Lintang Siltya Utami | Ukhro Wiyah
Taman Brantas dan Pemandangan di Sekitarnya (Dok. Pribadi/Ukhrowiyah)
Ukhro Wiyah

Pukul 15.15, matahari di Kota Kediri masih terasa menyengat saat saya tiba di taman yang berada di tepi Sungai Brantas ini. Panasnya cukup terasa, terutama saat berada di bagian tengah taman tanpa naungan.

Sebagai warga Kediri, sejujurnya saya tidak terlalu sering singgah di tempat ini. Mungkin hanya dua atau tiga kali, itupun sekadar lewat atau mampir sebentar. Namun kali ini berbeda, saya datang untuk menghadiri agenda diskusi bersama teman-teman organisasi.

Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 15.00 setelah salat asar menggunakan ojek online dengan tarif Rp 8.500. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar 10–15 menit—tergantung kecepatan berkendara dan kondisi lalu lintas.

Karena tiba lebih awal, saya putuskan untuk berkeliling lebih dulu sembari mencari tempat yang nyaman untuk berkumpul. Saat itu, saya melihat beberapa fasilitas yang tersedia di taman. Mulai dari musala di dekat pintu masuk, kemudian toilet di sisi barat taman, beberapa kursi yang tertata rapi di beberapa titik, hingga area bermain anak yang juga dilengkapi dengan beberapa tempat duduk yang bisa digunakan orangtua beristirahat sambil mengawasi anak-anak bermain.

Mulanya, saya memilih duduk di area playground karena letaknya paling dekat dengan sungai. Namun, teriknya matahari membuat tempat itu terasa kurang nyaman. Hingga akhirnya, kami menemukan sudut paling pas, yaitu di bawah jembatan.

Di sanalah suasana berubah. Angin bertiup cukup kencang, teduh dari panas matahari, dan tetap terang untuk beraktivitas, yang terpenting ada tempat duduk lesehan yang bersih dan nyaman. Di sisi utara tampak taman, sementara di selatan terdapat BMX Arena yang cukup ramai oleh anak-anak. Meski berada dekat jalan besar dan tepat di bawah Jembatan Brawijaya yang sangat ikonik di Kota Kediri, suasana di dalam taman justru terasa tenang—bahkan suara kendaraan nyaris tidak terdengar.

Sekitar pukul 16.00, teman-teman sudah berkumpul semua. Diskusi kali itu diisi dengan membaca buku bersama lalu masing-masing berbagi insight dari yang dibaca.

Dari beberapa pilihan buku yang dibawa mentor, saya memilih satu dengan judul Seteguk Senja untuk Pendahaga Agama karya Muhammad Nuchid. Buku tersebut membahas tentang tasawuf, motivasi Islam, dan hakikat beragama.

Dalam waktu dua puluh lima menit, saya berhasil membaca beberapa topik. Namun, yang paling menampar bagi saya adalah topik Bersyukur dalam Bahagia, Bersyukur dalam Derita. Pembahasan yang sederhana, tapi terasa sangat related dengan kehidupan sehari-hari.

Di buku tersebut dijelaskan bahwa sebenarnya Tuhan sudah memberikan nikmat yang sangat banyak kepada kita, tetapi kita sering kali lalai untuk berterima kasih kepada-Nya. Diceritakan pula tentang kaum Nabi Musa, yaitu Bani Israil yang berkali-kali kufur terhadap nikmat Allah. Dan pada akhirnya mereka dibinasakan sebab kekufurannya.

Ada sebuah kalimat yang paling saya ingat. Allah tidak meminta sesuatupun dari manusia. Bahkan rasa terima kasih yang kita tujukan untuk-Nya akan kembali pada diri kita sendiri. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. Ibrahim ayat 7, yang menjelaskan barangsiapa yang bersyukur, maka akan ditambah nikmatnya.

Sementara itu, teman-teman membaca buku dengan tema yang beragam. Mulai dari pengorbanan seorang ibu, keteladanan perempuan muslimah, hingga tentang proses menjadi dewasa.

Tak terasa, diskusi kami berakhir tepat saat senja mulai menampakkan keindahannya. Langit berubah warna, menghadirkan suasana yang lebih tenang. Sebelum beranjak dari taman, saya dan teman-teman sempat naik ke BMX Arena di sisi selatan jembatan demi menikmati pemandangan senja dari sudut yang lebih terbuka. Saya mengabadikan beberapa momen langit yang tampak begitu indah sore itu.

Azan Magrib berkumandang. Kami pun bersiap pulang. Teman-teman menuju parkiran motor, sementara saya menunggu ojek online yang sudah saya pesan di kursi taman dekat jalan raya. Dalam perjalanan pulang, ada satu kejadian sederhana yang justru membekas.

Ada seekor kucing berwarna abu-abu gelap yang berhenti di tengah jalan. Alih-alih terus melaju kencang, pengemudi ojek yang saya tumpangi malah memperlambat laju kendaraan. Ia membunyikan klakson sebanyak dua kali, seolah memberi isyarat pada kucing tersebut untuk menepi ke pinggir jalan. Dan ajaibnya, kucing itu benar-benar berlari menepi ke pinggir jalan.

Momen itu mungkin terasa sederhana, tapi membuat saya diam dan merenung sejenak. Hari itu, saya datang hanya untuk duduk di taman dan mengikuti diskusi. Namun, tanpa disadari, ada banyak hal yang saya bawa pulang.

Tentang jeda di tengah rutinitas. Tentang makna dari sebuah bacaan. Dan tentang pelajaran kecil dari cara seseorang memperlakukan makhluk lain. Ternyata, pelajaran hidup bisa datang dari mana saja—bahkan dari sore yang sederhana di sebuah taman kota.