"Udah capek-capek kuliah di jurusan ini, ternyata ilmunya nggak kepake."
"Kuliahnya susah, eh ternyata cari kerja jauh lebih susah"
"Ternyata baru sadar kalau nyari duit dengan hanya mengandalkan ijazah itu nggak gampang, apalagi di era disurpsi seperti sekarang"
Pernah nggak sih Sobat Yoursay terjebak dalam pemikiran di atas? Pengin idealis dengan pemikiran bahwa pendidikan itu nggak selamanya buat nyari duit, tapi kita dihadapkan dengan realita bahwa ujung-ujungnya, semuanya dinilai secara materi.
Jika pernah, ada sebuah bacaan yang bagi saya cukup menarik untuk disimak. Yakni buku berjudul Jangan Kalah Sama Monyet: 101 Gagasan Pemandu Pikiran pada Era Kebohongan yang ditulis oleh Dr. Adian Husaini.
Buku ini membahas berbagai opini penulis terkait pendidikan, ilmu pengetahuan, hingga wawasan kebangsaan seiring perkembangan zaman dan teknologi di era disrupsi ini. Tapi hal tersebut dikupas dalam sudut pandang yang lebih islami.
Di antara pesan yang cukup menohok bagi saya pribadi adalah kritik terhadap pendidikan yang hanya dianggap sebagai batu loncatan untuk berkarier dan mencari nafkah.
Kebanyakan di antara kita barangkali menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk meningkatkan taraf hidup, dalam artian secara materi. Berharap bahwa dengan pendidikan yang layak, kita bisa mencari pekerjaan dan memperoleh penghasilan dari gaji bulanan.
Sudut pandang seperti ini sebenarnya lumrah dan tidak masalah. Tapi jika kita menjadikan pendidikan hanya sekedar sarana untuk mencari "makan", maka sebenarnya kita sudah kalah level dengan monyet. Sebab tanpa pendidikan pun, seekor monyet juga bisa mencari makan. Tanpa sekolah, apalagi harus repot-repot kuliah. Lantas, pendidikan itu sebenarnya buat apa?
Jawabannya adalah meningkatkan taraf berpikir kita sebagai manusia. Penulis menjelaskan bahwa sebenarnya akar permasalahan dari kehidupan manusia itu datang dari krisis pemikiran. Terlebih dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan beragama. Dari segi sumber daya, kita sebenarnya tidak kurang. Hanya saja, kita terkadang kehilangan makna/tujuan hidup dan krisis identitas.
Dalam sudut pandang islam sendiri, islam hadir dengan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Ajaran-ajaran islam sebenarnya sudah memberi pedoman tentang berbagai aspek kehidupan. Mulai dari keluarga, ekonomi, sosial, politik, dan tentu saja pendidikan.
Ketika seseorang benar-benar merealisasikan kehidupan beragama yang baik, seharusnya ia bisa menjadi manusia yang memiliki adab dan akhlak yang baik . Jika pendidikan sudah berkolaborasi dengan dua hal ini, maka akan terbentuk individu-individu yang mampu membuat perubahan ke arah yang lebih baik.
Dalam hal ini, penulis memaparkan berbagai contoh tentang bagaimana hal tersebut bisa terealisasi. Mulai dari cerita tentang sepak terjang Cak Nur, KH. Ahmad Dahlan, hingga Ki Hajar Dewantara dalam memulai sebuah perubahan.
Penulis juga menekankan tentang betapa pentingnya pendidikan untuk menjadi prioritas yang didahulukan oleh pemerintah. Pemerintah sudah seharusnya hadir dalam memperbaiki sistem pendidikan yang ada di sebuah negara jika ingin menyejahterahkan masyarakat.
Ini sebenarnya terkesan klise, tapi bangsa ini memang mesti berkali-kali diingatkan bahwa betapapun besar anggaran yang digelontorkan untuk kesejahterahan rakyat, jika pendidikan belum diproritaskan maka akan sulit. Khususnya kesejahteraan untuk para guru selaku pendidik.
Selain membahas isu utama tentang pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai islami, Dr. Adian juga menyoroti berbagai isu lain seperti polemik seputar toleransi beragama, LGBT, radikalisme, hingga kesetaraan gender.
Secara umum, saya kagum dengan luasnya wawasan penulis yang bisa membahas berbagai macam tema yang kemudian dikaitkan dalam kehidupan beragama. Hanya saja, hal ini juga bisa menjadi kekurangan bagi pembaca yang kurang suka dengan pembahasan yang terkesan acak dan tidak sistematis.
Namun, terlepas dari hal tersebut, buku ini cukup inspiratif. Bagi pembaca yang tertarik dengan isu sosial, agama, dan pendidikan, buku ini bisa menjadi rekomendasi bacaan yang menarik untuk disimak!
Baca Juga
-
The Let Them Theory: Buku dengan Konsep Sederhana untuk Hidup Lebih Tenang
-
Buku Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa: Curhat Absurd Pekerja Kreatif
-
Refleksi Idul Adha dalam Pendidikan Anak di Buku Kiat Menjadi Guru Keluarga
-
Dear You: Antara Cinta, Patah hati, dan Kisah yang Tak Pernah Usai
-
Keyakinan yang Mengubah Realitas dalam Buku Spontaneus Healing of Belief
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film Budi Pekerti: Ketika Satu Video Mengubah Segalanya
-
Pelajaran Memaafkan di Buku Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan
-
Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'
-
Drama A Bona Fide Killer: Pembunuh Legendaris yang Hidup Normal sebagai Ibu
-
Suicide Awareness Month: 5 Novel yang Mengajarkan Pentingnya Support System
Terkini
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Sinopsis Mame to Mugi, Drama Jepang Dibintangi Saito Asuka dan Tomita Miu
-
Hempas Kusam dan Noda Gelap! Ini 4 Sabun Muka Korea Kandungan Brightening
-
Jalan Teknokratis Suahasil Nazara Menuju Kursi Menteri Keuangan
-
Manga Gachiakuta Kembali Hiatus Tanpa Jadwal Kembali, Fans Harus Menunggu