Setelah sempat "babak belur" dihajar rasa ragu oleh Nadhif Basalamah, saya pikir telinga saya butuh istirahat. Namun, algoritma YouTube yang seolah-olah punya balas dendam pribadi pada kesehatan mental saya, tiba-tiba menyodorkan lagu terbaru Bernadya berjudul "Kita Buat Menyenangkan".
Sebagai perempuan kepala dua yang hobi memelihara rasa insecure dan merasa belum layak untuk siapa-siapa, ekspektasi saya sudah jelas: saya akan menangis (lagi).
Dan benar saja, intro baru dimulai, suasana "suram yang cantik" langsung memenuhi kamar. Saya baper bukan karena romantisnya, tapi karena merasa lagu ini adalah surat pemutusan hubungan yang ditulis dengan tinta emas.
Lagu ini adalah potret nyata dari kegelisahan hubungan anak muda zaman sekarang. Bernadya menangkap isu tentang kepasrahan total. Di dunia yang menuntut kita untuk selalu memperbaiki keadaan—semacam toxic positivity dalam asmara, lagu ini justru menawarkan jalur alternatif: menyerah secara elegan.
Relevansinya sangat kuat dengan fenomena slow fading, di mana kita tahu api cintanya sudah redup, tapi kita memilih untuk memanaskan tangan di atas abunya untuk terakhir kali sebelum benar-benar dingin.
Secara narasi, lagu ini adalah sebuah "gencatan senjata". Tidak ada lagi tuntutan, tidak ada lagi menyebutkan siapa yang salah atau benar, dan tidak ada lagi usaha melelahkan untuk saling memahami. Ceritanya terfokus pada dua orang yang sadar bahwa besok mungkin semuanya sudah hilang dan hubungan mereka tinggal menghitung hari.
Mereka sepakat untuk membuat waktu yang tersisa menjadi menyenangkan, seolah-olah perpisahan yang akan datang bisa disuap dengan kenangan manis yang dipaksakan. Ini adalah cerita tentang orang-orang yang lelah melawan perjuangan takdir yang tidak memihak.
Bernadya adalah ahli dalam menggunakan kata-kata sederhana untuk menciptakan luka yang dalam. Liriknya tidak pretensius, tapi sangat jujur. Secara personal, sebagai wanita yang sering merasa belum cukup "selesai" dengan diri sendiri untuk diberikan kepada orang lain, lagu ini terasa sangat mengintimidasi. Ada bagian diri saya yang berbisik, "Tuh kan, ujung-ujungnya cuma bakal buat menyenangkan di sisa waktu saja sebelum akhirnya ditinggal."
Respons emosional saya adalah perpaduan antara lega dan ngeri. Lega karena akhirnya ada yang menyuarakan rasa lelah dalam hubungan, tapi ngeri karena lagu ini seolah memvalidasi ketakutan terbesar saya: bahwa semua hubungan punya tanggal kedaluwarsa. Karakter vokal Bernadya yang tenang justru membuat perpisahan pesan ini terasa lebih fatalistik. Ia tidak berteriak kesakitan, ia hanya berbisik bahwa kita sudah kalah, dan itu jauh lebih menyakitkan daripada diteriaki.
Secara kualitas, aransemen lagu ini sangat pas—minimalis dan tidak berlebihan, sehingga fokus pendengar tetap pada lirik dan "rasa". Namun, secara argumentatif, lagu ini memang "berbahaya" bagi mereka yang punya masalah keterikatan. Lagu ini bisa membuat seseorang menjadi sangat pesimis dan berpikir bahwa usaha memperbaiki hubungan adalah sia-sia belaka. Tapi untuk urusan penceritaan dan membangun suasana, Bernadya memang juaranya. Ia berhasil membuat kekecewaan terdengar seperti melodi yang indah.
Lagu "Kita Buat Menyenangkan" adalah lagu untuk kamu yang sudah sampai di titik jenuh tapi belum punya nyali untuk benar-benar pergi. Untuk kamu yang kakinya sudah berada di ambang pintu tapi hatinya masih ingin menoleh ke belakang sekali lagi.
Setelah lagu ini selesai, ada rasa pahit yang tertinggal—kenyataan bahwa kadang-kadang, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah berhenti mencoba. Lagu ini membuat saya sadar: jatuh cinta lagi memang menakutkan, apalagi jika kita sudah tahu bertahan bagaimana cara mengakhirinya dengan kata "menyenangkan" yang sebenarnya menyiksa.
Identitas Karya
Judul: Kita Buat Menyenangkan (Official Lyric Video)
Kanal Youtube: Bernadya
Tahun Rilis: 2026
Genre: Pop / Balada
Durasi: 4:11 menit
Baca Juga
-
SLG Itu Tempat Saya Merasa Jadi Orang Paris dengan Dompet Orang Kediri
-
Begadang Demi Tugas Bukanlah Prestasi, Itu Adalah Bentuk Kezaliman
-
Cara Menghubungi Dosen yang Benar Tanpa Perlu Menjadi Penjahat Waktu
-
Buku Itu Dibaca Isinya, Bukan Cuma untuk Menghias Feed Instagram Biar Kelihatan Keren
-
Gaji UMR Kediri, Selera Senopati: Ketika Gengsi Jadi Kendaraan Menuju Kebangkrutan
Artikel Terkait
-
Gaet Anderson .Paak, Taeyong NCT Rayakan Kesuksesan di Lagu Solo Rock Solid
-
Lelah Jadi Pejuang Cita-cita? Dengar Lagu Tulus Ini untuk Menyalakan Kembali Api Mimpimu
-
Teka-teki Cowok Misterius Terjawab, Bernadya Gandeng Iqbaal Ramadhan di MV Rabun Jauh
-
Sammy Simorangkir Bawakan Lagu Karya Badai di Konser 20 Tahun, Promotor Pastikan Royalti Dibayar
-
Apa Itu OSD HMT ITB? Mengenal Tradisi Musik Mahasiswa Tambang yang Sarat Lirik Mesum
Ulasan
-
Review Hierarchy: Kehidupan Siswa di Sekolah yang Penuh Misteri dan Skandal
-
Menyusuri Hidden Paradise Deli Serdang: Danau Linting dan Lau Mentar
-
Sehari di Central Park Zoo, Momen Lucu Tak Terduga yang Memorable
-
Bajak Laut & Purnama Terakhir: Mencari Pusaka Sakti Majapahit 1667
-
Healing Asyik di Waduk Karangkates: Surga Spot Santai di Malang
Terkini
-
Remaja, Passion, dan Realitas Karier yang Tak Selalu Sejalan
-
Bye-bye Kulit Kasar! Ini 5 Pilihan Body Wash Yogurt yang Super Melembapkan
-
Preppy hingga Chic Style, Ini 4 Ide OOTD Monokrom ala Gong Seung Yeon
-
Antara Gaya Hidup dan Kebiasaan Finansial: Tentang Harga untuk Menjadi Kaya
-
Sinopsis Deep Revenge, Drama Jepang Dibintangi Hori Miona dan Iijima Hiroki