Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film My Father's Shadow (IMDb)
Ryan Farizzal

Sinema sering kali menjadi mesin waktu yang paling ampuh untuk membawa kita kembali ke masa lalu, bukan sekadar untuk melihat sejarah besar, melainkan untuk merasakan denyut emosi manusia di dalamnya. My Father’s Shadow, sebuah film drama yang disutradarai oleh Akinola Davies Jr., adalah salah satu karya yang berhasil melakukan itu dengan sangat puitis. Film ini bukan sekadar narasi tentang keluarga, melainkan sebuah pengembaraan visual tentang ingatan, identitas, dan bayang-bayang seorang ayah di tengah gejolak politik.

Sinopsis: Perjalanan di Tengah Badai

Salah satu adegan di film My Father's Shadow (IMDb)

Berlatar belakang tahun 1993 di Lagos, Nigeria, My Father’s Shadow mengikuti perjalanan dua saudara laki-laki, Remi dan Akin. Masa itu bukanlah waktu yang biasa bagi Nigeria; negara tersebut sedang berada di ambang transformasi besar melalui pemilihan umum nasional yang menjanjikan peralihan dari pemerintahan militer ke demokrasi.

Kisah dimulai ketika kedua bocah ini tanpa diduga harus menemani ayah mereka, Folarin (diperankan dengan luar biasa oleh Sope Dirisu), pergi ke pusat kota Lagos. Tujuan sang ayah sederhana namun mendesak: menagih gaji yang sudah lama tidak dibayarkan. Akan tetapi, apa yang seharusnya menjadi perjalanan administratif biasa berubah menjadi road trip emosional yang membuka mata kedua anak tersebut terhadap realitas dunia orang dewasa dan kompleksitas sosok ayah mereka.

Naskah yang ditulis oleh Akinola Davies Jr. bersama saudaranya, Wale Davies, terasa sangat personal. Hal ini masuk akal mengingat cerita ini terinspirasi dari pengalaman masa kecil mereka sendiri. Film ini tidak mengikuti struktur linear yang konvensional atau penuh ledakan aksi, melainkan mengandalkan atmosfer dan observasi.

Di babak awal, aku disuguhi ketenangan pedesaan yang kontras dengan kekacauan urban di Lagos. Saat mereka semakin masuk ke jantung kota, ketegangan politik mulai merayap masuk ke dalam bingkai kamera. Di sana kulihat Lagos bukan sebagai kartu pos, melainkan sebagai organisme yang hidup, bising, dan kadang mengancam. Melalui mata Remi dan Akin, kita melihat perjuangan Folarin menjaga martabatnya di depan anak-anaknya sementara ia sendiri bergelut dengan sistem yang korup dan tidak adil.

Ulasan Film My Father's Shadow

Salah satu adegan di film My Father's Shadow (IMDb)

Sope Dirisu memberikan performa yang sangat bernuansa sebagai Folarin. Ia berhasil menampilkan dualitas seorang pria: di satu sisi sebagai figur otoritas yang penuh kasih dan ingin menurunkan kebijaksanaan kepada anak-anaknya, dan di sisi lain sebagai pria yang rentan, lelah, dan mungkin saja seorang revolusioner yang sedang dicari.

Tapi, bintang sebenarnya adalah kedua aktor muda yang memerankan Remi dan Akin. Kealamian mereka dalam bereaksi terhadap dunia di sekitar mereka memberikan kesan dokumenter yang kuat. Aku dan penonton yang lain diajak untuk merasakan kebingungan, kekaguman, sekaligus ketakutan yang mereka rasakan saat menyaksikan ayah mereka berinteraksi dengan dunia luar yang keras.

Secara visual, My Father’s Shadow adalah sebuah pencapaian yang memukau. Sinematografinya menggunakan palet warna yang hangat, hampir seperti foto-foto lama yang sedikit memudar (sepia dan emas), tapi tiba-tiba bisa berubah menjadi warna-warna technicolor yang berani saat adegan-adegan surealis muncul. Penggunaan elemen surealisme ini sangat cerdas.

Film ini tidak hanya bercerita tentang apa yang terjadi, tapi tentang bagaimana kejadian itu diingat. Ingatan anak-anak sering kali tidak akurat secara kronologis tapi sangat tajam secara emosional. Ada momen-momen di mana batas antara kenyataan dan memori menjadi kabur, menciptakan suasana yang menghantui sekaligus indah.

Film ini mengangkat beberapa tema sentral yang saling bertautan seperti maskulinitas, bagaimana seorang ayah di Afrika (atau di mana pun yang mengalami konflik) mencoba mendefinisikan perannya sebagai pelindung saat ia sendiri tidak berdaya di hadapan negara. Kemudian identitas bangsa, yang mencerminkan transisi Nigeria pada tahun 1993 digambarkan sebagai latar yang bukan hanya dekorasi, tapi juga cerminan dari ketidakpastian masa depan keluarga tersebut. Film ini menekankan bahwa untuk melangkah maju, seseorang harus mengingat. Bayang-bayang sang ayah (seperti judulnya) bisa menjadi beban, tapi juga bisa menjadi kompas bagi anak-anaknya di masa depan.

My Father’s Shadow adalah film yang lambat namun menghujam. Ia meminta kesabaranku untuk meresapi setiap momen kecil—sebuah percakapan di dalam mobil, tatapan mata yang letih, atau kerumunan massa di kejauhan. Ini adalah sebuah surat cinta untuk masa kecil dan sebuah penghormatan bagi mereka yang mencoba bertahan di tengah badai sejarah.

Buat kamu yang ingin menyaksikan karya emosional ini, berikut adalah informasi penayangannya di Indonesia. Yuk simak! Film My Father’s Shadow telah resmi tayang di bioskop Indonesia (khususnya jaringan CGV Cinemas) mulai 24 April 2026. Saat ini tersedia di beberapa kota besar seperti: Jakarta: CGV Grand Indonesia, Central Park, dan Pacific Place.Surabaya: CGV Marvell City. Bandung: CGV Paris Van Java. FYI: Kalau kamu melewatkan penayangannya di layar lebar, film ini sudah tersedia secara digital melalui Prime Video Indonesia. Pastikan untuk memeriksa ketersediaan wilayah karena lisensi streaming dapat berubah sewaktu-waktu.

Jangan lewatkan kesempatan untuk menonton salah satu film drama paling personal dan visual tahun ini. My Father’s Shadow adalah pengingat bahwa di balik setiap sejarah besar sebuah negara, ada ribuan cerita kecil keluarga yang tak kalah heroik.