Awalnya aku terpikat sama gombalan di cover buku Sabdo Cinta Angon Kasih, yaitu "dalam jamu yang pahit, terdapat kamu yang manis". Tapi begitu membuka lembar pertama, otakku langsung siaga.
Aku hampir tidak pernah melewatkan kata pengantar atau ucapan terima kasih dari penulis karena bagiku itu cukup penting supaya aku bisa menaruh rasa sebelum membaca buku.
Tapi begitu baca kata pengantar otakku pusing dengan leluconnya yang terasa berbeda dua generasi. Belum lagi ketika membaca bab pertama sudah disuguhi nama tokoh pewayangan. Seketika otakku salah setel ke mode berat sehingga awalnya aku kebingungan dengan buku ini.
Tapi sebenarnya, membaca buku ini jadi lebih mudah kalau kita mengosongkan otak dan prasangka. Anggap saja nama hanyalah nama, jadi tidak akan pusing ketika baca nama-nama tokoh di sini.
Buku Sabdo Cinta Angon Kasih menghadirkan perpaduan unik antara sastra, budaya, dan kritik sosial dalam balutan gaya tutur khas Jawa yang lincah dan penuh satire.
Ditulis oleh Sujiwo Tejo yang dikenal sebagai dalang, penulis, sekaligus President Jancukers, karya ini tidak sekadar menawarkan cerita, tetapi juga cara pandang baru terhadap realitas yang sering kali kita anggap biasa.
Sinopsis Novel
Mbok Jamu berselendang ungu. Ia bukan sekadar penjual jamu keliling, melainkan simbol kompleks tentang perempuan, kekuasaan, dan kebijaksanaan yang tersembunyi. Kehadirannya menjadi sumber kebahagiaan bagi banyak orang, bukan karena kecantikan fisik, tetapi karena kemampuannya memahami posisi dan peran dalam kehidupan sosial.
Ia digambarkan sebagai konco wingking, istilah Jawa yang kerap disalahpahami sebagai posisi inferior perempuan di belakang laki-laki. Padahal maksudnya adalah seseorang yang selalu menemani.
Namun, Sujiwo Tejo membalik perspektif itu. Dalam pandangannya, hidup tidak berjalan linear, melainkan berputar seperti konsep “cokro manggilingan”, sebuah siklus nasib yang terus berulang.
Mbok Jamu, meski tampak sederhana, justru menjadi pusat gravitasi cerita, bahkan digambarkan memiliki pengaruh besar hingga ranah politik, termasuk dalam menentukan arah kepemimpinan nasional.
Narasi buku ini semakin kaya dengan kehadiran dua tokoh spiritual: Sabdo Palon dan Budak Angon. Keduanya merupakan figur mitologis yang dalam cerita berperan sebagai pengamat sekaligus pengomentar perjalanan hidup Mbok Jamu.
Mereka melihat sesuatu yang tidak mampu ditangkap oleh manusia biasa, bahwa Mbok Jamu sejatinya bukan perempuan sembarangan. Melainkan sosok yang memiliki garis takdir besar, bahkan mungkin titisan bangsawan.
Menariknya, buku ini tidak berhenti pada ranah mistik atau dongeng. Sujiwo Tejo menjadikannya sebagai medium untuk membahas isu-isu kontemporer, mulai dari fenomena sosial, budaya populer, hingga politik dan kewarganegaraan.
Berbagai peristiwa yang pernah viral di Indonesia diolah ulang dengan sudut pandang yang kadang jenaka, kadang menyentil, namun selalu mengajak pembaca berpikir lebih dalam.
Kelebihan dan Kekurangan
Gaya penceritaan dalam buku ini sangat khas: seperti mendengarkan dalang bercerita di panggung wayang. Bahasa yang digunakan merupakan campuran antara bahasa Indonesia, Jawa halus, dan slang modern, sehingga menciptakan nuansa yang cair namun menantang.
Selain itu, buku ini juga memadukan berbagai warisan budaya seperti ramalan Jangka Jayabaya dan Uga Wangsit Siliwangi. Perpaduan ini menjadikannya sebagai karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkaya wawasan budaya Nusantara.
Lebih jauh lagi, Sabdo Cinta Angon Kasih juga berbicara tentang harapan kolektif masyarakat terhadap sosok pemimpin ideal. Dalam balutan cerita yang absurd dan metaforis, tersimpan kegelisahan tentang arah bangsa dan kebutuhan akan figur yang mampu “mengangon” atau membimbing dengan kasih.
Tema ini terasa sangat relevan dengan kondisi sosial-politik Indonesia yang dinamis.
Pada akhirnya, buku ini adalah ajakan untuk melihat dunia secara lebih utuh. Ia mengingatkan bahwa kebenaran tidak selalu tunggal, bahwa yang tampak remeh bisa menyimpan makna besar, dan bahwa humor sering kali menjadi cara paling efektif untuk menyampaikan kritik.
Identitas Buku
- Judul: Sabdo Cinta Angon Kasih
- Penulis: Sujiwo Tejo
- Penerbit: Bentang Pustaka
- Tahun Terbit: November 2018
- ISBN: 9786022915140
- Tebal: 260 halaman
- Kategori: Fiksi/Novel
Baca Juga
-
Membaca Dalil-Dalil Agama Gus Dur: Menyusuri Jembatan Keilmuan Islam di Indonesia
-
Menembus Batas Diri Sendiri: Membaca Unlimited You Karya Wirda Mansur
-
Meniru Semangat Juang 3 Sekawan di Novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata
-
Buku Lelah Tapi Untuk Masa Depan: Meski Sepi, Kabar Baiknya Kamu Bertumbuh!
-
Mengunjungi Jabal Uhud: Tempat Singa Allah Beristirahat Abadi
Artikel Terkait
Ulasan
-
Surat Cinta untuk Luka Masa Muda: Mengapa 'Call Me By Your Name' Tetap Membekas?
-
Ngronggo Sport Art Center: Tempat Nyore Sederhana yang Penuh Kenangan
-
Ada Merlion Hingga Alat Santet, Ini Sensasi Menyusuri Lorong Waktu di Art Center Purworejo
-
Belajar Melambat dan Bernapas di Tengah Riuh Bundaran Satam Tanjung Pandan
-
Seluk-Beluk Distribusi Buku di Balik Kehangatan Toko Buku Kobayashi
Terkini
-
Salatiga dan Seni Merawat Perbedaan di Tengah Dunia yang Bising
-
YOASOBI Siap Gelar Tur Amerika Utara Terbesar pada Musim Panas 2026
-
Black Channel Jadi Anime TV, Kisah YouTuber Iblis Ungkap Sisi Gelap Manusia
-
Ada Dowoon dan Lee Chae Min, Variety Show Take a Hike Siap Tayang Agustus
-
Sony Resmi Adaptasi Game Bloodborne Jadi Film Animasi Dewasa