Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Lima Cerita (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Membuka buku ini membuatku langsung teringat lagu Masa Mudaku Habis yang dibawakan Ghea Indrawari. Jadi dewasa kukira menyenangkan, tapi ternyata sulit dan melelahkan. Aku rasa lagu itu cukup untuk untuk mewakili isi dari buku ini.

Buku Lima Cerita: Kisah-Kisah Menjadi Dewasa karya Desi Anwar membawakan narasi reflektif yang tenang. Nyaris seperti seseorang yang sedang bercerita panjang tanpa interupsi. Hasilnya adalah lima kisah yang terasa personal, intim, sekaligus kontemplatif tentang perjalanan manusia menuju kedewasaan.

Seperti judulnya, buku ini berisi lima cerita utama: Kematian, Cerita Delia, Pedihnya Pendewasaan, Cinta Sempurna, dan Ibu yang Baik. Kelima cerita tersebut tidak berdiri sebagai kisah yang benar-benar terpisah, melainkan saling terhubung oleh tema besar: bagaimana manusia belajar memahami hidup melalui kehilangan, relasi, dan proses mengenal diri sendiri.

Isi Buku

Cerita pembuka, Kematian, menjadi fondasi emosional buku ini. Di sini, pembaca diajak menyadari bahwa menjadi dewasa berarti berdamai dengan kenyataan yang paling tak terelakkan: kehilangan. Seiring bertambahnya usia, manusia tidak hanya mengumpulkan pengalaman, tetapi juga menghadapi perpisahan demi perpisahan.

Narasi dalam cerita ini berjalan lambat, penuh deskripsi, seolah memberi ruang bagi pembaca untuk ikut merenung. Kematian tidak digambarkan secara dramatis, melainkan sebagai bagian alami dari perjalanan hidup yang harus diterima dengan lapang.

Beranjak ke Cerita Delia, pembaca dibawa ke dinamika hubungan antara anak dan orang tua. Tema yang terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Delia, sebagai tokoh utama, merepresentasikan banyak remaja yang merasa terkungkung oleh perhatian orang tua, terutama ibu.

Dalam upaya mencari kebebasan, ia bertindak impulsif, tanpa menyadari bahwa di balik kekangan itu terdapat kasih sayang dan kekhawatiran. Cerita ini mengingatkan bahwa konflik dengan orang tua sering kali bukan tentang benar atau salah, melainkan tentang perbedaan cara memahami cinta.

Sementara itu, Pedihnya Pendewasaan menggambarkan fase transisi menuju kemandirian, khususnya dalam konteks kehidupan perkuliahan. Tokoh dalam cerita ini mengalami benturan antara kebebasan dan tanggung jawab.

Tahun pertama yang penuh euforia berubah menjadi proses refleksi di tahun-tahun berikutnya. Menariknya, perubahan karakter tidak terjadi secara instan, melainkan melalui kebiasaan kecil: belajar mengatur pola hidup, berpikir lebih matang, hingga memahami arti disiplin. Di sinilah Desi Anwar menunjukkan bahwa kedewasaan bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari proses panjang yang sering kali tidak nyaman.

Dua cerita lainnya, Cinta Sempurna dan Ibu yang Baik, memperluas spektrum emosi dalam buku ini. Cinta tidak digambarkan sebagai sesuatu yang ideal dan tanpa cela, melainkan sebagai proses belajar menerima kekurangan, baik pada diri sendiri maupun orang lain.

Sementara itu, sosok ibu kembali dihadirkan sebagai figur kompleks: penuh kasih, tetapi juga manusiawi dengan segala keterbatasannya. Pembaca diajak melihat hubungan keluarga dari sudut pandang yang lebih dewasa. Tidak lagi hitam-putih, melainkan penuh nuansa.

Kelebihan dan Kekurangan

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada gaya bahasa penulis. Diksi yang digunakan terasa kaya, puitis, dan matang, mencerminkan pengalaman panjang Desi Anwar sebagai penulis. Setiap kalimat disusun dengan cermat, menciptakan suasana yang tenang dan reflektif. Namun, gaya ini juga menjadi tantangan tersendiri.

Minimnya dialog dan dominasi deskripsi membuat tempo cerita terasa lambat, bahkan bagi sebagian pembaca bisa menimbulkan rasa jenuh. Buku ini memang tidak dirancang untuk dibaca cepat, melainkan untuk dinikmati perlahan.

Meski demikian, justru dalam kelambatan itulah yang memaksa pembaca untuk berhenti sejenak, merenung, dan mungkin menemukan potongan diri mereka dalam setiap cerita. Membacanya seperti duduk diam, mendengarkan seseorang berbicara dari hati ke hati—tanpa distraksi, tanpa tuntutan untuk segera merespons.

Pada akhirnya, Lima Cerita: Kisah-Kisah Menjadi Dewasa  mengingatkan bahwa menjadi dewasa tidak selalu indah, tetapi selalu bermakna. Bahwa di balik luka, konflik, dan kehilangan, selalu ada pelajaran yang membentuk kita menjadi manusia yang lebih utuh.

Identitas Buku

  • Judul: Lima Cerita: Kisah-Kisah Menjadi Dewasa
  • Judul asli: Growing Pains: Five Stories Five Lives
  • Penulis: Desi Anwar
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: Februari 2019
  • ISBN: 9786020613673
  • Tebal: 308 halaman
  • Genre: Fiksi/Antologi Cerita Pendek