Di tengah banyaknya film luar angkasa yang penuh efek visual spektakuler, Film Spacewoman rilis dengan pendekatan yang jauh lebih personal.
Disutradarai Hannah Berryman, film dokumenter ini pertama kali tayang perdana di DOC NYC, festival film dokumenter yang digelar di New York City, pada November 2024 dengan mengangkat kisah nyata Eileen Collins, perempuan pertama yang berhasil menjadi komandan pesawat ulang-alik NASA.
Diproduksi dengan memanfaatkan arsip NASA, rekaman pribadi, serta wawancara eksklusif, ‘Spacewoman’ bukan sekadar cerita tentang pencapaian luar angkasa, lho. Melainkan juga tentang perjuangan, pengorbanan, dan realita menjadi perempuan di dunia yang didominasi laki-laki.
Penasaran dengan kisah lengkapnya? Yuk, lanjut kepoin!
Sinopsis Film Spacewoman
Film ini mengikuti perjalanan hidup Eileen Collins sejak masa kecilnya di Elmira, New York, hingga menjadi sosok bersejarah di NASA.
Terinspirasi karakter Captain Kirk, Collins mulai bermimpi terbang sejak kecil. Dia kemudian bergabung dengan Angkatan Udara Amerika Serikat pada tahun 1980-an sebelum akhirnya menembus NASA dan mencatat sejarah sebagai komandan misi pesawat ulang-alik pada 1999.
Namun, perjalanan itu nggak mudah. Film ini juga menyoroti tantangan besar yang dia hadapi, mulai dari tekanan pasca tragedi Space Shuttle Challenger disaster hingga dampak emosional dari Space Shuttle Columbia disaster terhadap keluarganya.
Betewe, karena ini merupakan film dokumenter, para tokoh tampil sebagai diri mereka sendiri, di antaranya:
- Eileen Collins
- Cady Coleman
- Charlie Camarda
- Mike Foale
- Wayne Hale
- Paul Hill
- Marcia Dunn
Kehadiran mereka memberikan perspektif yang lebih luas tentang dunia NASA sekaligus memperkuat keaslian cerita.
Review Film Spacewoman
Menurutku, cara film ini membuat ‘pencapaian besar’ terasa sangat manusiawi. Aku nggak cuma melihat Collins sebagai sosok ‘pahlawan luar angkasa’, tapi juga sebagai ibu, istri, dan individu yang harus membuat pilihan-pilihan sulit.
Aku cukup tersentuh saat film ini membahas hubungannya dengan keluarga, terutama bagaimana anaknya sempat kehilangan rasa aman setelah tragedi Columbia. Di situ terasa banget, menjadi astronaut bukan cuma soal keberanian pribadi, tapi juga tentang risiko yang ikut ditanggung orang-orang terdekat.
Dari sisi penyajian, aku suka bagaimana dokumenter ini memanfaatkan rekaman arsip. Mulai dari video NASA sampai home video keluarga. Rasanya intim dan autentik. Wawancara dengan rekan-rekan astronaut juga membantu membangun gambaran yang utuh tentang tekanan yang mereka hadapi, terutama setelah tragedi besar seperti Challenger.
Yang paling membekas buatku, film ini secara halus menyoroti seksisme yang masih ada, bahkan di lingkungan profesional seperti NASA. Pertanyaan-pertanyaan klise tentang ‘bagaimana membagi waktu antara karir dan keluarga’ terasa familier, dan jujur saja, masih relevan sampai sekarang.
Namun, di balik itu semua, Spacewoman bukan film yang terasa berat atau menggurui. Justru sebaliknya, film ini hangat, inspiratif, dan memberi harapan. Aku melihat Collins sebagai seseorang yang terus melangkah maju meskipun dunia di sekitarnya belum sepenuhnya siap menerimanya.
‘Spacewoman’ tentu saja bukan sebatas dokumenter yang penting secara sejarah, tapi juga pengalaman emosional yang terasa sangat personal bagi siapa pun yang menontonnya. Film ini nggak hanya merekam perjalanan luar biasa sosok perempuan dalam menembus batas, baik secara harfiah maupun simbolis, tapi juga menghadirkan sisi manusiawi yang seringkali terlupakan di balik pencapaian besar.
Ada rasa sepi, harapan, ketakutan, sekaligus keberanian yang dirangkai dengan begitu jujur, membuat kita bukan cuma jadi penonton, tapi seperti ikut menyelami perjalanan batinnya.
Lebih dari itu, ‘Spacewoman’ mengingatkan kita bahwa di balik setiap pencapaian monumental, selalu ada cerita kecil yang penuh perjuangan dan pengorbanan. Film ini pelan-pelan mengajak kita merenung, tentang mimpi, tentang batas yang sering kita ciptakan sendiri, dan tentang seberapa jauh kita berani melangkah untuk sesuatu yang kita yakini.
Dalam sekali seumur hidup, Sobat Yoursay wajib banget meluangkan waktu untuk nonton film ini. Bukan cuma karena nilainya sebagai dokumenter, tapi karena perasaan yang akan tinggal lama setelah filmnya selesai. Ada sesuatu yang hangat, sekaligus menggetarkan, yang mungkin nggak akan mudah kamu temukan di film lain. Selamat nonton, ya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Masih dengan Persantetan, Sebagus Apa Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa?
-
Nonton Tunggu Aku Sukses Nanti: Relatable Sih, tapi Kok Kayak Takut Terlalu Jujur
-
Paul McCartney: Man on the Run, Dokumenter yang Terlalu Menjaga Citra Idol
-
Bukan Klimaks yang Final, Danur: The Last Chapter Terasa Kecil dan Lemah
-
Film Peaky Blinders: The Immortal Man, Lebih Personal Kendati Melelahkan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Novel Notasi, Perlawanan dan Romantisme di Tengah Gejolak Reformasi 1998
-
Kitab Safinatun Najah: Kompas Canggih buat Santri biar Gak Nyasar di Samudra Dunia
-
Relatable Tapi Bikin Sesak: Film Senin Harga Naik Cocok untuk Kamu yang Pusing dengan Tekanan
-
Vibes Lebih Seram dan Gelap, Wednesday Season 2 Bongkar Rahasia Willow Hill & Burung Gagak Pembunuh
-
Dikatakan Atau Tidak Dikatakan itu Tetap Cinta: Memahami Rasa Lewat Sajak Tere Liye
Terkini
-
Ducati Superleggera V4 Centenario, Pertama yang Pakai Carbon Ceramic Brakes
-
Siap Melepas Lajang di Tahun Kuda Api: 5 Shio Ini Diprediksi Menikah Tahun 2026
-
Anne Hathaway Turun Tangan Usai Model di Devil Wears Prada 2 Terlalu Kurus
-
4 Sunscreen dengan Allantoin, Solusi Perlindungan UV untuk Kulit Meradang
-
Dandelion: Kisah Dua Malaikat Bantu Jiwa-jiwa Tersesat Siap Tayang 16 April