Mereka yang membutuhkan pertolonganmu tidak melihat siapa kamu dan apa profesimu. Mereka hanya tahu bahwa kamu mampu menolong mereka dengan tanganmu. (Ulin Nurviana, Marioriawa, halaman 8).
Novel Marioriawa bisa dibilang berada di persimpangan antara fiksi, mitologi lokal, dan refleksi sosial. Tema utamanya berkisar pada budaya daerah, kepercayaan turun-temurun, dan bagaimana mitos bisa memengaruhi cara pandang manusia terhadap hidup.
Di tengah era modern yang serba rasional, cerita ini terasa relevan karena mengingatkan bahwa masih banyak nilai tradisi yang hidup, meski kadang dianggap usang atau tak masuk akal.
Mulanya, saya tertarik membaca novel ini karena judulnya terdengar asing tapi punya daya tarik tersendiri, seolah menyimpan sesuatu yang gelap dan misterius. Terlebih, sedikit bocoran tentang mitos kelelawar membuat rasa penasaran makin menjadi.
Novel karya Ulin Nurviana ini adalah sebuah karya yang mengangkat mitos lokal sebagai jantung cerita, khususnya kepercayaan yang berkaitan dengan kelelawar dan simbol-simbol tertentu dalam budaya masyarakat.
Buku ini tidak hanya menyajikan kisah fiksi, tetapi juga menjadi jembatan untuk memahami bagaimana tradisi dan kepercayaan turun-temurun membentuk cara berpikir dan bertindak manusia.
Cerita berkembang di sebuah latar yang kental dengan nuansa alam dan tradisi. Pembaca diajak menelusuri hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya, baik yang terlihat maupun yang tak kasat mata. Dalam perjalanan itu, muncul konflik yang tidak selalu bersifat fisik, melainkan lebih ke konflik batin. Antara percaya dan ragu, antara menerima dan menolak warisan leluhur.
Melalui alur yang perlahan namun dalam, buku ini juga menyinggung pentingnya pelestarian budaya daerah di tengah arus modernisasi. Ada pesan kuat bahwa tradisi bukan sekadar masa lalu, tetapi bagian dari identitas yang terus hidup dan perlu dipahami, bukan sekadar ditinggalkan.
Yang paling terasa dari buku ini adalah atmosfernya. Ulin Nurviana punya cara bercerita yang tenang tapi menghanyutkan, seperti arus sungai yang pelan tapi pasti membawa kita jauh. Deskripsinya detail, tapi tidak berlebihan. Cukup untuk membangun imajinasi tanpa terasa berat.
Karakter-karakternya juga terasa manusiawi. Mereka tidak selalu benar, tidak selalu kuat, dan justru di situlah letak kekuatannya. Saya pribadi merasa cerita ini lebih kuat dalam aspek rasa daripada di plot. Ada momen-momen yang membuat merinding, bukan karena horor yang eksplisit, tapi karena kesadaran bahwa mitos bisa hidup dalam pikiran manusia.
Secara emosional, buku ini meninggalkan kesan yang agak sendu. Ada rasa kehilangan, ada ketakutan, tapi juga ada penerimaan yang pelan-pelan tumbuh.
Ceritanya terasa otentik, tidak dibuat-buat, dan punya identitas yang kuat. Bahasa yang digunakan juga mengalir, tidak kaku, sehingga enak dibaca.
Namun, bagi sebagian pembaca, alur yang cenderung lambat mungkin terasa kurang nendang. Tidak banyak kejutan besar, karena fokusnya lebih ke suasana dan makna daripada aksi.
Buku ini cocok untuk pembaca yang suka cerita dengan nuansa reflektif, budaya lokal, dan sentuhan mitos yang tidak berisik tapi mengendap.
Usai membacanya, yang tersisa bukan hanya cerita, tapi juga perasaan seperti baru saja mengunjungi tempat yang sunyi, lalu pulang dengan pikiran yang penuh.
Pendek kata, Marioriawa bukan sekadar buku yang selesai dibaca, tapi juga pengalaman yang pelan-pelan menetap.
Identitas Buku
- Judul: Marioriawa
- Penulis: Ulin Nurviana
- Penerbit: Indiva Media Kreasi
- Cetakan: Maret 2019
- Tebal: 304 Halaman
- ISBN: 978-602-5701-10-8
- Genre: Fiksi/Novela
Baca Juga
-
Honor Pad X10 Mini Mengandalkan Layar 90 Hz, Bodi Metal, dan Baterai untuk Aktivitas Seharian
-
Tecno Spark 50S 5G Resmi Meluncur, Ponsel Terjangkau dengan Fitur FreeLink yang Menarik
-
Huawei FreeClip 2 Dual Color Rilis: TWS Unik dengan Desain Jepit Telinga dan Baterai Awet
-
Dompet Ayah Sepatu Ibu: Novel yang Membuat Saya Lebih Menghargai Perjuangan Orang Tua
-
Buku Revolusi Nuklir: Menjelajahi Masa Depan dan Keganjilan Hidup Manusia
Artikel Terkait
Ulasan
-
Pursuit of Jade: Drama dengan Role Reversal Baru Zhang Linghe & Tian Xiwei
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
-
The Lament of Autumn: Drama Republik dalam Vibes Love Hate yang Bikin Baper
-
Review Burning: Tentang Misteri yang Mungkin Hanya Ada di Kepala Kita
-
Review Buku Hidden Figures: Saat Kecerdasan Tidak Mengenal Ras dan Gender
Terkini
-
Siap Debut Jepang, Baby DONT Cry Akan Rilis Single "Replay" di 2 Negara!
-
5 HP Android dengan Kamera Bagus untuk Kamu yang Mau Mulai Ngonten
-
Anime IruMafia Edition Tayang Januari 2027, Kisah Iruma di Kehidupan Mafia
-
Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z
-
Ruang Publik Bebas Rokok Adalah Hak Kita Semua