Rendy Adrikni Sadikin | Andhika Rakhmanda
Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. (Foto. Instagram @brian.khrisna)
Andhika Rakhmanda

Saya membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna bukan karena sedang mencari buku tentang depresi. Bukan juga karena mengikuti buku yang sedang ramai. Saya membacanya karena istri saya.

Waktu itu kami baru pulang ke Indonesia dari Oman. Karena pekerjaan, saya lanjut berangkat ke Malaysia, sedangkan istri masih di Indonesia. Dalam salah satu percakapan, ketika istri bertanya, “gimana disana?” saya bercerita bahwa di tempat ini saya merasa dihargai. Entah kenapa kalimat itu terasa penting.

Pada momen itulah istri saya bercerita tentang buku yang baru ia beli dan baca: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Judulnya agak aneh. Mie ayam dan kematian, dua hal yang biasanya tidak duduk dalam satu kalimat. Yang satu hangat dan enak, yang satu dingin dan pilu. Tapi justru di situlah daya tariknya.

Akhirnya ketika saya pulang, buku itu saya bawa ke Malaysia. Saya baca pelan-pelan. Setelah selesai, saya merasa buku ini bukan hanya tentang seseorang yang ingin mati. Lebih dari itu, buku ini seperti cerita tentang seseorang yang sebenarnya masih ingin ditemukan. Oleh orang lain, oleh dunia, atau mungkin oleh dirinya sendiri.

"Novel ini bercerita tentang Ale, seorang penyintas depresi yang sedang berada di titik gelap hidupnya. Ia merasa tidak berharga, tidak dibutuhkan, dan tidak punya alasan lagi untuk bertahan. Kita mungkin tidak semua pernah sampai pada titik seperti Ale. Tapi saya kira, banyak dari kita pernah merasa kecil, tertinggal, atau tidak cukup berarti."

Yang menarik, buku ini mengajak pembaca melihat kembali hal-hal kecil. Seporsi mie ayam dalam cerita ini bukan hanya makanan. Ia seperti jeda. Dalam cerita ini, keinginan Ale yang sederhana untuk makan mie ayam justru tertunda karena penjualnya meninggal. Dari penundaan kecil itu, keputusan Ale untuk mengakhiri hidup juga ikut tertunda. Ia tidak mau makan mie ayam lain yang bukan dari penjual langganannya. Dari sana, cerita membawa Ale bertemu dengan sisi-sisi kehidupan yang selama ini mungkin tidak ia jangkau atau tidak sempat ia perhatikan. Aneh memang, tapi hidup kadang bekerja dengan cara seperti itu.  

Saya suka bagian itu. Sebab dalam hidup, kita sering diajari mencari alasan besar untuk bertahan. Harus punya visi besar, tujuan besar, pencapaian besar. Padahal sering kali, yang membuat kita tetap hidup justru hal-hal kecil. Pesan dari orang yang kita sayangi. Obrolan yang tidak penting-penting amat. Makanan sederhana. Atau perasaan bahwa kehadiran kita masih berarti bagi seseorang. 

Buku ini juga terasa dekat karena kisahnya terinspirasi dari wawancara dengan banyak penyintas depresi akut. Jadi meskipun berbentuk fiksi, ada kesungguhan di dalamnya. Penulis tampak berusaha memahami luka, bukan sekadar menjadikan kesedihan sebagai bahan cerita.

Meski begitu, saya punya catatan. Bagi saya, kelemahan yang cukup terasa adalah suara para tokohnya yang cenderung seragam. Dalam cerita ini, kita bertemu dengan banyak tokoh dari latar berbeda: office boy, tukang jualan layangan, pekerja seks, penjual kerupuk yang buta, mucikari, dan beberapa tokoh lain.

Mereka semua punya pesan. Mereka semua seperti datang membawa pelajaran hidup. Tentu saja, saya tidak sedang mengatakan bahwa orang-orang dari latar seperti itu tidak bisa bijak. Justru sering kali, orang yang hidupnya keras punya kebijaksanaan yang tidak dipelajari dari buku.

Masalahnya, cara mereka berbicara sering terasa terlalu mirip. Pilihan katanya hampir sama. Nada bijaknya hampir sama. Akibatnya, beberapa dialog terasa kurang alamiah. Seperti bukan tokohnya yang sedang berbicara, melainkan penulis yang sedang menitipkan pesan melalui tokoh-tokoh itu.

Padahal, kalau setiap tokoh diberi suara yang lebih khas, saya kira efeknya akan jauh lebih kuat. Tukang layangan tentu punya cara sendiri melihat hidup. Office boy punya cara sendiri. Penjual kerupuk yang buta juga pasti punya bahasa yang berbeda. Dalam buku ini, perbedaan itu belum terlalu terasa.

Namun, apakah itu membuat buku ini gagal? Menurut saya tidak. Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati tetap layak dibaca, terutama bagi kita yang belakangan ini sering merasa tertekan, lelah, atau tidak berharga. Buku ini mungkin tidak menyelesaikan masalah pembacanya, tetapi ia bisa menjadi teman duduk sebentar.

"Saya memberi buku ini nilai 3 dari 5."

Bukan buku yang sempurna, tetapi buku yang punya hati. Ia punya niat baik untuk memeluk pembaca yang sedang lelah. Pesannya sampai, meskipun kadang cara penyampaiannya terasa terlalu rapi dan terlalu terang.

Pada akhirnya, buku ini mengingatkan saya bahwa hidup tidak selalu diselamatkan oleh hal-hal besar. Kadang, hidup hanya meminta kita menunda sebentar. Duduk dulu. Menarik napas dulu.

Mie ayam dulu.

Setelah itu, baru kita pikirkan lagi besok mau bagaimana.

Rompin Pahang, 25 May 2026

Baca Juga