Di jagat perfilman masa kini, sulit menemukan karya yang mampu menggugat narasi kepahlawanan sejarah dengan begitu ganas sekaligus anggun seperti Magellan (2025), mahakarya terbaru sineas Filipina Lav Diaz. Sang sutradara yang sudah terkenal lewat film-film berdurasi epik dan ritme slow cinema—seperti Norte, the End of History maupun A Lullaby to the Sorrowful Mystery—kini menghadirkan sebuah saga sejarah berbahasa Portugis dan Spanyol berdurasi 163 menit, dengan Gael García Bernal memerankan Ferdinand Magellan, penjelajah Portugis yang melegenda.
Bukan biografi biasa, film ini adalah pembongkaran tajam terhadap dongeng kolonialisme Eropa, memperlihatkan bagaimana nafsu penaklukan berujung pada kehancuran kemanusiaan dan moral. Setelah debut dunia di Festival Film Cannes 2025, Magellan akhirnya mendarat di bioskop Indonesia pada Desember 2025, tayang serentak di jaringan CGV, XXI, Cinepolis, dan lain-lain—momen tepat di akhir tahun bagi penonton yang rindu akan karya sinema yang dalam dan mengguncang.
Perjalanan Tragis Magellan dari Lisboa ke Filipina
Cerita dimulai dari pernikahan Magellan dengan Beatriz Barbosa pada 1517, sebuah ikatan yang penuh gairah namun rapuh, di tengah ambisi membara sang penjelajah untuk membuktikan Bumi bulat melalui rute barat ke rempah-rempah Hindia.
Lav Diaz tidak hanya menceritakan perjalanan fisik—dari pelabuhan Lisboa ke lautan Atlantik yang ganas—tapi juga perjalanan batin: obsesi Magellan yang memicu pemberontakan terhadap Raja Manuel I Portugal, yang enggan mendanai visinya.
Ekspedisi yang akhirnya didukung Spanyol membawanya ke Filipina, di mana film ini mencapai klimaks tragis. Tanpa spoiler, katakanlah Diaz menghindari glorifikasi; ia menunjukkan sisi gelap kolonialisme, di mana "penemuan" baru berarti kehancuran bagi yang tertindas. Tema ini dieksplorasi melalui lensa pasca-kolonial, mengingatkan pada karya Frantz Fanon atau Edward Said, tapi dengan sentuhan poetis khas Diaz yang membuatnya terasa segar.
Gael García Bernal, aktor Meksiko yang pernah mencuri perhatian di Y Tu Mamá También dan The Motorcycle Diaries, adalah pilihan brilian untuk peran utama. Bernal membawa kedalaman emosional yang langka ke Magellan: bukan pahlawan karismatik ala Christopher Columbus, tapi pria rapuh yang terjebak antara cinta, pengkhianatan, dan kegilaan. Tatapannya yang intens saat menghadapi badai laut atau konfrontasi dengan kru memberontak terasa autentik, seolah Bernal telah menyelami arsip sejarah Portugis.
Pendukungnya tak kalah kuat: Amado Arjay Babon sebagai sahabat setia Magellan menambahkan lapisan persaudaraan yang hangat, sementara Angela Azevedo sebagai Beatriz membawa nuansa romansa yang melankolis, penuh kerinduan yang tak tersampaikan. Ronnie Lazaro dan Hazel Orencio, aktor tetap Diaz, menghidupkan figur pendukung Filipina dengan nuansa mistis, mengontraskan keganasan Eropa dengan ketahanan lokal.
Review Film Magellan
Dari segi visual, Magellan benar-benar sebuah perayaan sinematografi yang memukau. Lav Diaz, bersama sinematografer Larry Manda, berhasil menyulap setiap frame menjadi lukisan Renaissance yang hidup: pantai-pantai Filipina berkilauan dalam cahaya senja keemasan, kabut tebal Atlantik yang menyelubungi kapal Trinidad seperti hantu masa lalu, serta puing-puing pertempuran yang sunyi senyap, seolah waktu terhenti di sana.
Palet warna earthy—cokelat tanah yang pekat, biru laut yang dingin membeku—menciptakan suasana yang menindas sekaligus memikat, di mana keelokan alam justru semakin menajamkan luka kemanusiaan yang ditorehkan kolonialisme. Editing yang ditangani sendiri oleh Diaz mengalir dengan ritme tenang namun terukur; ia sengaja menolak adegan pertempuran yang bombastis, lebih memilih menunjukkan akibatnya yang berdarah-darah dan hampa, sebagai tamparan keras terhadap segala bentuk glorifikasi kekerasan kolonial.
Hasilnya, film ini terasa lebih mirip meditasi panjang yang menghipnotis ketimbang drama petualangan biasa—sangat memanjakan penonton yang sabar dan suka merenung, tapi bisa terasa melelahkan bagi mereka yang mengharapkan tempo cepat dan ledakan adrenalin.
Musik dan suara juga patut dipuji. Skor minimalis oleh Diaz sendiri, dengan sentuhan gamelan Filipina yang subtil, menciptakan rasa asing yang mengganggu, seolah angin laut berbisik rahasia masa lalu.
Dialog dalam bahasa asli menambah autentisitas, meski subtitle Indonesia yang rapi memudahkan pemahaman. Namun, bukan berarti film ini sempurna. Durasi 163 menit terasa panjang di bagian tengah, di mana eksplorasi psikologis Magellan kadang bertele-tele, membuat narasi terasa "incomplete" meski kaya.
Kritik dariku terutama tentang kolonialisme-nya sangat tajam, tapi kadang terlalu didaktik, seperti ceramah sejarah daripada drama organik. Dibandingkan film Diaz sebelumnya, ini lebih "blockbuster" dengan budget lebih besar dan bintang internasional, tapi tetap setia pada estetika slow-nya yang anti-Hollywood.
Secara keseluruhan, Magellan adalah pengalaman sinematik yang mesmerizing dan myth-busting, sebuah anti-epik yang memaksa kita merefleksikan warisan kolonial di Asia Tenggara—termasuk Indonesia, yang pernah merasakan cengkeraman Portugis di Maluku. Ia bukan film ringan untuk akhir pekan; ini adalah undangan untuk merenung, terutama di era pasca-pandemi di mana kita mempertanyakan narasi besar.
Aku beri rating 8.5/10 bintang: wajib tonton bagi pencinta arthouse, tapi siapkan stamina untuk perjalanan emosional ini. Film ini tayang pada Desember 2025—sebuah pelabuhan singgah yang langka untuk jiwa sinema Indonesia.
Baca Juga
-
Review Lupin Part 4: Kolaborasi Teknologi Modern dan Trik Penyamaran Klasik
-
Review Godzilla Minus Zero: Ketika Teror Monster Menjadi Alegori Trauma
-
MobLand Season 2: Menguak Sisi Gelap Dinasti Kriminal Keluarga Harrigan!
-
Review Serial Prefiero la Muerte: Suguhkan Kisah Cinta Unik Berbalut Horor
-
Review The Intern: Drama Komedi Manis tentang Kehidupan Dunia Kerja Modern!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Merry Berry Love: Kisah Cinta Desainer Korea dan Petani Stroberi
-
The Enchanted Garden 2: Petualangan Seru Menyelamatkan Kebun Ajaib!
-
Ulasan Dear Hyeri: Saat Kepribadian Ganda Jadi Pelarian dari Realita
-
New BIONS by BNI Sekuritas: Mengenal Investasi Saham dengan Lebih Mudah
-
Review Lupin Part 4: Kolaborasi Teknologi Modern dan Trik Penyamaran Klasik
Terkini
-
Miskonsepsi Frugal Living: Romantisasi Kemiskinan di Balik Nasihat Hemat
-
Jokowi Beberkan Ijazah Asli di Sidang, Roy Suryo Malah Tertawa: Bisa Dipidana Jika Tudingan Meleset?
-
Fenomena Blind Box: Antara Sensasi Kejutan hingga Risiko Perilaku Konsumtif
-
Serangga Hutan Terancam Karhutla padahal Punya Dampak bagi Ekosistem
-
Maraknya Demonstrasi Mahasiswa Hari Ini dan Kenangan Masa Lalu Saya