Sekar Anindyah Lamase | Davina Aulia
Siren's Kiss (x.com)
Davina Aulia

Tidak semua luka terlihat seperti luka. Dalam beberapa kasus, luka justru hadir dalam bentuk ketenangan, kontrol diri, dan wajah yang tampak baik-baik saja. Hal itulah yang saya rasakan ketika menonton Siren’s Kiss, sebuah drama Korea bergenre romantic thriller yang tayang di tvN pada 2 Maret hingga 7 April 2026 dengan total 12 episode. Dibintangi oleh Park Min-young, Wi Ha-joon, dan Kim Jung-hyun, drama ini sukses menarik banyak penonton.

Drama ini mengisahkan Han Seol-ah, seorang juru lelang seni yang tampak sempurna, elegan, dan sulit ditebak. Hidupnya mulai dipertanyakan ketika muncul pola kematian misterius dari para pria yang pernah mencintainya.

Di sisi lain, Cha Woo-seok, seorang investigator asuransi, mulai menyelidiki kasus tersebut dan menjadikan Seol-ah sebagai tersangka utama. Seiring berjalannya waktu, hubungan keduanya berubah menjadi kompleks. Antara kecurigaan, ketertarikan, dan upaya mengungkap kebenaran.

Bagi saya, Siren’s Kiss bukan hanya tentang misteri atau romansa gelap. Drama ini seperti potret seseorang yang hidup dengan luka yang belum selesai.

Han Seol-ah bukan sekadar karakter misterius, tetapi representasi dari bagaimana trauma bisa membentuk cara seseorang berpikir, merasa, dan menjalin hubungan.

Luka yang Tersembunyi di Balik Kendali Diri

Saya melihat Han Seol-ah sebagai sosok yang sangat terkendali. Ia tahu bagaimana bersikap, bagaimana berbicara, bahkan bagaimana menampilkan dirinya di depan orang lain. Namun, justru di situlah letak kejanggalannya. Dalam psikologi, kontrol berlebihan sering kali menjadi bentuk mekanisme pertahanan, yakni cara seseorang menjaga dirinya agar tidak kembali terluka.

Seol-ah tampak seperti tidak memiliki celah emosional, tetapi justru itu yang membuat saya bertanya-tanya. Apa yang sedang ia sembunyikan?

Dalam drama ini, Seol-Ah menutupi kehancurannya dibalik ketenangan. Seolah-olah, jika ia kehilangan kontrol sedikit saja, semua yang ia tahan selama ini akan runtuh.

Pola yang Terus Berulang

Hal yang paling mengganggu saya adalah pola hubungan Seol-ah yang selalu berakhir tragis. Ini bukan lagi kebetulan, melainkan sesuatu yang berulang. Dalam perspektif psikologi, kondisi ini bisa dikaitkan dengan repetition compulsion, yaitu kecenderungan seseorang untuk mengulang pengalaman menyakitkan secara tidak sadar.

Saya melihat bahwa mungkin Seol-ah tidak benar-benar memahami pola yang ia jalani. Ia seperti terjebak dalam siklus yang sama. Mendekat, terlibat, lalu kehilangan. Pertanyaannya, apakah ia sedang mencoba “memperbaiki” masa lalunya melalui hubungan tersebut, atau justru tanpa sadar sedang mengulang luka yang belum pernah benar-benar sembuh?

Antara Korban dan Pelaku

Bagian menarik dari drama Siren’s Kiss bagi saya adalah ambiguitasnya. Saya tidak bisa dengan mudah menempatkan Seol-ah sebagai korban atau pelaku. Ada sisi dirinya yang tampak rapuh, tetapi ada juga sisi yang terasa dingin dan manipulatif.

Di titik ini, saya mulai mempertanyakan sesuatu. Apakah trauma bisa menjadi alasan atas perilaku seseorang? Atau tetap ada tanggung jawab yang harus dihadapi? Bagi saya, Seol-ah berada di area abu-abu. Ia mungkin terluka, tetapi luka itu juga berdampak pada orang lain. Dan di situlah kompleksitasnya terasa sangat nyata.

Drama Siren’s Kiss membuat saya menyadari bahwa luka yang tidak selesai tidak selalu terlihat jelas. Ia bisa tersembunyi dalam pilihan, dalam relasi, bahkan dalam cara seseorang mencintai. Han Seol-ah mengajarkan bahwa memahami seseorang tidak cukup hanya dari apa yang terlihat, tetapi juga dari apa yang belum pernah benar-benar ia hadapi.