M. Reza Sulaiman | Sherly Azizah
Ilustrasi uang rupiah (pexels/Defrino Maasy)
Sherly Azizah

Sore itu, di sela-sela jam istirahat kerja, saya merobek amplop slip gaji pertama saya dengan perasaan meletup-letup. Angka yang tertera di sana sebenarnya cukup untuk kebutuhan pokok dan sedikit uang jajan mingguan.

Namun, rasa bangga itu tiba-tiba menguap begitu saya membuka media sosial dan menyuguhi konten wawancara jalanan dengan tajuk menarik: "Berapa gaji kamu di usia 22 tahun?" Jawaban yang keluar dari mulut orang-orang di layar begitu santai, belasan hingga puluhan juta rupiah per bulan.

Seketika itu juga, kepuasan atas hasil kerja keras saya mengkerut, digantikan oleh rasa kecil hati yang menyesakkan. Gaji pertama saya yang pas-pasan tiba-tiba terasa seperti sebuah kegagalan yang berputar-putar.

Keresahan ini mendorong saya menelusuri literatur dalam Jurnal Ekonomi dan Ekonomi Syariah, yang menunjukkan betapa standar kesejahteraan finansial yang disajikan di ruang digital sering kali terdistorsi dan memicu kecemasan finansial berlebih pada pekerja tingkat awal (entry-level).

Pernahkah Anda merasa bahwa nominal gaji yang baru saja Anda terima tidak pernah terasa "cukup", bukan karena kebutuhan hidup yang mendesak, melainkan karena terguncang standar orang lain di internet?

Mari kita perkecil sebentar. Fenomena ini bukan lagi sekedar urusan rasa kurang bersyukur secara pribadi, melainkan kenyataan sosial yang menjangkiti generasi muda hari ini. Media sosial telah berhasil menciptakan ilusi optik bahwa gaji dua digit di usia awal 20-an adalah standar baku.

Algoritma menyukai hal-hal yang bombastis, sehingga konten yang menampilkan kesuksesan finansial ekstrem jauh lebih cepat viral dibandingkan kisah realistis perjuangan pekerja UMR. Dampaknya yang fatal: muncul depresi finansial, tekanan mental yang hebat, hingga dorongan nekat untuk mengambil jalan pintas finansial seperti pinjaman online ilegal atau investasi bodong demi mengejar gaya hidup yang melampaui kemampuan.

Jika kita menilik data upah minimum regional (UMR) serta kondisi pasar kerja dari Badan Pusat Statistik (BPS), fakta di lapangan menunjukkan hal yang bertolak belakang dengan apa yang riuh di media sosial. Kebanyakan lulusan baru (freshgraduate) di Indonesia memulai karirnya pada kisaran angka UMR atau sedikit di atasnya.

Industri juga memiliki struktur pengupahan yang rasional berdasarkan pengalaman, keahlian, dan kontribusi nyata. Standar "gaji dua digit di usia 22 tahun" yang berseliweran di internet sering kali mengabaikan variabel penting seperti faktor keberuntungan, hak istimewa kelas sosial, atau sektor industri tertentu yang memang sangat spesifik.

Secara personal, saya memandang fenomena FOMO (Fear of Missing Out) gaji dua digit ini sebagai jebakan psikologis yang mengikis kebahagiaan kita secara perlahan. Kita diajarkan untuk membenci proses pertumbuhan karier yang alami. Padahal, dunia kerja adalah sebuah tangga, bukan lift kilat.

Mewujudkan pencapaian finansial orang lain sebagai ukuran validasi diri hanya akan memenjarakan kita dalam lingkaran rasa tidak puas. Ada nilai dan kematangan yang justru terbentuk ketika kita belajar mengelola gaji pas-pasan: kedisiplinan, ketahanan mental, serta skala prioritas hidup.

Merayakan proses dan realistis terhadap kemampuan diri adalah kunci keselamatan mental di era banjir informasi ini. Pencapaian karir bukanlah lomba lari cepat untuk pembuktian di media sosial, melainkan proses pengaturan hidup jangka panjang yang harus disesuaikan dengan kapasitas dan ruang tumbuh kita masing-masing.

Bernapaslah dengan lega saat melihat slip gaji Anda bulan ini. Nominal itu mungkin belum sesuai dengan ekspektasi megah yang ditanamkan internet, tetapi itu adalah bukti sah atas kerja keras dan kemandirian Anda. Jadi, saat nanti algoritma kembali menampilkan kesuksesan finansial orang lain di layar ponsel Anda, maukah Anda memilih untuk tersenyum, menggeser layarnya, dan kembali fokus merawat proses pertumbuhan Anda sendiri?