Lintang Siltya Utami | Rana Fayola R.
Ilustrasi antusiasme penonton Piala Dunia 2026, boleh FOMO? (Gemini AI)
Rana Fayola R.

Momen Piala Dunia selalu berhasil membius perhatian masyarakat global tanpa terkecuali. Menariknya, setiap kali turnamen sepak bola terbesar ini bergulir, lini masa media sosial dan tempat-tempat nongkrong langsung dipenuhi oleh barisan pakar dadakan.

Fenomena munculnya pengamat musiman ini diprediksi akan kembali mencapai puncaknya pada pergelaran Piala Dunia 2026 mendatang. Orang-orang yang di hari biasa sama sekali tidak mengikuti perkembangan taktik lapangan hijau, tiba-tiba bisa berbicara dengan sangat meyakinkan mengenai performa sebuah tim.

Kemunculan para komentator musiman ini sebenarnya sangat erat kaitannya dengan status Piala Dunia sebagai event yang sangat langka. Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1930, turnamen ini konsisten digelar setiap empat tahun sekali.

Satu-satunya momen libur panjang hanyalah pada tahun 1942 dan 1946 akibat berkecamuknya Perang Dunia II. Jeda waktu yang panjang inilah yang pada akhirnya melahirkan kesan eksklusif dan istimewa di mata dunia.

Ada alasan logis mengapa turnamen ini membutuhkan waktu tunggu hingga empat tahun. Proses untuk menyaring 48 tim terbaik dari total 211 tim nasional di seluruh dunia membutuhkan energi dan waktu yang tidak sedikit. Tahapan kualifikasi yang harus dilewati oleh setiap negara sangat rumit dan memakan waktu lama.

Selain itu, induk organisasi FIFA juga memerlukan waktu matang guna mempersiapkan segalanya, baik untuk kesiapan tim peserta maupun kesiapan negara penyelenggara. Tradisi yang sudah mengakar kuat sejak tahun 1930 ini pun pada akhirnya memicu munculnya fenomena Fear of Missing Out atau FOMO di kalangan masyarakat modern.

FOMO merupakan sebuah perasaan cemas atau ketakutan jika kita ketinggalan tren yang sedang ramai dibicarakan oleh orang lain. Ketika semua orang di sekitar sedang asyik membahas pertandingan, muncul keinginan kuat di dalam diri kita untuk tetap terhubung dengan apa yang sedang mereka lakukan.

Dari sinilah istilah-istilah unik mulai bermunculan ke permukaan, salah satunya adalah sebutan 'cegil FOMO' alias cewek gila bola dadakan. Mereka merupakan bagian dari barisan fans dadakan yang banyak bermunculan justru saat turnamen besar atau saat tim nasional sedang bertanding.

Meskipun kerap dicap sebagai suporter yang tidak tulus karena sekadar ikut-ikutan tren agar tidak ketinggalan momen, kehadiran mereka tetap memberikan warna tersendiri. Istilah pakar dadakan sendiri merujuk pada individu yang mendadak terlihat sangat ahli dalam menganalisis sepak bola hanya karena terbawa arus tren, tanpa memiliki pengetahuan yang mendalam.

Namun, jika ditinjau dari sisi psikologis, menjadi pakar musiman seperti ini sebenarnya bukanlah sebuah kesalahan. Fenomena ini dinilai sebagai bagian dari respons normal manusia yang wajar terjadi saat menghadapi sebuah acara berskala besar.

Menikmati Euforia Turnamen Tanpa Harus Menguras Dompet

Menjadi bagian dari pengamat musiman rupanya memiliki beberapa dampak positif yang cukup baik bagi interaksi sosial kita. Reaksi psikologis alami ini secara tidak langsung dapat meyakinkan ke-komunalan kita dengan lingkungan sekitar. Melalui tren ini, kita bisa lebih mudah terhubung dengan komunitas baru, duduk bersama di tempat nobar, saling berbagi emosi, serta merayakan esensi permainan sepak bola bersama-sama.

Melibatkan diri dalam percakapan seputar pertandingan juga terbukti mampu memperluas perspektif dan wawasan seseorang. Kita yang awalnya buta sama sekali tentang olahraga ini, perlahan-lahan mulai membuka pintu untuk mengenal hal-hal baru.

Lagipula, untuk menikmati kemeriahan pesta bola ini, Anda sama sekali tidak dituntut untuk menjadi fans kejujuran yang harus berkomitmen seumur hidup. Cukup nikmati saja posisinya sebagai penonton umum. Suasana menonton pastinya akan terasa jauh lebih menyenangkan dan menghibur jika kita ikut larut di dalamnya.

Kita bisa ikut merasakan serunya berdebat sehat, melakukan selebrasi saat gol tercipta, atau bahkan ikut 'berduka' bersama ketika tim yang didukung harus kalah. Kita tidak perlu merasa bersalah, kurang tulus, atau tidak asli hanya karena baru menyukai olahraga ini saat turnamen besar tiba.

Meski menyenangkan, fenomena FOMO ini tetap memiliki beberapa lampu kuning atau tanda bahaya yang wajib diwaspadai agar tidak merugikan diri sendiri. Salah satu dampak negatif yang paling sering terjadi adalah kantong yang terkuras habis.

Akibat terlalu memaksakan diri mengikuti tren, seseorang bisa saja nekat membeli tiket pertandingan, berburu merchandise asli yang mahal, atau memaksakan diri ikut nobar berbiaya tinggi di luar kemampuan finansialnya.

Selain masalah finansial, kesehatan mental pun bisa ikut terkuras jika kita terlalu emosional dalam memberikan dukungan. Sungguh tidak lucu jika kita sampai stres atau kelelahan secara psikologis hanya karena terlalu larut dalam diskusi sengit dan perdebatan di media sosial demi membela tim yang sebenarnya tidak benar-benar kita pahami sejarahnya.

Masalah lain yang kerap muncul adalah fenomena penggerubung pemain, yaitu tindakan mengerumuni para pemain timnas secara invasif hanya demi konten dan tren, bukan karena dasar cinta pada olahraga tersebut.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui tips menjadi pakar musiman yang sehat. Langkah pertama adalah tetap sadar bahwa tujuan utama kita menonton adalah untuk mencari hiburan yang seru, bukan karena adanya paksaan atau keharusan untuk menjadi fans fanatik.

Kedua, pastikan untuk tidak boros dengan cara membuat anggaran khusus, sehingga keuangan pribadi tidak sampai terganggu akibat tuntutan tren.

Langkah berikutnya adalah dengan menjaga emosi agar tidak terlalu berlebihan, karena bagaimanapun ini hanyalah sebuah hiburan, bukan jalan hidup Anda.

Kita juga wajib menghargai keaslian dengan cara tidak menghakimi para fans asli yang memang sudah sejak lama mendedikasikan waktunya untuk menyukai olahraga ini. Terakhir, jadikan momen ini sebagai ruang untuk membuka pertanyaan, belajar hal baru, dan menikmati pertandingan sambil mengenal dunia sepak bola secara lebih dekat.

Pada akhirnya, euforia Piala Dunia yang hadir empat tahun sekali memang akan selalu melahirkan fenomena unik berupa kemunculan para pakar dadakan di mana-mana. Ketakutan akan tertinggalnya sebuah tren global atau FOMO terbukti sukses menjadi magnet pemersatu yang ampuh.

Di bawah payung turnamen ini, orang-orang dari berbagai macam latar belakang sosial yang berbeda bisa dengan santai duduk bersama di satu meja untuk menikmati pertandingan. Selama kita bisa tetap mengontrol diri agar tidak boros, tidak terlalu emosional hingga menguras mental, serta menjaga batasan dengan tidak mengganggu privasi pemain, menjadi pakar musiman adalah hal yang sah-sah saja dilakukan.

Jadi, mari nikmati saja keseruannya dan tetap salam sepak bola!