Hikmawan Firdaus | M. Fuad S.T.
Gerbang masuk Pasar Padukuhan Eyang Putri, Merakurak, Tuban (dok. Pribadi)
M. Fuad S.T.

Perjalanan bersama keluarga kecil saya pada hari Ahad (24/5/2026) ke Pasar Padukuhan Eyang Putri di wilayah Kabupaten Tuban, membuat saya semakin yakin bahwa di tengah arus modernitas berskala global, ternyata tak sepenuhnya mampu mengalahkan nilai-nilai budaya dan estetika tradisional.

"Besok, bagaimana kalau kita coba datang ke Pasar Padukuhan?" tanya istri saya dalam percakapan sederhana kami pada Sabtu malam menjelang Isya. Saya tak segera menjawab, namun jemari saya menekan tombol-tombol keyboard laptop yang menyala di depan saya beberapa waktu lalu.

Saya melihat, berdasarkan jarak yang muncul di laman google maps, sejatinya jarak dari rumah ke titik tujuan yang dimaksud oleh istri tidaklah terlalu jauh. Hanya tertera angka sekitar 8 kilometer saja dari rumah kami. 

Mengingat jarak yang tak terlalu jauh dan kebersamaan dengan keluarga kecil yang tak selalu saya dapatkan setiap hari, saya akhirnya menjawab pertanyaan ajakan istri saya dengan jawaban setuju dan berjanji untuk mengajaknya berangkat esok pagi.

Perjalanan yang Melawan Arus Mobilitas Masyarakat

Salah satu sudut jalan yang harus dilewati sebelum sampai ke Pasar Padukuhan (dok. Pribadi)

Ahad pagi, kami pun berangkat. Dengan menggunakan sepeda motor, kami bertiga berangkat sekira pukul 6 pagi dari rumah. Uniknya, perjalanan yang kami lakukan hari itu terbilang melawan arus mobilitas masyarakat di hari Ahad pagi. Alih-alih mengiringi arus kebanyakan orang yang melaju ke pusat kota, kami bertiga justru melaju menjauhi pusat kota, menuju ke wilayah kecamatan yang berada di luar pusat kota.

Tak ada gedung-gedung perkantoran dan asap kendaraan berlebih yang kami temui dalam perjalanan itu. Justru, pemandangan persawahan menghijaulah yang menjadi penghias kiri-kanan lajuan motor kami.

Secara geografis, Pasar Padukuhan Eyang Putri ini terletak di area ladang dan persawahan dukuh Tara'an, Tegalrejo Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban. Untuk menuju ke sana, kita harus melewati kontur jalan yang cukup bervariatif, namun dengan pemandangan yang statis di warna hijau.

Selepas jalan beraspal mulus yang kami lalui saat motor melaju di daera pusat kota Tuban, kami disambut dengan jalanan beraspal kasar, jalanan berdasar bebatuan, hingga jalan sederhana yang membelah area persawahan. Bukan hiperbola, jalanan yang kami lalui literally benar-benar jalan yang membelah area tegal dan persawahan dengan ukuran yang tak terlalu lebar. Dalam perkiraan saya, jalan ini hanya cukup untuk dilalui satu mobil kecil saja.

Beruntungnya, hari itu kami membawa sepeda motor, sehingga tak begitu bermasalah ketika harus melahap jalan urugan berbatu karena bisa bermanuver dengan cepat dan sigap. 

Nuansa Tradisional yang Bukan Sekadar Konsep

Tempat penukaran "Gobog" alias mata uang lokal (dok. Pribadi)

Ketika pertama kali menjejakkan kaki di depan Pasar Padukuhan, saya langsung disuguhi dengan pintu gerbang dengan nuansa tradisional. Bahan baku utama pintu gerbang tersebut, terbuat dari batang bambu, kayu sebagai penguat dan dedaunan kering sebagai atap. Namun, hal itu tak lantas membuat rasa skeptis saya menghilang karena sejauh yang saya tahu, sudah banyak tempat pusat kuliner yang mengusung konsep tradisional seperti ini, namun tak benar-benar sepenuhnya membawa pengunjung ke kehidupan tradisional.

Namun, ketika saya melangkah lebih jauh lagi, rasa skeptis itu perlahan mulai menghilang. Dalam benak, saya mulai teryakinkan bahwa embel-embel "tradisional" ini mungkin bukan hanya sebuah branding, namun memang benar-benar sudah menjadi konsep yang matang.

Bagaimana tidak, ketika kaki kita melangkah, pertama kali yang akan menyambut kita adalah stand penukaran alat transaksi untuk dipakai di area pasar.

"Sebanyak apa pun uang kalian, di sini tak akan laku, wahai ki sanak! Cepat sini tukarkan dengan Gobog ini!" Meskipun tak disuarakan, namun saya yakin mas-mas dan mbak-mbak berbusana khas Jawa yang menunggu stand ini berkata demikian dalam hati mereka.

Sekadar menginformasikan, "Gobog" sendiri adalah uang koin yang dipergunakan untuk melakukan transaksi di era kerajaan Majapahit dulu. Namun bedanya, jika Gobog Majapahit dulu berbentuk koin dan terbuat dari logam, maka Gobog untuk transaksi di Pasar Padukuhan ini terbuat dari kayu yang diberi tanda pengesahan. Nominalnya pun berbeda-beda, mulai dari 1-10 gobog yang mana nilai tukar satu gobognya setara dengan dua ribu rupiah.

Setelah menukarkan uang rupiah dengan gobog, langkah kaki kami bertiga berlanjut mengarungi area pasar. Sejauh pandangan saya, Pasar Padukuhan ini dipenuhi dengan makanan, minuman serta jajanan serba tradisional. Bukan hanya makanan berat, namun juga makanan ringan khas embah-embah kita dulu seperti pohung rebus, kentang ireng (kentang jawa), blenduk jagung (di sini kami menyebutnya plendung), bisa kita temukan dengan jumlah yang melimpah.

Stand para penjual pun tak menggunakan meja konvensional seperti yang kita kenal selama ini. Para pedagang, baik makanan maupun minuman, semuanya menjajakan dagangannya di meja yang terbuat dari bambu dan kayu khas pasar-pasar tradisional Indonesia belasan tahun yang lalu. 

Untuk menambah tebal kesan tradisional, makanan-makanan tersebut, baik makanan berat maupun jajanan, semuanya disajikan dengan cara "dipincuk". Atau jika pembeli tak terbiasa makan "pincukan" dan ingin menikmati hidangan dengan menggunakan piring, para penjual juga menyediakan piring rotan yang dialasi dengan daun jati atau daun pisang. 

Pun demikian dengan minuman yang ditawarkan. Sejauh kaki kami bertiga melangkah, kami benar-benar tak menemukan minuman kemasan, apalagi sachetan. Hampir semua minuman di sana ditempatkan dalam tempayan kecil dan disajikan dengan mangkuk, yang mana sebagian di antaranya terbuat dari batok kelapa yang tentunya semakin menambah kesan "tempo doeloe" Pasar Padukuhan ini.

Untuk kesempatan kali ini, saya dan istri mencoba untuk mencicipi nasi uduk seharga 5 gobog, sementara si Bocil memilih untuk sarapan dengan lontong dan sate ayam seharga 6 gobog. Sementara untuk minuman, kami bertiga memilih untuk membeli es dawet tepung beras dan sagu, yang mana harga masing-masingnya adalah 3 gobog.

Selain suasana, makanan, minuman dan transaksi yang mengharuskan menggunakan mata uang lokal khusus pasar, satu hal lain yang membuat saya semakin merasakan nuansa tradisional di sini menguat adalah dress code yang dikenakan oleh para pengelola dan pelaku usaha di sini.

Bukan hanya mas-mas dan mbak-mbak penjaga stand penukaran Gobog di depan tadi namun juga para penjual makanan-minuman, tukang cuci peralatan makan, penjaga keamanan, penjaga parkiran, hingga bapak-bapak penunjuk jalan yang nyegat di persimpangan semuanya mengenakan pakaian tradisional khas Jawa.

Bagi saya pribadi, berada di area Pasar Padukuhan, seolah membawa saya kembali ke pasar era zaman dulu, karena konsep yang dikembangkan menurut saya sudah terbilang matang daripada pasar-pasar sejenis yang pernah saya datangi.

Keunggulan dan Kekurangan

Sebagian dari para penjual makanan di Pasar Padukuhan (dok. Pribadi)

Setelah kurang lebih empat jam menikmati suasana Pasar Padukuhan Eyang Putri ini, secara garis besar saya merekomendasikan tempat ini bagi teman-teman, terutama yang ingin mencoba berbagai macam menu makanan dan minuman tradisional yang sudah semakin jarang kita temukan saat ini.

Suasana yang dibangun pun cukup mendukung. Sepanjang yang saya lihat, di kompleks Pasar Padukuhan ini saya sama sekali tidak menemukan adanya bahan bangunan dari material modern seperti besi dan bata. Seperti yang saya singgung di atas, kesan tradisional terbangun kuat karena semua stand yang ada, gapura, arena permainan anak-anak, hingga tempat dan keranjang sampah yang disediakan oleh pihak pengelola, semuanya terbuat dari bambu dan bahan-bahan yang didapatkan langsung dari alam.

Bukan hanya itu, seperti yang sudah saya tuliskan, semua makanan dan minuman di Pasar Padukuhan ini disajikan dengan wadah yang sangat ramah lingkungan. Dan yang lebih membuat saya semakin berpikir konsep tradisional di Pasar Padukuhan ini sudah sangat matang adalah, saya sama sekali tak menemukan adanya penggunaan plastik selama menjelajahi area pasar. Itu artinya, selain benar-benar menjalankan jargon "Kembali ke Alam", Pasar Padukuhan Eyang Putri ini juga secara langsung menjalankan transaksi yang ramah alam.

Lantas, bagaimana jika kita ingin membeli makanan untuk dibawa pulang untuk dinikmati kemudian? Tenang saja, para penjual akan membungkusnya dengan daun jati, daun pisang, atau bahkan besek yang terbuat dari janur atau daun kelapa seperti yang saya alami ketika membeli beberapa jajanan untuk kami bawa pulang.

Tapi mohon maaf, bagi yang penasaran dengan rasanya, saya di sini tak bisa menyatakan makanan di Pasar Padukuhan ini enak atau tidak. Karena sudah pasti, standar enak dan tidak enaknya suatu makanan antara satu orang dengan yang lainnya akan berbeda. Bisa jadi, makanan yang enak menurut saya, belum tentu enak juga di lidah teman-teman pembaca. Pun demikian sebaliknya. Jadi, akan lebih valid jika teman-teman mencicipinya secara langsung di Pasar Padukuhan ini, ya! 

Namun, selain keunggulan melimpah seperti yang saya utarakan di atas, tentu ada beberapa hal yang masih perlu untuk dibenahi. Yang pertama adalah terkait tempat duduk pengunjung yang saya rasa masih kurang. Memang, pihak pengelola telah menyiapkan banyak tempat duduk yang tentunya terbuat dari bambu dan kayu. Namun jika pengunjung sedang membludak, terlebih ketika musim liburan, jumlah tempat duduk yang disediakan oleh pengelola sudah saya pastikan tak akan memadai.

Hal ini yang kami bertiga rasakan ketika mencari tempat duduk untuk menikmati sarapan yang kami beli. Beruntungnya, ada bebatuan di area pasar yang bisa kami pergunakan untuk duduk dan menikmati hidangan yang sempat kami bawa ke sana ke mari.

Selain tempat duduk, satu hal lain yang menurut saya masih perlu dibenahi adalah antisipasi terjadinya hujan. Dengan konsep pasar tradisional yang tentunya berbasis alam terbuka, pihak pengelola mungkin harus mulai berpikir untuk menyiapkan tempat evakuasi untuk para pengunjung dan pelaku kegiatan di sana ketika sewaktu-waktu hujan turun. 

Dan lagi, meskipun Pasar Padukuhan ini mengusung konsep tradisional, tak ada salahnya jika pihak pengelola lebih memperhatikan grounding area agar lebih "ramah" terhadap sendal atau sepatu pengunjung. Ketika kami berkunjung, tepat pada malam sebelumnya memang terjadi hujan yang cukup deras.

Meski demikian, hujan di malam hari sebelumnya membuat sendal yang kami pakai dan pengunjung lain menjadi berat karena banyaknya tanah yang menempel. Sedikit banyak, hal ini mengurangi kenyamanan kami untuk "muter-muter" menikmati suasana di sana.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya hanya berharap satu hal; semoga saja Pasar Padukuhan ini bisa terus bertahan dan berkembang. Pasalnya, sudah ada beberapa tempat serupa yang hanya bertahan "sak gebyaran" saja. Viral, banyak pengunjung dan setelah itu meredup, hingga akhirnya mati dan tak mampu hidup lagi.

Bagaimana? Penasaran dan ingin menikmati Pasar Padukuhan Eyang Putri di Merakurak yang seolah melawan arus modernisasi Kabupaten Tuban dengan mengedepankan sisi-sisi tradisionalnya ini? Silakan datang langsung dan saya jamin teman-teman akan merasakan vibes tradisional yang terkonsep dengan jelas.