Hari ini, Jakarta Selatan (Jaksel) bukan lagi sekadar penanda geografis di peta ibu kota, melainkan telah bermutasi menjadi sebuah konstruksi kultural yang berdiri sendiri. Ketika istilah "Jaksel" berdengung di telinga, memori kolektif kita secara otomatis akan memunculkan serangkaian elemen budaya pop: mulai dari gaya bahasa code-switching yang mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, es kopi susu kemasan literan, hingga gaya hidup urban yang sangat distingtif.
Seluruh fenomena sosiologis masyarakat urban inilah yang berhasil ditangkap dengan sangat jeli oleh sutradara sekaligus penulis Candra Aditya melalui novel terbarunya yang diterbitkan oleh Buku Mojok, berjudul ANJAS: Anak Kosan Jaksel.
Namun, bagi saya yang telah menyelami lembar demi lembar halaman buku ini dari awal hingga babak konklusi, novel ini menyajikan sesuatu yang jauh lebih bernilai daripada sekadar parade bahasa gaul atau kumpulan lelucon satire murahan. Di balik gemerlap, keriuhan, dan segala bentuk stereotip menahun tentang anak-anak Jakarta Selatan, terdapat sebuah potret buram sekaligus nyata mengenai perjuangan eksistensial seorang pria muda yang sedang tertatih-tatih menapaki tangga pendewasaan.
Anatomi Kemandirian yang Tidak Instan
Saat saya membaca novel ini, aspek yang paling membekas dalam ingatan adalah bagaimana Candra Aditya menjabarkan problematika yang sangat relevan dengan kehidupan pria muda urban pada umumnya: sebuah hasrat yang menggebu-gebu untuk merebut kemandirian hidup. Pembaca akan diajak untuk berjalan beriringan menemani perjalanan hidup Jaya, sang tokoh utama dalam cerita ini. Jaya memilih untuk keluar dari zona nyaman rumah orang tuanya dan memutuskan untuk menyewa sebuah kamar kos (ngekos) demi bisa berdiri di atas kaki sendiri.
Menariknya, Candra Aditya tidak sedang romantisasi kemandirian tersebut. Ia menggambarkan realitas jalanan ini secara jujur dan sangat dekat dengan keseharian kita. Proses kemandirian Jaya tidak serta-merta mewujud dengan mudah, mulus, dan tanpa cela. Pada babak awal cerita, kita disuguhi kenyataan pahit sekaligus menggelitik bahwa Jaya masih harus menerima subsidi dari sang ayah untuk melunasi biaya sewa kos selama dua bulan pertama. Potret peralihan status dari seorang "anak rumahan" yang serbaterjamin menjadi seorang anak kosan yang harus menghitung koin demi bertahan hidup ini digambarkan dengan penuh tantangan dan dinamika yang sangat riil.
Solidaritas Kamar Kos dan Tekanan Sosial Status Lajang
Keputusan Jaya untuk menetap di rumah kos membawanya masuk ke dalam sebuah ekosistem baru yang sarat akan perubahan drastis. Di titik inilah keseruan dan dinamika narasi komedi mulai mengalir deras. Jaya mulai dikelilingi oleh jajaran karakter baru, para penghuni kos lain yang eksentrik, unik, cenderung aneh, namun pada akhirnya memberikan warna-warna baru yang hangat dalam kanvas kehidupannya. Jalinan pertemanan khas anak kos yang cair, tanpa sekat, dan komunal ini berhasil memproduksi banyak sekali momen humor segar yang sangat menghibur sekaligus melepaskan penat pembaca.
Selain berbicara mengenai strategi bertahan hidup di kerasnya ibu kota, novel ini juga dengan berani menggugah sisi melankolis tentang romansa anak muda di tengah kepungan tekanan sosial perkotaan. Jaya dikarakterisasikan sebagai seorang pria urban yang mengalami kesulitan akut dalam menemukan pasangan hidup (pacar).
Saking lamanya menyandang status lajang, ia harus memiliki ketabahan ekstra untuk menerima rentetan ejekan sarkas dari lingkaran pertemanannya sendiri, seperti kalimat, "Apakah kamu sebenarnya menyukai pria, sampai-sampai tidak ada satu pun wanita yang menjadi pacarmu?" Sebuah lelucon satir-homofobik yang barangkali kerap kita dengar dalam obrolan tongkrongan anak muda zaman sekarang, sekaligus menjadi kritik halus dari penulis mengenai betapa menyebalkannya intervensi dan tekanan sosial lingkungan sekitar terhadap status hubungan romansa seseorang.
Resolusi Manis di Balik Rahasia Kesepian Jaya
Menjelang paruh akhir cerita, Candra Aditya memberikan sebuah resolusi yang manis sekaligus mengharukan mengenai plot romansa dalam novel ini. Resolusi tersebut sekaligus bertindak sebagai jawaban logis mengapa selama ini Jaya tampak sangat menutup diri dan kesulitan untuk membuka hati kepada wanita-wanita baru yang hadir di hidupnya. Ternyata, sepanjang cerita bergulir, Jaya menyimpan sebuah letup perasaan yang teramat mendalam terhadap Sisy, perempuan yang tidak lain adalah sahabat dekatnya sendiri.
Misteri di balik kesepian dan kesendirian Jaya akhirnya terjawab dengan sangat indah dan sinematik: sosok kekasih yang selama ini ia cari ke sana kemari lewat berbagai cara, sebenarnya tidak pernah pergi jauh dari jangkauannya. Ia hanya sedang terjebak dalam labirin perasaan yang tidak terungkap (unspoken feelings) kepada seseorang yang selalu setia berdiri di sampingnya. Sentuhan romansa dengan kiasan klasik tropes friends-to-lovers ini berhasil menyuntikkan kehangatan emosional yang magis, di tengah bisingnya kritik sosial seputar gaya hidup penuh gengsi ala Jaksel yang mendominasi atmosfer buku ini.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, ANJAS: Anak Kosan Jaksel bukanlah sebuah buku yang melulu mengeksplorasi kehidupan perkotaan yang artifisial dan penuh kepalsuan. Buku ini melangkah lebih jauh, memotret bagaimana seorang pemuda bernama Jaya menjalani proses spiritual untuk menerima kenyataan hidup yang pahit, belajar menghargai arti ketulusan sebuah pertemanan, dan berdamai dengan gejolak perasaannya sendiri. Perpaduan antara kritik sosial yang cerdas khas Buku Mojok dan cerita pertumbuhan karakter (character development) yang sangat relatable membuat novel ini sangat berbobot untuk dinikmati.
Saya sangat merekomendasikan buku ini bagi para mahasiswa yang sedang merantau di kamar kos, remaja yang sedang belajar meniti kemandirian, atau siapa saja yang ingin menikmati sajian komedi romantis urban dengan latar belakang sosiologis yang sangat modern.
Identitas Buku:
- Penulis: Candra Aditya
- Penerbit: Buku Mojok
- Tahun Terbit: 2021 Cetakan Pertama
- ISBN: 978-623-7284-58-1
Baca Juga
-
Jangan Disalahkan, Korban Baper Akibat "Pemberi Harapan Palsu" Adalah Korban Ketidakadilan Emosional
-
Menembus Batas, Menyapa Cengkeh: Petualangan KKN Paling Berkesan di Tanah Dengeng-Dengeng
-
Antara Pompa Air yang Haus dan Pangkalan Gas yang Bisu di Tengah Kemarau
-
Reuni Kemerdekaan di Warkop: Antara Secangkir Kopi dan Makna Merdeka
-
Dua Pria di Satu Atap: Mengurai Jarak dan Gengsi Antara Anak dan Ayah
Artikel Terkait
-
Cinta, Tradisi, dan Kekuasaan dalam Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari
-
Rahasia di Balik Impotensi Ajo Kawir: Mengapa Novel Eka Kurniawan Ini Begitu Kontroversial?
-
Kerumunan Terakhir: Mengapa Novel Okky Madasari Ini Ramalan Paling Akurat Tentang Media Sosial Kita?
-
Satu Hari Bersama Mantan: Saat Cinta Remaja Berujung Tragedi dan Kehilangan
-
Bukan Sekadar Kisah Sedih: Mengapa Novel Lee Kkoch-nim Ini Justru Terasa Sangat Menghangatkan?
Ulasan
-
Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang
-
Tak Seindah Ekspektasi: Novel 'Sisi Tergelap Surga' Buka-bukaan Fakta Pahit Kerasnya Jakarta
-
Land Maggie OFarrell: Ketika Tanah Menyimpan Luka dan Sejarah
-
Review Film It's My Time: Seni Menghargai Masa Tua dengan Cara yang Indah
-
Bedah Buku 'Sebilah Lidah': Ketika Puisi Menelanjangi Sisi Gelap Manusia Modern
Terkini
-
5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah
-
Pikirannya Nggak Bisa Diam? Kenali 4 Jenis Overthinking dan Cara Mengatasinya
-
Tidak Semua Harus Dibagikan, Ini Alasan Pentingnya Membangun Batas Privasi di Dunia Maya
-
Ketika 'Bad News' Bagi Kita Adalah Tragedi Pahit Bagi Mereka