176 halaman
- ISBN: 978-623-7100-15-7
- Kategori: Sajak, Puisi, Prosa, Refleksi Diri
Baca Juga
-
Menelusuri Jejak Sunan Giri dalam Balut Sejarah di Novel Saga dari Samudra
-
Isabel Blumenkol: Potret Kecemasan Manusia dalam Cerpen Pamusuk Eneste
-
Menyembuhkan Luka yang Belum Usai di Novel Restart
-
15 Tahun Penantian dan Cinta yang Setara di Drama Korea Lovely Runner
-
Seni Menertawakan Luka yang Tak Terlihat di Buku Furiously Happy
Artikel Terkait
Ulasan
-
Belajar Mengambil Keputusan Lewat The Decision Book Karya Mikael Krogerus
-
Gunung Kembang: Pendakian Singkat dengan Pemandangan Memikat
-
Film Colony dan Kaitannya dengan Sains yang Hilang Nurani dan Moralitas
-
Teori Konspirasi dan Friendship Manis dalam Anime Mr. Love: Queen's Choice
-
Menelusuri Jejak Sunan Giri dalam Balut Sejarah di Novel Saga dari Samudra
Terkini
-
Ekonomi Sirkular Jadi Solusi Atasi Sampah Menumpuk, Efisien Diterapkan?
-
Film Aksi Komedi 24 Jump Street Resmi Digarap, Aksi Dua Polisi Kocak Schmidt dan Jenko Kembali
-
Piala Dunia 2026 Disebut yang Terbesar Sepanjang Masa, Ini Alasannya!
-
Perfect Storm 2026: Saat Harga Pertamax Meroket Bersamaan dengan Ledakan PHK Massal
-
Chae Won Bin Bintangi Drama Sageuk Baru, Kisahkan Cinta Dayang dan Pangeran