Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
99 Cahaya di Langit Eropa (Dok. Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Buku 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra merupakan salah satu karya populer yang memadukan perjalanan, refleksi spiritual, dan penelusuran sejarah Islam di Eropa.

Dengan latar kota-kota seperti Wina, Paris, Cordoba, Granada, hingga Istanbul, buku ini mengajak pembaca melihat Eropa dari sudut pandang yang berbeda.

Tak hanya sebagai pusat peradaban Barat, tetapi juga sebagai ruang yang pernah disentuh oleh kejayaan Islam. Secara garis besar, buku ini menawarkan pengalaman traveling yang tidak sekadar wisata.

Sinopsis Novel

Perjalanan Hanum bersama Fatma digambarkan sebagai upaya mencari sisa-sisa pengaruh Islam di berbagai sudut Eropa. Dari museum hingga bangunan bersejarah, dari cerita kuliner hingga tokoh-tokoh besar, buku ini mencoba merangkai narasi bahwa peradaban Islam pernah memberi kontribusi signifikan bagi dunia Barat.

Beberapa bagian terasa informatif dan menarik. Misalnya, pembaca diajak mengenal keterkaitan budaya antara Timur dan Barat. Seperti asal-usul minuman atau simbol budaya yang ternyata memiliki jejak sejarah panjang.

Bahkan sosok seperti Wolfgang Amadeus Mozart disebut terinspirasi oleh budaya Turki melalui karya Rondo Alla Turca. Hal-hal semacam ini memberi perspektif bahwa peradaban tidak pernah berdiri sendiri, melainkan saling memengaruhi.

Dari sisi penulisan, gaya bertutur buku ini cukup mengalir. Deskripsi tempat yang detail membantu pembaca, terutama yang belum pernah ke Eropa untuk membayangkan suasana kota-kota yang dikunjungi.

Ini menjadi kekuatan utama buku: ia mampu menghidupkan pengalaman perjalanan dalam bentuk narasi yang ringan dan mudah diikuti.

Salah satu persoalan utama adalah batas antara fakta dan interpretasi. Meski diklaim sebagai catatan perjalanan nonfiksi, beberapa bagian terasa dramatik dan sulit diverifikasi. Kisah-kisah tentang “jejak Islam” di museum atau tempat tertentu kadang disampaikan tanpa sumber yang jelas, sehingga memunculkan keraguan.

Dalam konteks literasi modern, ini menjadi penting, karena pembaca berhak mengetahui mana yang berbasis data, dan mana yang merupakan interpretasi personal.

Kelebihan dan Kekurangan

Pendekatan naratif yang cenderung dramatis juga menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membuat cerita lebih hidup. Namun di sisi lain, ia bisa terasa berlebihan, bahkan mengaburkan batas antara refleksi pribadi dan fakta sejarah. Di titik ini, buku ini kadang terasa lebih seperti novel inspiratif daripada catatan perjalanan yang sepenuhnya objektif.

Selain itu, sudut pandang yang digunakan dalam buku ini cukup kuat bahkan cenderung dominan. Perspektif keislaman menjadi lensa utama dalam melihat Eropa, yang sebenarnya sah-sah saja. Namun dalam beberapa bagian, pendekatan ini terasa kurang memberi ruang pada pandangan lain, terutama ketika membahas kelompok seperti ateis atau agnostik. Alih-alih dialog yang seimbang, narasi yang muncul terkadang terasa menghakimi.

Padahal, realitas sosial di Eropa jauh lebih kompleks. Isu tentang identitas, agama, dan imigrasi bukan hanya soal keyakinan, tetapi juga berkaitan dengan sejarah panjang, politik, dan dinamika sosial. Mengabaikan konteks ini membuat beberapa bagian buku terasa kurang “update” terhadap realitas yang berkembang.

Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa buku ini memiliki daya tarik tersendiri. Ia berhasil membangkitkan rasa ingin tahu tentang sejarah Islam di Eropa, sekaligus mengajak pembaca merefleksikan identitas diri di tengah perbedaan budaya. Buku ini bisa menjadi pintu awal untuk mengenal sejarah yang jarang dibahas dalam pendidikan formal.

Pada akhirnya, 99 Cahaya di Langit Eropa adalah buku yang menarik, tetapi perlu dibaca dengan sikap kritis. Ia bukan sekadar panduan sejarah, melainkan campuran antara perjalanan, keyakinan, dan interpretasi pribadi.

Mungkin, cara terbaik menikmati buku ini adalah dengan menempatkannya sebagai cerita perjalanan yang inspiratif, bukan sumber sejarah yang absolut. Karena seperti perjalanan itu sendiri, makna yang kita temukan sering kali bergantung pada cara kita melihatnya.

Identitas Buku

  • Judul: 99 Cahaya di Langit Eropa (Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa) 
  • Penulis: Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
  • Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 2011
  • ISBN: 978-979-22-7274
  • Tebal: 412 halaman
  • Genre: Novel, Perjalanan, Non-fiksi, Religi