Tayang pada Mei 2025, Our Unwritten Seoul merupakan drama slice of life yang mengangkat kisah pencarian jati diri di usia 20 hingga 30-an. Ceritanya berpusat pada dua saudara kembar dengan kehidupan yang sangat berbeda, Yoo Mi-ji dan Yoo Mi-rae, yang keduanya diperankan oleh Park Bo-young.
Semasa sekolah, Yoo Mi-ji dikenal sebagai atlet lari berbakat. Ia memiliki kemampuan fisik yang kuat, tetapi lemah dalam akademik. Hidupnya berubah drastis ketika sebuah insiden menyebabkan cedera pada kakinya, memaksanya mengubur impian sebagai atlet. Sejak saat itu, Mi-ji terpuruk dan mengurung diri selama bertahun-tahun.
Sebaliknya, Yoo Mi-rae adalah siswa berprestasi dengan kemampuan akademik yang sangat baik. Ia sering mengikuti berbagai kompetisi dan menjadi kebanggaan sekolah. Namun, kondisi fisiknya lemah dan ia sering sakit sejak kecil, sehingga harus bolak-balik dirawat di rumah sakit.
Setelah dewasa, Mi-rae merantau ke Kota Seoul dan bekerja sebagai pegawai kantoran dengan kehidupan yang stabil. Sementara itu, Mi-ji tetap tinggal di kampung halaman, bekerja serabutan, sambil menemani ibunya dan merawat nenek mereka yang sakit.
Perbedaan nasib ini membuat keduanya sering dibandingkan oleh orang sekitar, bahkan oleh ibu mereka sendiri. Hal itu membuat Mi-ji merasa dirinya gagal, tanpa mengetahui bahwa Mi-rae juga menyimpan kesulitan hidupnya sendiri.
Suatu hari, saat Mi-ji mengunjungi Mi-rae di Seoul, ia mengetahui fakta mengejutkan tentang kehidupan saudara kembarnya. Dari sinilah mereka mengambil keputusan ekstrem seperti yang sering mereka lakukan di masa sekolah, yaitu bertukar peran.
Saat saling menjalani dan mempelajari kehidupan masing-masing setelah tukar peran, Mi-ji bertemu kembali dengan cinta pertamanya, Lee Ho-su (Park Jin-young), yang kini bekerja sebagai pengacara di Seoul. Sementara itu, Mi-rae bertemu dengan Han Se-jin (Ryu Kyung-soo), pemilik perkebunan stroberi tempat Mi-ji seharusnya bekerja. Pertukaran ini membawa keduanya pada perjalanan memahami diri sendiri dan kehidupan masing-masing.
Review Our Unwritten Seoul
Our Unwritten Seoul menjadi salah satu drama slice of life favorit saya di tahun 2025. Kisah yang disajikan terasa sangat hangat dan dekat dengan kehidupan nyata. Ceritanya menggambarkan fase pencarian jati diri yang sering dialami usia 20 hingga 30-an, terutama ketika hidup terasa tertinggal sebab seringnya dibandingkan dengan orang lain.
Karakter Yoo Mi-ji menjadi representasi bagi banyak orang yang kehilangan arah setelah satu-satunya kemampuan yang dimiliki tiba-tiba hilang. Ketika impian yang selama ini dipegang runtuh, rasa putus asa dan kehilangan harapan menjadi hal yang sangat manusiawi. Drama ini berhasil menggambarkan kondisi tersebut dengan cukup emosional.
Selain itu, hubungan keluarga dalam drama ini juga menjadi sorotan penting. Perbedaan perlakuan orang tua terhadap Mi-ji dan Mi-rae secara tidak langsung memberikan tekanan mental yang besar. Mi-rae yang lemah secara fisik lebih banyak diperhatikan, sementara prestasi akademiknya terus dibanggakan. Hal ini membuat Mi-ji merasa tertinggal dan kurang dihargai.
Drama ini seolah menjadi pengingat bahwa setelah melahirkan kita, orang tua harus menjalani perannya untuk pertama kali, sehingga kesalahan dalam pola asuh sangat mungkin terjadi. Apalagi jika diperparah dengan trauma dan luka masa lalu yang belum terselesaikan dengan baik. Namun meski demikian, membandingkan pencapaian anak-anak justru dapat menimbulkan luka yang mendalam dan membuat anak merasa gagal.
Hal tersebut mengingatkan kita kembali bahwa setiap orang memiliki fase hidup masing-masing. Hal yang tampak dan bisa kita lihat di permukaan adalah hasil dari apa yang mereka alami dan upayakan. Sementara di balik itu semua, ada perjuangan dan kesulitan yang harus mereka jalani tanpa pernah diketahui orang lain.
Pesan lain yang terasa kuat adalah tentang kesempatan untuk bangkit. Drama Our Unwritten Seoul mengingatkan bahwa seburuk apa pun kondisi saat ini, selalu ada ruang untuk memulai kembali. Bahkan ketika hidup terasa kosong, itu bukan akhir, melainkan awal dari cerita baru.
Kutipan-kutipan dalam drama ini juga menjadi salah satu daya tarik emosionalnya. Salah satu yang saya sukai, “Kemarin sudah berlalu. Hari esok belum tiba. Hari ini belum pasti.” Kalimat ini terasa seperti afirmasi yang menghangatkan, mengajak penonton untuk fokus menjalani hari ini tanpa terlalu takut pada masa depan.
Drama ini juga ditutup dengan monolog yang menyentuh. Di akhir episode digambarkan tokoh utama mengucapkan sebuah kalimat yang cukup panjang tentang kehidupan.
“Kehidupan bukan buku dengan sebuah akhir. Kehidupan adalah buku catatan yang harus kuisi sendiri. Bahkan jika kuhadapi halaman kosong, itu bukan akhir, melainkan awal. Itu adalah halaman pertama dari kisahku yang belum ditulis. Tentu saja akan ada lika-liku dan kejutan tak terduga sepanjang jalan, tapi aku akan terus mencari sebaris kebahagiaan dan aku akan terus menulis sampai aku mengisi setiap halaman.”
Pesan tersebut terasa sangat relevan bagi siapa pun yang sedang berjuang menemukan arah hidup.
Dari segi visual, akting, dan chemistry antarpemain, drama ini juga tampil solid. Park Bo-young berhasil membawakan dua karakter dengan emosi yang berbeda secara meyakinkan. Akting emosionalnya mampu membuat penonton ikut larut dalam cerita. Chemistry-nya dengan Lee Ho-su dan Han Se-jin pun sangat patut untuk diapresiasi.
Secara keseluruhan, Our Unwritten Seoul adalah drama yang hangat, reflektif, dan penuh pelajaran hidup. Bagi saya, drama ini bukanlah sekadar drama biasa, tetapi juga terasa seperti pelukan bagi orang-orang yang sedang berada di fase pencarian jati diri. Oleh karena itu, saya sangat merekomendasikan drama 12 episode ini untuk penonton usia 20 hingga 30-an yang sedang berjuang menemukan arah hidupnya.
Baca Juga
-
Review S Line: Garis Merah yang Menguak Rahasia Terdalam Manusia
-
Overthinking Masalah Keuangan: Wajar atau Berlebihan?
-
Drama The 8 Show: Saat Waktu Jadi Uang dan Nyawa Jadi Taruhan
-
Review Doubt: Misi Profiler Kawakan Misi Mencari Kebenaran atau Misi Menutupi Aib?
-
Review Film Pawn: Jangan Nonton Kalau Nggak Siap Baper soal Keluarga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Buku Pelanggan adalah Bestie: The New Era, Ketika Pelanggan Bukan Lagi Raja
-
Bedah Kitab Taisirul Khallaq: Panduan Akhlak Sehari-hari dari Ulama Mesir
-
Ukuran Monster di Troll 2 Tambah Gede, tapi Ceritanya Kok Jadi Jinak?
-
Novel Man Tiger, Misteri Pembunuhan Anwar Sadat dan Labirin Pengkhianatan
-
Tommy Shelby Kembali! Film Peaky Blinders: The Immortal Man Sajikan Fan Service yang Tajam
Terkini
-
Jangan Sampai Kelewatan! 7 Judul Terbaik Steam Spring Sale yang Harganya Hampir Gratis
-
Tetapkan Skuat Final, Ini 3 Titik Kelemahan Pasukan Garuda di FIFA Series 2026 Era John Herdman
-
XO, Kitty Season 3 Tayang 2 April, Jadi Penutup Kisah Cinta Kitty di KISS
-
Antara Meja Perundingan dan Genosida: Menanti Bukti Nyata Diplomasi Prabowo
-
Aplikasi GPS vs Realita: Ketika Google Maps Anggap Jalur Sapi sebagai Jalan Tol