Lintang Siltya Utami | Fathorrozi 🖊️
Kitab Al-Ahkam as-Sulthaniyyah (Dok. Pribadi/Fathorrozi)
Fathorrozi 🖊️

Dari segi judul, kitab Al-Ahkam as-Sulthaniyyah sudah memberi nuansa formal, seolah hanya cocok untuk kalangan ulama, akademisi, atau pengkaji politik Islam. Namun justru di situlah letak ketertarikannya, bagaimana sebuah karya abad pertengahan mampu membahas tata kelola negara secara sistematis.

Kitab ini termasuk dalam genre fiqh siyasah (politik Islam), dengan fokus utama pada tata kelola pemerintahan dalam kerangka khilafah. Tema yang diangkat mencakup kepemimpinan, administrasi negara, peradilan, hingga pengelolaan keuangan publik.

Dalam konteks sejarah, karya ini lahir di tengah dinamika politik Abbasiyah yang kompleks, sehingga tidak hanya normatif, tetapi juga responsif terhadap realitas sosial-politik saat itu.

Meski ditulis berabad-abad lalu, pembahasan tentang integritas pemimpin, keadilan hukum, dan tanggung jawab sosial tetap terasa relevan dengan kondisi kekinian, terutama ketika publik sering mempertanyakan etika dan kualitas kepemimpinan.

Kitab ini tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan sebagai respons atas kondisi politik yang tidak stabil pada masa Abbasiyah, ketika otoritas khalifah mulai melemah dan membutuhkan panduan normatif sekaligus operasional dalam mengelola pemerintahan.

Al-Mawardi menyusun kerangka yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif yang ditujukan bagi penguasa sekaligus masyarakat. Di satu sisi, kitab ini menjadi pedoman bagi khalifah dan aparat negara dalam menjalankan tugas. Di sisi lain, memberi masyarakat standar untuk memahami hak dan kewajiban penguasa, sehingga tercipta mekanisme kontrol sosial yang seimbang.

Isi kitabnya tersusun rapi dalam sekitar dua puluh bab yang mengurai hampir seluruh aspek pemerintahan. Pembahasan dimulai dari konsep imamah atau kepemimpinan tertinggi negara, termasuk syarat, mekanisme pengangkatan, hingga legitimasi kekuasaan. Setelah itu, Al-Mawardi menguraikan struktur birokrasi seperti wazir (pembantu khalifah), kepala daerah, hingga panglima perang.

Tidak berhenti pada struktur, kitab ini juga menyinggung fungsi-fungsi penting negara: sistem peradilan, penegakan hukum pidana, pengelolaan keuangan publik seperti jizyah dan kharaj, hingga administrasi negara (diwan). Bahkan, aspek ekonomi seperti pengelolaan sumber daya alam, tanah mati, dan fasilitas umum turut dibahas sebagai bagian dari tanggung jawab negara terhadap kesejahteraan masyarakat.

Al-Ahkam as-Sulthaniyyah tidak sekadar memotret kekuasaan sebagai otoritas, tetapi sebagai amanah yang harus dijalankan untuk kemaslahatan. Kepemimpinan diposisikan sebagai instrumen untuk menjaga agama sekaligus menata kehidupan sosial agar berjalan tertib dan adil.

Dari sisi pendekatan, Al-Mawardi memadukan dalil-dalil syariat dengan realitas politik yang dihadapinya. Ia tidak hanya mengutip teks, tetapi juga melakukan ijtihad untuk menjawab kebutuhan zaman. Karena itu, kitab ini sering dianggap sebagai salah satu fondasi penting dalam kajian fiqh siyasah (politik Islam), sekaligus contoh bagaimana tradisi keilmuan Islam merumuskan konsep negara secara komprehensif.

Kelebihan kitab ini adalah kelengkapannya sebagai panduan tata negara dalam perspektif Islam. Pembahasannya luas, mulai dari aspek teologis hingga teknis administratif. Selain itu, sistematika yang rapi memudahkan pembaca memahami struktur kekuasaan secara menyeluruh.

Namun, ada juga beberapa keterbatasan. Gaya bahasa klasik bisa menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi pembaca pemula. Selain itu, karena berakar pada konteks sejarah tertentu, beberapa konsep mungkin membutuhkan penyesuaian atau reinterpretasi agar relevan dengan sistem negara modern. Tanpa pendekatan kritis, pembaca bisa saja menganggapnya terlalu normatif.

Singkatnya, kitab ini bukan sekadar bacaan sejarah tentang pemerintahan masa lalu. Ia adalah upaya serius untuk merumuskan tata negara yang berakar pada nilai agama, namun tetap responsif terhadap dinamika sosial-politik. Sebuah karya yang meski lahir berabad-abad lalu, namun masih sering dirujuk ketika membahas hubungan antara kekuasaan, hukum, dan etika dalam Islam.

Kitab Al-Ahkam as-Sulthaniyyah cocok bagi siapa saja yang tertarik pada kajian politik Islam, sejarah pemikiran, maupun isu kepemimpinan secara umum.

Kitab ini bukan sekadar bacaan akademik, tetapi juga cermin reflektif tentang bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan.

Identitas Kitab

  • Judul: Al-Ahkam as-Sulthaniyyah
  • Penulis: Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Bashri al-Baghdadi al-Mawardi
  • Penerbit: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah (Beirut Lebanon)
  • Cetakan: V, 2015
  • Tebal:328 halaman
  • ISBN: 978-2-7451-5220-6
  • Genre: Fikih siyasah (politik Islam)